
Sekelebat cahaya merah melesat masuk ke dalam parkiran bawah tanah zombie hotel, Zizi yang melihatnya langsung melompat menghadang dan dengan gerakan yang sangat cepat seolah menghantam cahaya itu.
"Uhuk!"
Suara itu terdengar, dan tiba-tiba cahaya merah itu membentuk Naga dan pelahan menjadi sosok perempuan setengah baya.
"Dasar anak kurangajar!"
Nenek Bandapati mengusap-usap wajahnya yang kena tonjok Zizi.
"Waduh."
Maria tepok jidat.
Zizi yang kaget ternyata itu Nenek moyangnya tampak cekikikan tanpa rasa bersalah.
Tung!!
Nenek Bandapati kesal melihat Zizi malah cekikikan jadi memukul kepala sang cicit.
"Makanya Nek, kalau datang jalan kaki saja, kayak Nenek-nenek pada umumnya gitu lho Nek."
Ujar Zizi.
"Kamu pikir Nenek baru pulang dari Pasar minggu beli Pepaya buat kamu apa bagaimana?"
Kesal Nenek Bandapati.
Zizi akhirnya merangkul Nenek Bandapati.
Dibanding Zia yang masih ada takut-takutnya pada si Nenek, Zizi tidak begitu.
Dia tampak sangat dekat dengan Bandapati, bahkan macam bestie yang tak akan terpisahkan oleh badai gelombang apapun.
"Nenek dari mana sih? Mau Aunty Maria pijitin nggak?"
Tanya Zizi.
Haiiish... Maria mendesis.
Nawarin mijitin tapi aku dikorbankan. Batin Maria.
Bandapati melirik Maria, tangannya Maria yang kecil dan jarinya yang lentik-lentik sudah jelas tak akan enak untuk mijit.
Pandangan Nenek Bandapati beralih pada hantu gendut yang masih bertahan di sana karena mau pergi takut nanti dihajar Zizi dan Maria.
"Nah, itu saja yang bulat, tangannya pasti empuk buat mijit enak."
Kata Nenek.
Hantu mbak gendut terlihat pasrah.
"Mukanya tidak usah begitu, biasa saja itu dagunya tidak usah dibikin berlipat-lipat."
Kata Nenek Bandapati menunjuk dagu hantu mbak gendut dengan ujung tongkatnya.
"Nek itu lemak kali, kan dia gendut."
Kata Zizi.
"Ooh, kirain lagi ngeledek Nenek."
Ujar Nenek Bandapati yang apa-apa nyolot duluan.
"Aku dari Andromeda."
Ujar Nenek.
"Nah itu hantu mbak gendut dari Andromeda juga, dia pindahan Nek dari sana."
Kata Zizi.
Nenek Bandapati mengangguk.
"Nenek merasakan banyak sekali energi siluman masuk dunia manusia, kalau dibiarkan akan terjadi ketidak seimbangan."
Kata Nenek.
"Nenek kelayaban sampai sini, gerbang gaib siapa yang jagain?"
Plak!!
Nenek Bandapati menabok kepala Zizi.
"Aduh, tambah bolot salah Nenek lho."
Kata Zizi.
"Biarlah, kamu kan sebentar lagi juga menikah, tambah bolot juga itu si Tampir sudah menerimamu apa adanya."
"Vampir Nek, Tampir."
"Halah sama saja."
"Ya beda, tampir mah hewan."
Kata Zizi tak terima.
"Hewan mah Tapir."
Hantu mbak gendut nimbrung.
"Diam!"
Zizi dan Bandapati kompak.
Hantu mbak gendut jadi minder.
"Udah biarin, emang dua-duanya sama."
Ujar Maria sambil merangkul hantu mbak gendut.
Zizi mengajak Nenek Bandapati naik lift.
"Ngapain naik kotak begini."
Kata Nenek Bandapati.
"Hemat energi Nek."
Ujar Zizi.
"Halah, ini kalau lepas trus jatuh bisa mati."
Nenek Bandapati komen saat Zizi menekan nomor lima, di mana ia tadi sudah lebih dulu minta satu kamar untuk ia tempati malam ini.
"Nenek jatuh dari awan juga tidak akan mati, jangan lebay."
Plak!
Nenek Bandapati menabok Zizi lagi.
"Lebay gundulmu."
"Lah Nenek itu juga ngapain pura-pura jadi Vero?"
Tanya Zizi.
"Lha kamu sama Mamamu, bisa-bisanya tidak ada yang tahu kalau banyak penyusup masuk."
Zizi menghela nafas.
"Salah Nenek tidak bilang kalau paman Jaka Lengleng punya keturunan dari bangsa manusia."
Zizi balik mengomel.
Bandapati terdiam.
Ah benar juga cecunguk ini. Batin Nenek.
"Makanya Nek, kalau kasih informasi pada cucu, cicit, itu yang lengkap, jangan sepotong-sepotong."
Kata Zizi.
"Ya harusnya kalian aktif cari tahu."
Kesal Nenek Bandapati tak mau disalahkan.
"Huuu dasar orangtua semau sendiri."
Plak!!
Zizi jelas kena tampol lagi.
Lift berhenti dan Zizi keluar dari lift. Maria dan hantu mbak gendut juga melayang keluar menyusul Zizi.
Pintu lift menutup, saat Nenek Bandapati belum keluar.
Nenek Bandapati yang emosi menendang pintu lift hingga jebol.
Ngiung...
Ngiuung...
Ngiuuuung...
Zizi tepok jidat karena Lift hotel Papanya hancur.
Nenek Bandapati tersenyum jumawa, tak merasa bersalah merusak fasilitas hotel.
"Sudah nanti Papamu pasti benerin, duit dia banyak ini."
Kata Nenek.
"Tapi Papa kasihan, itu perusahaan Andromeda menjadi pesaing perusahaan Papa."
"Keturunan Jaka Lengleng, mereka memiliki misi yang berbeda."
"Siapa?"
"Kakak adik itu, sang kakak dan adiknya. Jaka Lengleng tampaknya terfokus pada sang adik, dia mengandalkan kemampuan pemuda itu yang bisa berkomunikasi dengan banyak siluman ular anak buah Jaka Lengleng."
"Apa yang mereka incar?"
Nenek Bandapati memandang Zizi.
"Jayapada."
Sahut Nenek Bandapati.
"Mereka menyusupkan banyak orang masuk ke Alpha adalah untuk mengambil Jayapada."
"Kenapa tidak langsung memburu Zizi saja kalau memang yang mereka incar Jayapada, Nek?"
Zizi terheran-heran.
"Mereka menunggu waktu yang tepat, Nenek tadi ke apartemen itu, di sana dijaga ratusan siluman ular."
Kata Nenek.
Dan hantu mbak gendut menganggukkan kepalanya tanda mengiyakan bahwa apa yang dikatakan Nenek Bandapati benar.
"Waktu yang tepat, kapan itu?"
Gumam Zizi yang kini mereka tampak sudah sampai di depan kamar paling ujung zombie hotel.
Zizi masuk ke dalam kamar, Maria melayang membuka tirai jendela kamar yang langsung menghadap ke arah Andromeda Apartement.
Zizi menatap apartemen itu, apartemen mewah yang berdiri megah dan angkuh di tengah kota Metropolitan itu kini tampak mulai diselimuti energi gelap yang mulai nyaris menelannya.
"Menunggu sampai Jayapada bisa mereka ambil tanpa harus berhadapan denganmu."
Kata Nenek Bandapati.
Zizi menoleh pada Nenek.
"Saat Zizi mati?"
Tanya Zizi.
Nenek Bandapati menggeleng.
"Pedang itu hanya mau berpindah jika ada energi yang ia kenali."
Kata Nenek.
Zizi menatap Nenek Bandapati, kali ini Zizi tampak mulai serius karena mulai membahas Jayapada.
"Salah satu pewaris Jaka Lengleng ada yang akan menikah bukan?"
Zizi mengangguk mengiyakan.
"Calon istrinya itu memiliki energi yang tak biasa, ia pernah berada di alam gaib puluhan tahun dan berhasil keluar hidup-hidup."
Ujar Nenek.
"Ia sudah menyerap banyak energi gaib, kelak, jika ia melahirkan anak dari keturunan Jaka Lengleng, maka anak yang lahir darinya akan memiliki kekuatan yang hampir sama denganmu."
"Kenapa?"
Zizi bertanya,
Nenek Bandapati matanya berkilat-kilat menatap Zizi.
"Kau juga lahir dari perempuan yang bangun dari kematiannya. Zia, dia tak sadarkan diri dan hidup dengan energi Pramastri dalam waktu yang lama. Ia harusnya mati dalam tragedi kecelakaannya, tapi ia berhasil tetap hidup. Manusia yang telah menyebrangi jembatan kematian, mereka memiliki energi yang tak sama lagi, ketika melahirkan anak, maka anak itu akan memiliki kekuatan yang tak biasa."
Tutur Nenek Bandapati.
"Bisa jadi, mereka menunggu sampai kau memiliki anak dan Jayapada terlepas darimu, jika anakmu tak sekuat anak yang akan lahir dari perempuan itu, maka Jayapada akan berpindah tangan."
"Tidak!! Tentu saja itu tidak boleh Nek!!"
Zizi cepat menjawab.
Plak!!
Nenek Bandapati menabok Zizi untuk kesekian kali...
"Itu sebabnya berhentilah bodoh, siapkan diri, bersihkan semua penyusup!!"
"Hentikan saja perjodohan mereka!!"
Kata Zizi.
Bandapati terkekeh.
"Percuma, perempuan itu sudah hamil."
"Haaaaaaaah!!"
Zizi terbelalak.
Maria geleng-geleng kepala di dekat jendela kaca kamar hotel.
"Ternyata Alex rajin menabung."
**---------------**