
Shane keluar dari tempat ia istirahat selama masa pemulihan, tampak koridor kastil milik Marthinus kini sepi.
Ia berjalan pelahan menjauhi pintu ruangan, mencoba mencari sosok Marthinus yang kini entah berada di mana.
Hari telah beranjak menuju siang, Shane merasa bahwa jika memang ia harus pulang hari ini, maka seharusnya sekaranglah mereka berangkat dari kastil.
"Paman... Paman Marthinus..."
Shane memanggil Marthinus sambil mencari sosoknya dari satu ruangan ke ruangan yang lain, hingga kemudian dari ruangan yang berada paling ujung, muncul Katerina yang kemudian berdiri menatap Shane yang mendekat.
"Katerina, apa kau melihat Paman Marthinus?"
Tanya Shane.
"Dia pergi ke bukit sebentar, kau disuruh menunggunya, paling sebentar lagi ia akan kembali."
Kata Katerina.
Shane mengangguk.
"Baiklah."
Sahut Shane.
Shane baru akan berbalik untuk kembali ke ruangannya, saat kemudian Katerina memanggilnya.
"Shane."
Suara Katerina memaksa Shane menghentikan langkahnya, dan akhirnya kembali menghadap ke arah Katerina berada.
"Ada apa Katerina?"
Tanya Shane.
Katerina berjalan mendekat ke arah Shane, menatap kedua bola mata Shane yang berwarna coklat.
"Tak bisakah kau tetap tinggal saja di sini?"
Tanya Katerina lirih.
Tatapannya terlihat sayu seolah ia begitu sedih membayangkan Shane sebentar lagi tak akan lagi ada di sana bersamanya.
"Maaf Katerina, aku harus pulang, meski sebetulnya aku masih ingin pergi ke kastil Rosalia Ruthven, tapi jika itu nantinya hanya akan membahayakan manusia, lebih baik aku tak usah melakukannya."
Katerina menggeleng.
"Bukan itu Shane, bukan soal Rosalia Ruthven, bukan soal niatmu untuk menemukan obat penawar Vampire milik Ruthven."
Kata Katerina.
Shane mengerutkan kening.
"Lalu, soal apa Katerina?"
Tanya Shane.
Katerina terdiam sejenak, lalu...
"Aku..."
Katerina menatap Shane lekat-lekat, membuat Shane bingung dengan sikap Katerina yang menurutnya sekarang begitu aneh.
"Shane... Aku rasa, aku jatuh cinta padamu."
Kata Katerina.
Mendengar kata-kata Katerina tersebut, sontak membuat Shane terdiam.
Shane bingung harus bereaksi apa dan menjawab apa.
"Selama ini aku sendirian dan mungkin hingga ratusan tahun yang akan datang pun aku akan tetap sendirian."
Katerina mengatakannya dengan wajah yang kini tertunduk, matanya tak lagi berani menatap Shane, mata itu seperti tengah berusaha bersembunyi agar tak ketahuan hampir menitikkan air mata.
Shane menatap Katerina dengan iba.
Shane sudah mendengar kisah sedih dan pilu Katerina tentang dirinya dan juga kekasihnya.
Tapi...
"Katerina, aku..."
"Tak perlu sekarang Shane, tak perlu sekarang kau mencintai aku juga, aku bisa menunggu, asal kau jangan pergi."
Katerina yang seolah tak mau mendengar kalimat apapun dari Shane langsung memotong Shane yang baru akan bicara.
"Ku mohon, tinggalah di sini, kita yang satu nasib, kita yang berada di garis takdir yang sama, itu tentu akan memudahkan kita untuk bisa lebih saling mengerti Shane. Dan..."
"Sudah kubilang cukup Katerina."
Tiba-tiba dari arah belakang Vampire cantik itu, muncul Paman Marthinus yang baru kembali dari bukit.
Shane dan Katerina menatap Paman Marthinus yang kini berjalan menghampiri keduanya.
Jubah hitamnya tampak berkibar-kibar, layaknya spanduk tukang cukur yang kiosnya ada di pinggir jalan raya.
"Paman..."
Katerina wajahnya tampak memelas, seolah berharap Paman Marthinus memahami dirinya.
Tapi...
"Shane, ayo kita berangkat sekarang."
Kata Paman Marthinus yang mengabaikan ekspresi Katerina.
Shane mengangguk.
"Paman, ini tidak adil!"
Katerina nyaris menjerit karena dadanya terasa begitu sesak.
Marthinus menatap Katerina.
"Sudah kubilang sejak awal, berhentilah mengharapkan Shane."
Katerina melesat pergi menjauhi Shane dan Marthinus.
"Sudah, abaikan saja, kita berangkat sekarang Shane."
Ujar Paman Marthinus.
Namun Shane yang pada dasarnya hatinya sangat lembut seperti margarin itu kemudian menggeleng.
"Biar aku bicara sebentar dengan Katerina, Paman."
Kata Shane lirih.
Paman Marthinus menatap Shane.
"Beri aku waktu sebentar saja Paman."
Pinta Shane lagi.
Paman Marthinus akhirnya mengangguk.
"Baiklah Shane, lima belas menit, selesaikan semuanya dan kita pergi."
Putus Paman Marthinus.
Shane mengangguk.
Shane lantas melesat menyusul Katerina yang masuk ke sebuah ruangan yang tadi pertama ia muncul di sana.
Katerina menangis di dekat perapian, Vampire cantik itu begitu pedih memikirkan nasibnya.
"Katerina."
Shane mendekat, di sentuhnya bahu Katerina dari arah belakang Vampire cantik itu.
Bahu itu tampak semakin berguncang, manakala Shane berdiri di dekatnya.
"Aku hutang nyawa padamu, aku tak akan pernah melupakan itu Katerina."
Kata Shane.
"Mungkin, ucapan terimakasih saja sebetulnya tak cukup untukmu Katerina, tapi sungguh aku akan melakukan apapun, asalkan selain aku harus tinggal."
Lirih Shane.
Katerina masih terlihat menangis dengan posisi membelakangi Shane.
Vampire cantik itu seolah enggan menoleh ke arah Shane.
"Kau pasti tahu, bagaimana rasanya ketika laki-laki yang kau cintai akhirnya memilih seseorang yang sama manusia dengannya, mengabaikan keberadaanmu yang sebelumnya menerimanya apa adanya."
Katerina yang mendengar setiap kata dari Shane semakin larut dalam tangisannya.
"Zizi, dia telah menerimaku sejak kecil, dia tak pernah menganggapku berbeda, untuk itu aku tentu saja tak memiliki hak untuk menyakiti perasaannya jika aku harus tetap tinggal di sini bersamamu."
Shane membawa langkahnya ke arah depan Katerina, lalu Shane bersimpuh di depan Katerina.
"Jika melepasku rasanya membuatmu tetap merasa sakit, maka akan lebih baik kau membunuhku saja di sini."
Kata Shane menatap Katerina yang wajah pucatnya basah oleh air matanya.
"Itu akan jauh lebih baik pastinya untuk di dengar Zizi, dan juga akan membuatmu tak perlu merasa menyesal sudah menyelamatkanku sementara aku nyatanya tak bisa membalas apapun untuk semua kebaikanmu."
Ujar Shane lagi.
Katerina begitu mendengar kalimat Shane itupun akhirnya mengalihkan tatapannya kepada Shane.
Kedua mata Shane dan Katerina pun saling bertemu, lalu...
"Kau pikir aku benar-benar telah menjadi monster Shane? Kau sangat membuatku ingin membencimu sekarang."
Suara Katerina tergetar.
Shane tersenyum.
"Aku tahu hatimu masih sehangat manusia Katerina."
Puji Shane.
Katerina mengusap air matanya yang membasahi seluruh bagian wajahnya.
"Pergilah, dan pastikan kita tak perlu bertemu lagi."
Kata Katerina dengan suara yang semakin terdengar tergetar.
Shane mengangguk seraya berdiri.
"Jaga dirimu baik-baik Katerina, sekali lagi terimakasih banyak dan maaf untuk semuanya."
"Jangan minta maaf, aku tidak akan memaafkanmu."
Lirih Katerina.
Shane mengulum senyum, ia tahu jika Katerina sungguh aslinya adalah sosok yang sangat baik.
"Aku pergi."
Pamit Shane lagi, yang kemudian berjalan menjauhi Katerina yang masih duduk di dekat perapian dengan wajah yang masih terlihat sedih.
Paman Marthinus yang telah menunggu Shane, begitu melihat Shane muncul tampak menghampiri Shane.
"Semua sudah selesai?"
Tanya Paman Marthinus.
Shane mengangguk.
"Baiklah, kita pergi sekarang."
Ujar Paman Marthinus yang kemudian diikuti Shane di belakangnya.
**-------------**
NB : untuk tadi yang mengajukan masuk grup chat trus ketolak, ngajuin lagi ya, sori tadi kesenggol kucing pas lagi konfirmasi tangannya disundul jadi mleset wkwkwk... sori banget.