
Zizi masuk ke dalam kamarnya, Maria melayang di belakangnya namun sedikit menjaga jarak.
Tak seperti sebelumnya yang seolah akan selalu menempel, Maria kali ini berusaha untuk tak sampai memancing masalah dengan siapa saja yang kini mulai menyatu dengan Zizi.
"Aunty, aku mau mandi."
Kata Zizi tanpa menoleh, lalu berjalan masuk ke dalam kamar mandi yang ada di kamarnya.
Maria melayang ke atas lemari, duduk di sana sembari menatap pintu kamar mandi yang ditutup Zizi dari dalam.
Tampak di dinding dekat jendela mbak pocong melongokkan kepalanya hanya sampai leher.
"Ngapain begitu?"
Tanya Maria.
Mbak Pocong nyengir menatap Maria yang duduk di atas lemari.
"Nona Zizi ke mana?"
Tanya Mbak pocong memantul, terlalu semangat mantul sampai kelewatan nembus pintu kamar.
Maria geleng-geleng kepala.
"Pocong pe'a."
Gumam Maria.
Mbak pocong melongok lagi, lalu akhirnya mengurangi kecepatan pantulannya.
"Aku habis ngobrol sama Zanuba."
"Ngobrol apa?"
"Aaah ini urusan anak muda."
Kata Mbak pocong.
"Jiaaah oon, Zanuba itu umurnya udah hampir seratus tahun."
Kata Maria.
"Ah dia masih balita."
Mbak pocong tak percaya.
"Dibilangin nggak percaya, umur bangsa jin kan 10 kali lipat dari manusia."
Kata Maria.
"Oh iya, aku dulu matematikaku jeblok."
Ujar mbak pocong.
"Kamu sekolah?"
Tanya Maria.
"Sekolah dong, aku dulu sekolah SR."
kata Mbak pocong.
"Kamu idup jaman Hindia Belanda juga?"
Tanya Maria.
Ah Maria baru sadar jika selama ini mereka tak pernah membicarakan masa lalu masing-masing, hingga tidak benar-benar saling mengenal satu sama lain.
"Ya jaman bangsa kamu menjajah bangsa aku yang tercinta."
Kata Mbak pocong.
"Haiiish."
Maria mendesis.
"Kami bangsa Belanda tak semuanya tahu jika kami ke Hindia Belanda dalam masa menjajah bangsa Indonesia, seperti aku dan keluargaku, kami datang ke sini untuk berdagang, kami memperkerjakan orang lokal di perkebunan dengan upah yang layak jaman itu."
Kata Maria.
"Ah tapi kan kalian menguasai kami."
Mbak pocong tetap tidak terima.
"Mentang-mentang mata kalian belo, kulit putih, hidung mancung, rambut pirang, kaki panjang, badan tinggi."
Kata Mbak pocong lagi malah baper.
Maria mengurut keningnya.
Apa banget kan itu mbak pocong, hadeeeeh...
"Trus..."
Maria menyuruh Mbak pocong meneruskan.
"Ya kalian itu datang ke sini buat menguasai wilayah nusantara, mengadu domba, lalu akhirnya menjajah, begitu lah."
"Ya itu kepentingan sebagian orang, tapi tak semuanya tahu jika kami datang sebagai penjajah. Lah aku dibantai tentara Nippon saja tal tahu salahku dan keluargaku apa."
Kata Maria.
"Kamu dibantai tentara apa?"
Mbak pocong bertanya.
"Nippon, tentara Nippon, tentara dari Jepang."
Kata Maria.
"Oooh Jepang, aku tidak mengalami masa itu, aku sudah isdet."
Kata Mbak pocong.
"Kenapa?"
Tanya Maria.
"Aku nyusulin pacarku yang gerilya, aku bawa nasi bungkus lauk ikan asin, sambal dan petai. Lalu tiba-tiba dihutan aku diseruduk Babi hutan, aku akhirnya isdet, aku dikubur entah oleh siapa di sana, lalu aku diajak penghuni wilayah kerajaan Dalu."
"Jiaaaah, kamu nggak cari pacarmu lagi?"
"Ya ngga bisa, lagian kalau aku cari pasti ketemu juga dia bakal lari ketakutan, trus tetep nyari perempuan lain."
Mbak pocong melo.
"Hahahaha..."
Tiba-tiba terdengar suara tertawa di dalam kamar mandi, suaranya nyaring.
"Apa itu Zi?"
Tanya Maria.
"Dia muncul di toilet, Zizi tarik aja, hahhahaha..."
Zizi lalu berjalan ke balkon lalu melempar kepala itu.
"Kenapa tiba-tiba ada kepala di toilet?"
Maria melayang turun dan bingung.
"Nggak tahu, kayaknya hantu baru karena kita pergi lama dari rumah."
"Hmm... Mama kamu kan ada."
"Kan ke Jepang sama kita."
Sahut Zizi.
"Oh iya bener."
Maria mantuk-mantuk.
**--------------**
Zombie hotel,
Seseorang menelfon ke resepsionis meminta tolong dan kemudian beberapa staf hotel langsung bergerak ke lantai empat.
Dimas yang hari belum pulang tampak ikut menuju lantai empat untuk memeriksa.
"Ada apa?"
Tanya Dimas pada salah satu staf.
"Ada yang menelfon meminta tolong Tuan Dimas."
Jawab salah satu staf dengan ID Card yang tergantung di lehernya.
Mereka naik lift langsung ke lantai empat, dan langsung bergegas menuju kamar dengan nomor yang disebutkan oleh penelpon pada resepsionis.
Kamar yang berada di dekat ruangan yang diisi satu set sofa itu letaknya agak ke ujung.
Lantai itu tampak sepi, tak ada tanda-tanda sesuatu terjadi atau baru saja terjadi.
Dimas berdiri di depan pintu kamar hotel tamu yang menelfon tadi.
Sejenak Dimas mengetuk pintunya, memastikan seseorang di dalam bersuara atau semacamnya.
Sepi.
Hening.
Dimas menoleh pada beberapa staf hotel yang naik ke lantai empat bersamanya dan kini berdiri diam di tempat mereka masing-masing.
Dimas memberikan isyarat untuk mendobrak saja. Mereka pun akhirnya mengangguk.
Saat mereka bersiap akan mendobrak pintu tersebut, tiba-tiba pintu kamar tersebut terbuka sendiri dengan keras seolah dibanting.
Dimas yang berdiri paling dekat dengan pintu saat pintu itu terbuka tiba-tiba terpental seolah ditabrak sesuatu.
Para staf membantu Dimas berdiri.
Setelah Dimas berdiri, tampak orang kepercayaan nomor satu di Alpha Centauri itu langsung masuk ke dalam kamar yang pintunya terbuka sendiri itu.
Dimas seolah tak mencerminkan rasa takut, membuat para staf hotel yang semula akan lari jadi tak enak jika tak mengikuti Dimas.
Beberapa staf hotel terlihat melongok dengan langkah tertahan di ambang pintu, mengawasi Dimas yang memeriksa kamar kosong tampa ada siapapun di sana.
Dimas menengok para staf hotel yang takut.
"Tak ada siapapun di sini."
Kata Dimas pada mereka.
Para staf hotel itupun masuk ke dalam menyusul Dimas, celingak-celinguk bingung karena benar di sana tak ada siapapun.
"Kamar ini sepertinya juga tak ada yang menginap."
Kata Dimas.
"Tapi pintu tadi terbuka sendiri, siapa yang membuka..."
Salah satu staf hotel bergidik menunjuk pintu, dan saat menunjuk tiba-tiba pintu itu dibanting lagi dengan keras.
Brakkk!!
Semua jadi nyaris melompat saking kagetnya.
"Ada yang tidak beres."
Kata Dimas.
Trrrtttt... trrrttt...
Salah satu staf mendapat panggilan.
Resepsionis menelfon.
Staf itu mengangkat telfon dari meja resepsionis.
"Ada apa?"
Tanya staf itu.
"Ada yang minta tolong lagi, kamar 1167, lantai lima."
Kata resepsionis.
"Coba periksa dulu, kamar itu benar ada tamunya tidak!!"
Kata staf yang ditelfon.
"Ini kamar yang katanya menelfon tak ada siapa-siapa!!"
Bentaknya lagi.
Dimas mendekati staf tersebut lalu mengambil alih hp nya.
"Biar aku yang bicara."
Kata Dimas.
**-------------**