
Zizi mengemudikan mobilnya sendiri tanpa pengawal menuju Zombie hotel.
Saat kemudian Mama menelfonnya, Zizi memberikan hp nya kepada Maria karena Zizi menyetir mobil dengan kecepatan tak wajar.
"Dia pasti menyetir sendiri."
Tebak Zia begitu Maria yang bersuara menjawab telfonnya.
Sstttt... Sssttt...
Zizi memberikan isyarat pada Maria agar cepat mengalihkan pembicaraan.
"Ngg... Ada apa Nyonya? Apa kami harus pulang ke Bogor dulu atau bagaimana?"
Tanya Maria akhirnya, berharap Zia akan jadi membahas hal lain daripada bertanya Zizi sedang apa, dan membahas kebiasaan Zizi yang suka mengebut di jalan raya.
"Kalian sekarang mau ke mana?"
Tanya Zia.
"Kami? Ngg... Kami akan menuju zombie hotel Nyonya."
Kata Maria.
"Bagaimana para pengawal yang ada di Kemang? Bang Dimas bilang, Zizi mengintrogasi mereka."
Ujar Zia pula.
"Aman Nyonya, semua bersih, tak ada mata-mata di antara pengawal baru yang ada di Kemang. Sisa pengawal baru berarti hanya tinggal Daniel, Vero, dan empat lainnya yang bersama Tuan Zion."
"Bukan, bukan mereka. Tuan Zion sudah sampai dan saat ini bersama Bang Dimas ke rumah dekat Bandara. Empat pengawal baru sudah dipastikan bukan juga mata-mata oleh Mister Marthinus."
Kata Zia.
"Daniel dan Vero, ah bukan... Vero yang paling mencurigakan."
Ujar Maria.
"Dia pasti..."
"Bukan... Dia ternyata Nenek."
Ujar Zia.
"Neneknya siapa Nyonya?"
Tanya Maria langsung semangat.
Tak ia sangka, Vero yang kelihatannya masih muda terkaya nenek-nenek, itu pasti karena efek ganti kulit.
"Bukan dia Nenek-nenek, tapi dia adalah nenek, jelmaan Nenek Bandapati."
Demi mendengarnya Maria nyaris melompat menembus atap mobil, Zizi yang ikut mendengarkan karena volume panggilan sengaja di setel full juga tak kalah kaget.
Zizi dan Maria saling berpandangan, saat kemudian mobil Zizi nyaris oleng menghantam trotoar, untungnya Zizi sigap mengembalikan posisi mobilnya.
Maria mengelus dadanya.
"Ziziiii, kamu mau Aunty mati dua kali?"
Maria mengomel.
Zizi cekikikan.
"Zizi, jangan ngebuuuuut!!"
Suara Zia sudah macam terompet sepuluh yang dijejerkan.
Maria lekas mematikan hp Zizi dan melemparnya ke atas dashboard mobil.
"Kena marah Mama nanti Aunty."
Ujar Zizi.
Maria meletakkan telunjuknya di atas bibirnya.
"Pura-pura aja ngedrop."
Kata Maria.
Zizi melet.
"Nggak ikutan."
"Weeeeh, Aunty aduin kamu ciuman sama Shane."
"Haaaaaaa Auntyyyyy, jahat kali kaaaau."
Zizi ngamuk-ngamuk.
"Hmm... Berapa kali ya, satu kali, dua kali, tiga kali, aaah jangan-jangan pas di perpustakaan itu aslinya berkali-kali."
Maria tambah menggoda Zizi.
"Diiiih Zizi tidak seperti ituuuuuuuu..."
Maria terpingkal-pingkal, ia melayang menembus atap mobil untuk pindah duduk di sana.
Maria selalu lebih suka duduk di atas atap mobil, apalagi saat suasana menjelang malam di mana banyak lampu berkelap-kelip memenuhi jalanan kota.
Yah, dulu saat Maria masih hidup, ia tak pernah melihat yang seperti ini.
Saat ia hidup, Indonesia masih sepi. Pusat keramaian masih hanya di pasar tradisional, itupun yang dijual hanya itu-itu saja.
Banyak orang pribumi bekerja di perkebunan dan juga ada yang di pabrik gula.
Keluarga Maria sendiri bekerja di perkebunan teh di dataran tinggi Gunung Slamet.
Hidup jauh dari mana-mana, semakin membuat Maria tak tahu kehidupan di daerah yang lebih kota.
Kini...
Maria ternyata gentayangan hingga tahun telah semodern sekarang.
Maria benar-benar tidak menyangka, jika ia bisa menikmati suasana dunia yang saat ini telah berubah 180°.
Maria masih asik duduk di atap mobil yang melaju kencang seperti waktu.
Rambut panjang pirangnya berkibar-kibar terkena angin.
Bulan mulai muncul malu-malu di sudut langit menggunakan masker karena cahayanya yang belum penuh hingga wajahnya hanya terlihat separo.
Ciiiiiiiiiiit...
Maria yang tak siap Zizi mengerem jadi tersungkur ke depan.
Busetlah ini anak. Maria menepuk-nepuk gaun barunya takut kotor.
Tampak kemudian di depan Maria serombongan hantu melayang dari arah Andromeda Apartement, menyebrang jalan dan berhamburan ke berbagai tempat di sekitar sana.
Zizi melongok dan berusaha memanggil sebutir hantu yang lewat di dekat Mobilnya.
"Ada apa whoooiii?"
Tanya Zizi.
Hantu itu menoleh sekilas,
"Keturunan ular menyuruh kami keluar dari apartemen karena tak mau calon istrinya terganggu."
Kata si hantu.
"Keturunan ular."
Zizi bergumam seraya melihat Andromeda Apartement yang bangunannya tampak megah menjulang dan terlihat kelap-kelip lampu ruangannya penuh.
Maria melayang-layang, ada sesuatu di atas Andromeda Apartement, sesuatu yang besar, seperti siluet panjang yang bergerak di tengah-tengah redup cahaya bulan malam ini.
Hantu yang ditanya Zizi melayang pergi, Zizi melajukan mobilnya lagi, kali ini tak lagi secepat sebelumnya.
Selain karena sudah dekat, Zizi juga tengah mengawasi gedung Andromeda Apartement yang sepertinya benar-benar dikosongkan dari seluruh hantu.
Maria lantas masuk ke dalam mobil Zizi, duduk di kursi sebelah Zizi mengemudi.
"Tampaknya calon menantu Andromeda ini perempuan yang sangat istimewa, hingga hantu sampai tak boleh ada yang tinggal di sana."
Kata Maria.
Zizi mengangguk.
Mobil kemudian diarahkan Zizi memasuki pelataran parkir hotel zombie, dan langsung menuju parkiran bawah.
Zizi memarkirkan mobilnya tak jauh dari pintu lift.
Parkiran bawah cukup lenggang karena memang tak banyak yang berani memarkirkan mobilnya di sana.
Beberapa hantu tiba-tiba melayang melewati mereka.
Zizi memberikan isyarat pada Maria agar menangkap salah satunya.
Sudah jelas mereka juga pindahan dari Andromeda.
Maria sigap melayang melesat menyusul serombongan hantu yang datang tanpa permisi.
Tampak hantu perempuan gendut yang melayang lambat di bandingkan lainnya.
Hantu itu rambutnya panjang ikal dan hanya memakai setelan baju tidur.
Maria menarik rambut si hantu.
"Aw... aw... aw... atiiiit."
Suara hantu itu cempreng, tak seimbang dengan ukuran tubuhnya yang gendut.
"Sini sebentar."
Maria menarik rambut si hantu sambil melayang ke arah Zizi.
Begitu sampai di depan Zizi yang duduk di atas kap depan mobilnya, Maria akhirnya melepaskan tangannya dari si hantu gendut.
Hantu gendut yang tadinya rambutnya ikal kayak mie goreng, begitu dilepaskan tampak jadi lurus.
"Ndut."
Panggil Zizi seenaknya.
Mulut Zizi memang begitu, tak ada rem nya.
"Kamu dari apartemen depan kan?"
Tanya Zizi.
"I... Iya Non."
Hantu gendut itu mengangguk.
"Diusir?"
Tanya Zizi.
Hantu gendut itu mengangguk-angguk lagi.
Zizi nyengir.
"Banyak siluman ular datang malam ini untuk menendang kami keluar, katanya, pemilik apartemen tak mau ada satu hantupun yang tinggal di sana lagi, meskipun itu hanya seupil pocong."
Ujar si hantu sedih.
"Kenapa begitu?"
Tanya Zizi lagi, pura-pura belum tahu.
"Tuan Alex, yang tinggal di apartemen depan akan menikah, calon isterinya bisa melihat kami, tapi ia sepertinya terganggu dengan keberadaan hantu, jadi kami diusir."
Curhat mbak hantu gemoy.
"Jadi calon istri Alex bisa melihat hantu..."
Gumam Zizi.
Mbak Hantu gendut mengangguk.
"Bisa Nona, dia bisa melihat hantu, ia memiliki wangi yang cukup menyengat untuk hidung kami para hantu, dan..."
Mbak Hantu menghentikan kalimatnya...
Matanya tiba-tiba melihat ke arah pintu masuk parkiran bawah tanah, Zizi jadi ikut melihat ke arah yang sama.
Lalu...
**----------------**