Zizi

Zizi
231. Pewaris Jayapada Berikutnya


Lima pemuda itu berjalan melewati kabut tipis yang berwarna kelabu, satu diantaranya membawa sebilah pedang dengan pegangan berbentuk Naga.


Pedang itu berkilau, mengeluarkan cahaya putih seperti perak.


Sementara itu, di sisi yang lain tampak empat orang lain berhadapan dengan mereka.


Di belakang ke empat muda-mudi di mana yang tiga laki-laki dan yang satu perempuan itu tampak seekor ular besar macam ular kobra yang memayungi mereka.


Ular itu berwarna hitam pekat, dengan kedua mata merah menyala.


Di belakang ular besar yang seperti ular Kobra tersebut tampak pasukan ular yang sangat banyak.


Dan...


Kelima pemuda itu melompat dengan cepat, yang membawa pedang mengangkat pedangnya ke atas dan membuat langit seketika bergemuruh.


Seekor Naga besar melayang, menyemburkan api ke arah pasukan ular.


"Hah..."


Zia tersengal-sengal, ia membuka matanya dan menatap Nyi Retnoasih yang tersenyum ke arah Zia.


Zia memegangi dada sebelah kirinya yang terasa berdenyut sangat cepat.


"Lima pemuda itu, Jayapada, bukankah pedang itu adalah Jayapada?"


Tanya Zia pada Nyi Retnoasih yang tampak mantuk-mantuk sambil tersenyum.


"Ap... Apakah mereka?"


Zia tak sanggup menyelesaikan kalimatnya, sungguh peperangan itu membuatnya gentar.


"Mereka adalah cucumu kelak Zia, keturunanku, keturunan Bandapati, pewaris Jayapada yang terlahir dari anakmu Zizi."


Ujar Nyi Retnoasih.


Zia yang kakinya terasa lemas langsung tangannya berusaha menggapai dinding kamarnya, ia berdiri berpegangan pada dinding.


"Lalu keempat anak muda itu? Jangan katakan jika mereka anak Na... dia."


Zia lemas sekali rasanya.


"Terima saja, ini sudah digariskan."


Tak kuasa mendengarnya, Zia pun ambruk ke lantai, ia menangisi nasib Nadia, menangisi kesalahannya yang dulu tak lantas membawa saja Nadia ke London.


"Semua salahku... semuanya salahku."


Zia menangis, menyesal dan sangat menyesal.


"Tak ada yang salah Zia, jalani saja, tak usah terlalu menyalahkan dirimu sendiri."


"Tapi jika aku merawatnya sendiri dengan tanganku, pasti dia tak akan sampai bisa dimanfaatkan para siluman ular itu."


Kata Zia.


Nyi Retnoasih terkekeh.


"Nadia sudah tertulis, sekalipun kau membawanya, dia akan tetap ditemukan."


Kata Nyi Retnoasih.


Zia tak mampu lagi menjawab apapun kata-kata Nyi Retnoasih.


Lidahnya sudah benar-benar kelu sekarang, ia sudah tak sanggup lagi berkata-kata tentang Nadia.


"Aku harus pergi Zia, jagalah diri baik-baik, sampai kelak cucu mu lahir, cucu yang akan menjadi pewaris Jayapada, maka sampai waktu itulah aku baru akan selesai bertapa."


Zia menatap nanar Nyi Retnoasih yang pelahan mengambang semakin tinggi, harum yang menyerbak dari sanggulnya yang berhias ronce melati itu semakin memenuhi ruangan kamar Zia.


Nyi Retnoasih tersenyum untuk terakhir kali pada Zia, melayang pelahan menuju jendela kamar Zia dan perlahan-lahan bayangan Nyi Retnoasih mulai memudar dari pandangan.


Zia menelungkupkan badannya di lantai, dan kembali menangis tersedu-sedu, mengingat saat pertama kali ia menyelamatkan Nadia dan mendapat pesan dari Ibu Nadia bahwa ia menitipkan Nadia pada dirinya.


"Maafkan aku Nirmala, maafkan aku...."


Rintih Zia begitu sedih.


**---------------**


Sekitar pukul sepuluh pagi, manakala Zizi melepas Mbak Wati dan pelayan yang tersisa, yang di mana mereka bukan siluman ular untuk pulang ke kampung halaman mereka lebih dulu.


Baik dari pihak Kakek maupun pihak Zion memang sudah memberikan keputusan agar Mbak Wati dan yang lain diberi waktu cuti sampai nanti Zizi menikah.


Setelah melepas Mbak Wati dan pelayan lain pulang dengan mengenakan mobil khusus dari Alpha Centauri yang dimana memang untuk mengantar pegawai, Zizi lantas mengajak Maria bersiap pulang sebentar ke Bogor.


"Bukannya kamu disuruh bertemu pihak EO?"


Tanya Maria.


"Udah lagi ketemuan."


Kata Zizi.


"Lah, siapa yang nemuin?"


Maria heran.


Zizi cekikikan.


"Sini Aunty, Zizi bisikin."


Kata Zizi meminta Maria mendekat.


Maria yang penasaran tentu saja langsung mendekat dan bersiap mendengarkan bisikan Zizi.


Zizi mendekatkan mulutnya ke telinga Maria, lalu...


"ODJEGEBDKAGWGAGSFWGE..."


Maria menoleh pada Zizi.


"Kamu ngomong apa sih?"


Zizi mengerutkan kening.


"Tidak dengar?"


Tanya Zizi.


Zizi mengulang mendekatkan mulutnya lagi ke arah Maria.


"Jdjydeheiaiwokwgehvaddakwlep."


Kata Zizi.


Maria lama-lama kesal langsung mendorong muka Zizi dengan telapak tangannya.


Zizi jadi terpingkal-pingkal.


Rasanya senang sekali bisa mengerjai Maria.


"Udah ah, ayuk Aunty kita pulang, tadi udah dibilangin Paman Dimas pertemuannya diundur lusa."


Kata Zizi.


Maria mendengus.


Dasar si petakilan ini kalau tidak bikin jantungan ya darah tinggi, herannya mau meninggalkannya berat rasa hatinya, sepertinya Maria sudah terpeleti oleh Zizi.


Zizi berjalan menuju parkiran di mana mobilnya berada di parkiran.


Sampai di mobil, tampak dua onggok kuntilanak sedang sibuk mencari kutu temannya di atas mobil Zizi.


"Heh... Mobil Zizi ituuuu...!"


Zizi jelas saja esmosi rasa coklat, bisa-bisanya mobil kesayangan Nona Zizi dipakai nyari kutu kuntilanak.


Mendengar suara Zizi yang menggelegar, duo kuntilanak itupun langsung melompat melarikan diri.


Saking gugupnya mereka sampai lupa bisa melayang.


Zizi kesal bukan main melihat dua kunti itu yang sampai kesandung kejedot berkali-kali.


"Zizi timpuk pake ban serep baru tahu."


Kata Zizi.


Maria cekikikan saja melihat anak asuhnya yang sebentar lagi akan menikah itu masih tidak anggun sama sekali.


"Kamu jangan gitu dong, mereka kan juga ikut berkontribusi melawan pasukan Paman Jaka Lengleng."


Kata Maria pada Zizi mengingatkan jasa para hantu, lelembut, demit dan segala macamnya.


"Ya kan jangan pake mobil Zizi buat duduk nyari kutu kali."


Kesal Zizi.


Zizi lantas membuka pintu mobilnya, dan segera masuk ke dalam.


Maria menembus pintu mobil yang satunya dan duduk di kursi dekat Zizi akan mengemudi.


"Zi."


Panggil Maria pada Zizi yang kini bersiap menyalakan mesin mobilnya.


"Menurutmu, ke mana Alex dan saudara-saudaranya bersembunyi?"


Tanya Maria.


Zizi menghela nafas,


"Mungkin kembali ke London, atau bisa jadi mereka tetap berada di sini tapi berpindah alam."


Kata Zizi.


"Jika seandainya suatu hari kita akan bertemu lagi dengan mereka, dan kamu harus berhadapan dengan Nadia bagaimana?"


Tanya Maria.


Zizi terdiam sejenak, ia menatap parkiran yang lenggang.


Lalu...


"Tergantung kami bertemu sebagai apa."


Ujar Zizi akhirnya.


"Ya bertemu sebagai musuh dong Zi, misal nanti Nadia akhirnya sudah benar-benar berdiri di pihak Alex, kau mau bagaimana?"


Zizi menghela nafas, dan...


"Membunuhnya, mau apa lagi?"


Zizi menyeringai.


Maria mantuk-mantuk.


"Sudah jelas kamu memang berbeda dengan Mamamu."


Kata Maria.


Zizi menyalakan mesin mobilnya.


"Ya sudah jelas aku dan Mama dua orang yang berbeda kan? Kalau Mama mungkin tak akan tega harus membunuh Nadia, tapi kalau Zizi tega saja, kenapa tidak tega? Kalau dia jahat ya bunuh saja."


Tukas Zizi enteng.


Dan mobil pun dibawanya melesat.


Maria menggelengkan kepalanya.


Sudah terbayang rasanya kelak akan seperti apa jika Zizi kembali bertemu Alex dan saudaranya.


Melihat bagaimana Zizi mengamuk semalam saja, Maria sudah bisa membayangkan jika Zizi memang akan sama sekali berbeda dengan orangtuanya ketika menangani satu masalah.


Zizi adalah fotokopi Bandapati sejati.


Tak ada kompromi, yang penting ngegas dulu, urusan lainnya belakangan menyusul.


Mobil melesat cepat, Maria yang hantu saja bahkan sampai pegangan takut tabrakan.


Tapi, Zizi cuek saja.


**------------**