Zizi

Zizi
120. Menjenguk Arya


Dave akhirnya keluar dari ruang kerja Zion bersama Zion pastinya.


Mereka kemudian turun dari lantai dua dan tampak Mbak Ning serta Lesti tengah menyiapkan makanan untuk suguhan santap malam Ali dan juga pastinya Zion sekeluarga.


Dave memberi salam pada Mbak Ning untuk pamit.


"Bang Dave, Umi masih di rumah Bang Dave kan?"


Tanya Mbak Ning menanyakan mertuanya.


Bang Dave mengangguk.


"Ya Mbak Ning, Kanaya masih saja manja pada Umi, selalu merepotkan beliau."


Kata Dave.


Zia yang terlihat muncul dari dapur membawa segelas jus alpukat untuk dirinya sendiri menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Bang Dave jangan bicara begitu, Kanaya itu bukan manja, memang perempuan kalau punya Ibu trus dia punya anak kecil ya di mana-mana akan begitu."


Kata Zia.


Tampak Zia duduk di salah satu kursi ruang makan, lalu menyeruput jus alpukatnya.


"Coba kalau aku punya Ibu, pasti juga akan melakukan hal yang sama."


Lirih Zia.


Zion yang mendengar jadi menatap sang isteri.


Ah ya, nyatanya Zia adalah yatim piatu sejak kecil, sama sebagaimana Zion juga. Hanya saja Zion lebih beruntung karena masih memiliki Kakek Ardi Subrata, dan juga tentu saja semua fasilitas yang sangat luar biasa, termasuk juga orang-orang yang mengabdi pada Alpha Centauri yang begitu loyal dan begitu peduli dengan Zion, termasuk Paman Salim, Dimas, Joni, Dave, Agung, Pandu, Bagas, dan masih banyak lainnya.


Sementara Zia...


Ah Zia juga untungnya memiliki keluarga Umi yang benar-benar menyayangi Zia dengan tulus.


Meski tetap saja, Zia tak bisa bermanja sepenuhnya sebagaimana kepada Ibunya sendiri.


Dave terlihat mengangguk sambil tersenyum tak enak jadinya mendengar apa yang dikatakan Zia.


Rasanya ia jadi seperti mengeluhkan isterinya, padahal hal itu bukanlah sesuatu yang patut dikeluhkan.


"Saya mau titip buat Umi ya Bang Dave, sebentar."


Kata Mbak Ning.


Dave yang merupakan adik ipar dari suami Mbak Ning, yang otomatis juga adik ipar Mbak Ning juga tampak mengangguk.


"Bang Dave tidak sekalian makan malam di sini saja?"


Tanya Zia kemudian.


"Dave harus ke Zombie hotel untuk menggantikan Joni di sana."


Zion yang menjawab.


Dan belum lagi Zion meneruskan kalimatnya, tiba-tiba hp nya ada panggilan masuk.


Dari Dimas.


Zion pun segera mengangkatnya.


"Ya Dim, bagaimana?"


Zion cepat ingin memastikan kondisi terkini dari kasus Dewi.


"Tuan, maaf, Arya terluka parah, kepalanya dibenturkan ke pohon, dia saat ini koma, ambulance Alpha hospital sedang menuju ke tempat kami."


Kata Dimas memberikan kabar.


"Hah, apa?"


Zion kaget luar biasa.


"Ada apa Pa?"


Zia berdiri dari duduknya, semua melihat ke arah Zion dengan panik.


"Arya, dia terluka parah kata Dimas."


Ujar Zion lirih.


**-------------**


Ngiung ngiung ngiung...


(Bukan ngeong ngeong...)


Suara sirine ambulance terdengar mendekat.


Hantu Dewi yang ada di dalam kamar kosnya sambil melayang mondar-mandir terlihat melongok dari jendela.


Ambulance Alpha hospital, pasti itu akan menjemput Arya, anak angkat Tuan Zion.


Dewi melayang keluar, dipastikannya hantu perempuan itu tak ada di sana.


Dewi mengikut ambulance dan kemudian masuk ke dalam ambulance lewat pintu belakangnya.


Orang-orang yang tinggal di sana, termasuk juga penghuni kos yang sama dengan Dewi heboh keluar begitu ada ambulance masuk ke wilayah mereka.


Apalagi begitu ambulance itu berhenti di dekat tikungan yang di mana di sana ada jalanan sempit menuju tanah kosong yang bersebelahan dengan pemakaman warga.


Petugas medis dari Alpha hospital turun dari ambulance begitu mobil putih dengan sirine khas itu berhenti.


"Ada apa?"


"Sebetulnya ada apa?"


Kasak kusuk ramai orang bicara dan bertanya-tanya.


Dewi pindah ke kursi dekat supir ambulance yang siap menunggu korban dibawa petugas lain.


Temukan mayatku juga? Apakah kalian tak bisa berjalan sedikit jauh lagi?


Di sana... Ku mohon. Dewi meratap.


Tak lama Arya terlihat dibawa para petugas medis menuju ambulance, diringi Dimas yang sibuk bicara terus lewat hp nya.


Arya dimasukkan ke dalam ambulance.


Mobil ambulance melaju, Dewi memutuskan ikut mereka ke Alpha hospital, berharap nanti Zia dan Zion kembali datang, tanpa hantu bar bar None Belanda lagi pastinya.


Buat Dewi, hantu itu sangat menakutkan.


Ah tidak!


Buat Dewi, semua hantu menakutkan. Apalagi hantu perempuan itu.


(Ya tapi kan kamu juga hantu keles)


Ambulance terus melaju kencang menuju Alpha hospital.


Sementara Zion sendiri langsung meminta pada pihak Rumah Sakit untuk segera memberikan penanganan terbaik untuk Arya.


Semua petugas di Rumah Sakit pun langsung bersiap menjalankan perintah Tuan Besar.


Rumah Sakit heboh karena akan kedatangan pasien keluarga pemilik Alpha.


Sampai kemudian Ambulance sampai di Rumah Sakit, Arya pun segera disambut tenaga medis dan langsung segera mendapatkan penanganan khusus.


Dewi melayang keluar dari Ambulance, ia semula akan mengikuti Dimas masuk ke dalam Rumah Sakit, tapi di dalam sana ternyata banyak sekali hantu.


Dewi yang masih takut melihat hantu-hantu dengan bentuk yang seram, akhirnya memilih tetap di luar saja


Ia duduk di meja tempat satpam, menunggu jika nanti Tuan Zion datang berkunjung.


Di rumah Zion terlihat terburu-buru keluar dari rumah bersama Zia dan Dave.


Sementara Zizi yang juga diberitahu soal kondisi Arya yang dilarikan ke Rumah Sakit akhirnya juga ikut ke sana.


"Kami akan pakai mobil lain Pa."


Kata Zizi.


Zion menganggukkan kepalanya.


Zion dan Zia memakai mobil yang kemudian dikemudikan Dave.


Sementara Zizi dan Ali, dikemudian Shane.


Dua mobil pengawal lain mengawal depan dan belakang.


Mereka menuju Rumah Sakit.


"Aunty ke mana? Tidak ikut dia?"


Zizi celingak-celinguk.


"Dia di tempat Zanuba, Nona."


Ujar Shane.


Zizi mengangguk mengerti.


Mobil meluncur mendahului rombongan mobil Zia dan Zion serta para pengawal.


Kecepatan mobil yang dibawa seorang vampire jelas di atas rata-rata.


"Keren emang Kak Shane ini."


Ali mengacungkan dua ibu jarinya pada Shane.


Shane yang dipuji hanya tersenyum kalem saja, dan yang cengar-cengir malah Zizi.


"Jalanan di depan macet, kita lewat alam lain."


Kata Shane, yang langsung mengambil arah yang di mata manusia biasa tak ada jalan di sana.


Mobil meluncur cepat dijalanan yang sepi.


Ali sampai dibuat ternganga, manakala ia melihat kanan kiri jalan yang mereka lewati adalah hutan belantara yang dipenuhi pohon-pohon besar dan rindang.


"Jalan apa ini?"


"Jalan sesat menyesatkan, jangan dicoba kalau tak tahu arah menuju pulang."


Sahut Zizi.


"Lah itu jawaban apa kata mutiara."


Kata Ali.


Shane menambah kecepatannya.


Jalanan lelembut sangat sepi, ada satu dua mobil saja yang lewat.


Ali melihat keluar dari kaca jendela mobil, tepat saat seonggok wajah perempuan juga menempel di luar kaca jendela di mana Ali melongok.


"Ganteeeeng..."


Sapa si sosok itu.


"Jiaaaah..."


Ali mundur beberapa senti.


Zizi terpingkal melihat Ali kaget begitu.


"Kamu kok jadi penakut Ali?"


Tanya Zizi di sela tawanya.


"Bukan takut Kak, aku sering dibuat kaget mereka. Tadinya kan aku tak bisa lihat bentuk mereka dengan jelas, hanya merasakan energi saja, jadi tak terlalu mengagetkan jika muncul tiba-tiba."


Tutur Ali.


"Mulai biasakan diri Ali, kadang ada kepala yang tiba-tiba jatuh di pangkuan."


Kata Zizi.


"Hah?"


Ali melongo.


**--------------**