Zizi

Zizi
137. Cewek VS Cowok


Salju turun lebat malam ini, jalanan kota London terlihat sepi.


Manusia memilih tinggal di dalam rumah, begitupun dengan Nancy dan Shane.


Nancy tampak sibuk merajut di depan perapian, ia tiba-tiba ingin membuatkan syal untuk Zizi.


Lama sudah ia tak bertemu dengan Nona nya.


Ah Nona...


Gadis kecil itu telah tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik.


Nancy terlihat tersenyum sendirian, manakala semua kenangan saat Zion sekeluarga masih tinggal di sana.


Dalam bayangan Nancy, Zizi yang pipinya tembem terlihat berlarian mengejar Shane.


"Kak Seeeng... Kak Seeeng..."


Zizi kecil memang selalu mengikuti Shane ke manapun Shane pergi.


Ia sangat menyukai Shane meskipun shane selalu bersikap datar dan cuek.


Ya, saat itu mereka masih sama-sama kanak-kanak.


Shane yang baru kembali dalam keadaannya yang telah berubah tak seutuhnya jadi manusia, membuat Shane memang untuk sekian lama berusaha menghindari siapapun termasuk Zizi.


Tentu saja, bukan hanya masalah Shane tak percaya diri karena ia berbeda, namun juga karena Shane merasa bahwa ia takut akan melukai manusia.


Aroma darah yang selalu membuatnya haus nyatanya seringkali membuat Shane merasa tak kuat untuk menahan diri.


Lama sekali Shane berusaha menahan dan membiasakan diri hidup di tengah manusia tanpa menginginkan darah mereka.


Nancy masih terus merajut, harapannya tentu saja syal itu akan ia pakaikan kepada Zizi.


Sementara itu, Shane sendiri duduk di lantai dua rumah Zion.


Tempat di mana dulu pernah terjadi pertarungan Zion dan Zizi melawan Loeis.


Shane berdiri di balik kaca jendela besar di lantai rumah itu, menatap salju yang turun lebat di luar sana hingga mulai menutupi jalanan seluruhnya.


Shane sudah mendapat puluhan panggilan dari Zizi namun belum ia jawab, chat pun menumpuk seperti hampir lima menit sekali.


Melihat Zizi yang begitu panik ditinggalkan Shane, membuat Shane sebetulnya malah jadi takut untuk melaksanakan niatnya.


Shane sengaja tak menjawab panggilan Zizi maupun chat Zizi.


Bukan...


Bukan karena Shane tak lagi peduli, tapi Shane benar-benar tak ingin semakin lemah manakala mendengar suara Zizi.


Salju terus turun sepanjang malam, dan Shane terus mengawasi jalanan yang sepi.


Harapannya bisa melihat satu Lycan muncul malam ini nyatanya seperti harus sia-sia.


Ya, mungkin benar kata Ibunya, jika banyak Lycan memutuskan pergi masuk ke dalam gua-gua di hutan yang jarang terjamah manusia.


Mereka bersembunyi di sana, dan bertahan hidup di sana.


Shane meletakkan telapak tangannya di kaca jendela, pantulan bayangan dirinya terlihat samar di kaca jendela tersebut.


Tiba-tiba saja kenangan saat ia dan Zizi masih sama-sama kecil ikut hadir di pelupuk mata,


"Kak Seng... kak Seng kenapa selalu cemberut kalau Zizi deket-deket, apa Kak Seng membenci Zizi?"


Tanya Zizi saat pulang sekolah.


Shane hanya diam saja, tak menoleh pada Zizi yang berjalan di sampingnya dan terus saja bertanya ini itu.


"Memangnya Zizi kenapa? Kak Seng benci Zizi karena apa?"


Tanya Zizi lagi.


Shane tiba-tiba menghentikkan langkahnya.


"Kenapa kau begitu cerewet jadi bocah, apa kamu tidak capek selalu bicara?"


Tanya Shane.


Zizi terlihat pipi tembemnya yang putih langsung memerah.


Matanya yang bulat menatap Shane seketika terlihat berkaca-kaca, dan itulah kali pertama Shane merasa takut Zizi menangis.


Shane akhirnya mengusap ubun-ubun kepala Zizi.


"Jangan banyak tanya lagi, aku tidak membencimu."


Ujar Shane kemudian, lalu menarik tangannya dari atas kepala Zizi.


Shane lalu bergegas melanjutkan langkahnya setelah bicara pada Zizi.


Zizi yang senang mendengar Shane tak membencinya langsung melompat-lompat seperti Pikachu.


Namun karena saking semangatnya lompat-lompat Zizi akhirnya keseleo.


Zizi jatuh sebelum keluar dari gerbang sekolah mereka, membuat beberapa teman jadi meledeknya.


"Ada labu jatuh."


"Ada labu jatuh."


Bahkan yang meledek Zizi juga bukan hanya teman manusia, namun juga para hantu penunggu sekolah.


Shane yang tak tega melihat Zizi kecil kesulitan berdiri karena kakinya keseleo, akhirnya membantu Zizi.


Shane berjongkok di depan Zizi dan menyuruh Zizi naik ke punggungnya.


"Kenapa kak Seng malah ngajak main kuda-kudaan?"


Tanya Zizi.


"Haduuh, ayo naik saja, biar aku gendong sampai depan gerbang, Paman Joni pasti sudah menunggu, cepatlah."


Kata Shane pada Zizi.


Begitu Zizi sudah naik ke atas punggungnya, barulah kemudian Shane berdiri, Shane menggendong Zizi berjalan menuju gerbang, semua anak melihat keduanya, tak sedikit yang jadi menggoda.


"Apa Zizi berat?"


Tanya Zizi karena Shane berjalan pelan.


"Ya, sangat."


Ujar Shane.


Zizi manyun.


"Kalau begitu turunkan saja Zizi di sini."


Kata Zizi.


Shane tak peduli, tak menyahut, hanya tersenyum diam-diam.


Sejak hari itu hubungan Shane dan Zizi pun tanpa terasa jadi semakin dekat.


Shane yang semula terlihat kaku mulai mau tersenyum bahkan tertawa jika diajak Zizi bercanda.


Entahlah, tapi mungkin Shane merasa mulai bersalah jika terus bersikap dingin pada Zizi, sementara selama ini Zizi sebetulnya hanya ingin dekat saja dengan Shane.


Flashback berakhir.


**---------------**


Zizi baru selesai makan malam bersama Ali saja, karena Mama dan Papanya pergi ke Kemang dipanggil Kakek Ardi Subrata.


Maria melayang dari lantai dua, ia baru pulang keluyuran dan langsung menuju ruang makan di mana acara makan Zizi dan Ali selesai.


"Yaaaah ketinggalan nih."


Kata Maria.


"Salahnya, memang Aunty habis dari mana sih?"


Tanya Zizi.


Maria melayang ke dekat Zizi lalu duduk di sampingnya.


Ditatapnya meja ruang makan yang terlihat berserakan menu makan malam yang hampir semuanya berlemak.


"Ini pasti request Tuan Muda Ali."


Kata Maria yang tahu jika Ali memang lumayan suka makanan berlemak.




Tampak Ali tersenyum.


"Aromanya masih lumayan enak, untung sih belum telat-telat banget."


Ujar Maria.


Zizi meneguk air putihnya sampai habis, lalu membersihkan bibirnya dengan tissue.


"Aunty baru pamitan dengan hantu-hantu satu komplek?"


Tanya Zizi.


Maria mantuk-mantuk.


"Kayak mau pergi lama saja semua dipamiti."


Kata Zizi.


"Haiish anak ini, memangnya kamu pergi ngga suka pamit sama Mamamu, kasihan dia bolak balik kambuh darah tingginya."


Kata Maria.


Zizi nyengir.


"Tapi tadi udah pamit kok mau ke Kuala Lumpur lusa."


Kata Zizi.


"Ali harus balik ke Kuala Lumpur, Zizi akan ikut."


Tambahnya.


Maria memandang ke arah Ali yang tampak mengangguk sambil tersenyum.


"Sekalian mencari tahu soal mahluk yang ngikutin Tuan Muda Ali?"


Tanya Maria.


Zizi mengangguk.


"Kalian hanya akan bergerak berdua saja?"


Tanya Maria lagi.


Zizi dan Ali mengangguk bersama.


"Apa tidak berbahaya?"


Tanya Maria tak juga selesai sudah macam wartawan.


Zizi menghela nafas.


"Lebih berbahaya mana? Yang harus Zizi hadapi, atau yang harus dihadapi Kak Seng? Sampai detik ini Kak Seng sama sekali tak mengangkat telfon Zizi, tak membalas chat Zizi, padahal Zizi cuma mau bilang kalau Zizi akan menunggunya."


Ujar Zizi membuat Maria tersenyum miris.


**------------**