Zizi

Zizi
163. Mempersiapkan Semuanya


Zia dan Zion malam ini berada di rumah Tuan Ardi Subrata untuk membicarakan soal rencana Zia menikahkan Zizi dan Shane.


Semula Tuan Ardi Subrata sempat kaget atas rencana Zia dan Zion yang tiba-tiba saja akan menikahkan anaknya.


Namun setelah keduanya akhirnya menjelaskan semuanya, barulah Tuan Ardi Subrata yang bijaksana itu mengerti.


Ya, lagipula, Tuan Ardi yang selalu merasa ajalnya telah dekat, rasanya akan sangat melegakan jika ada kesempatan bisa melihat salah satu dari cicitnya menikah.


"Pernikahan Zizi selain karena kami tahu Zizi dan Shane telah saling mencintai cukup lama, kami juga merasa bahwa pernikahan ini juga bisa menjadi penyelamat perusahaan nantinya. Zion butuh seseorang untuk berada di samping Zion, kek, dan Zion merasa Shane memang cukup memenuhi syarat untuk Zion tarik ke perusahaan."


Kata Zion.


Kakek Ardi mantuk-mantuk seraya mesem tipis.


"Tapi..."


Zion tampak ragu sejenak.


"Tapi apa? Katakanlah."


kata Kakek Ardi sambil tersenyum menatap Zion.


"Tapi, seperti yang Kakek tahu, saat ini Zion menjadi wajah perusahaan, yang secara tidak langsung juga itu membuat Zizi berada di posisi yang sama. Pernikahannya dengan Shane yang bukan dari kalangan pengusaha, apa itu akan membuat Kakek keberatan?"


Mendengar pertanyaan Zion, tampak Kakek Ardi Subrata terkekeh.


"Kau mempermasalahkan status Shane yang hanya anak Nancy?"


Tuan Ardi menatap Zion lebih lekat, membuat Zion tentu saja cepat mengelak.


"Bukan Kek, bukan itu."


Tuan Ardi Subrata tersenyum.


"Nikahkan saja mereka jika memang mereka sudah lama saling mencintai."


Kata Kakek Ardi Subrata.


"Dan untuk Alpha Centauri, perusahan itu sebetulnya sudah menjadi milikmu dan milik Ziyan, jadi tentu saja, semua keputusan yang terbaik untuk Alpha Centauri kini ada di tanganmu Zion."


Kata Tuan Ardi.


Zion menatap sang kakek yang kini sudah begitu renta.


"Ya Kek, tapi tetap saja, pendapat dan pandangan Kakek tentu sangat kami butuhkan, terutama untuk Zion yang mengelola perusahaan ini sendirian karena Kak Ziyan juga memiliki perusahaan sendiri."


Kata Zion.


"Perusahaan sebesar Alpha Centauri tak bisa dikelola sembarangan, apalagi semakin banyak pesaing bisnis yang mulai bermain kotor untuk menghancurkan kita dari segala sisi Kek."


Ujar Zion pula.


"Yang penting jangan sampai melanggar hukum dan jangan sampai meremehkan pajak, selalu utamakan kesejahteraan pegawai, dan pastikan jenjang karir di perusahaan kita berjalan baik agar para pegawai yang bekerja sungguh-sungguh dan serius serta disiplin bisa mendapatkan hasil jerih payah mereka."


Zion tampak mantuk-mantuk mendengarkan nasehat kakeknya.


"Jika di dalam kita kuat mendapat dukungan dari para pegawai, belum lagi kita juga berhubungan baik dengan orang-orang pemerintahan karena kita taat aturan, kita tak akan bisa mudah di goyah saat mereka berusaha mencari bahan untuk menjelekkan kita."


"Tapi saham sempat anjlok Kek beberapa hari lalu, sejak tiga perusahaan besar milik cucu Heri Sapta dan koleganya bersatu. Tampaknya pasar cukup bagus menyambut bergabungnya tiga perusahaan mereka."


Kata Zion.


"Jangan gentar Zion, fokus saja melakukan yang terbaik, bangun kekuatan dari hubungan baik dan solid di dalam perusahaan, serta..."


Kakek Ardi Subrata terdiam sejenak, ia merasakan tenggorokannya kering karena dari tadi diajak bicara terus. Hihihi...


Zia yang sedari tadi memilih diam dan hanya duduk di samping Zion dengan setia, cepat mengambilkan air untuk diberikan pada Kakek mertuanya.


Kakek Ardi meneguk segelas air yang diberikan cucu menantunya.


Setelah meminum air diberikan Zia, Kakek Ardi pun kembali melanjutkan kalimatnya yang sempat terhenti.


"Shane..."


Kakek Ardi menyebutkan nama Shane sambil kemudian menatap Zia dan Zion bergantian.


"Kakek sudah banyak mendengar soal anak Nancy saat ia masih kecil, dia anak yang sangat cerdas dan juga berbakat menjadi pemimpin, masalah kemudian dia kini bukan lagi sepenuhnya manusia tentu tak jadi soal asalkan kalian bisa menjaga rahasia itu dengan baik."


Zia yang mendengar kata-kata Kakek Ardi Subrata rasanya langsung lega, ia merasa keputusannya bisa bukan hanya bisa diterima oleh Kakek mertuanya, namun juga mendapat dukungan penuh darinya.


"Jadi kapan rencananya kalian akan menggelar pesta pernikahan Zizi dan Shane?"


Tanya Kakek.


Kata Zia.


Kakek Ardi Subrata mengangguk.


"Ya, kalian para wanita, bicarakanlah dengan baik, jika nanti sudah ketemu tanggalnya, kalian datanglah kembali ke sini."


Ujar Kakek.


Zia dan Zion mengangguk.


**---------------**


Sementara itu, di rumah Bogor, di mana Dimas hari ini sedang cuti dan akan segera bersiap pindah dari kediaman Zion ke rumahnya sendiri dalam beberapa hari ke depan, kini tampak Dimas duduk di teras belakang rumah Zion sambil menatap langit yang terlihat tenang.


Mbak Ning duduk di dekatnya sambil sibuk berbalas pesan dengan adiknya di kampung.


Dimas terdengar menghela nafas, membuat Mbak Ning akhirnya menoleh ke arah sang suami.


"Ada ada?"


Tanya Mbak Ning.


Dimas menatap isterinya,


"Arya."


Dimas menyebutkan nama Arya.


"Kak Arya? kenapa dengan Kak Arya?"


Tanya Mbak Ning.


"Aku rasa aku ingin mengajaknya ikut pindah saja, apa kau akan keberatan jika aku melakukannya?"


Tanya Dimas.


"Lho, kenapa aku harus keberatan? Aku tidak ada masalah."


Ujar Mbak Ning.


Dimas tersenyum lalu kembali menatap langit.


"Aku tidak ingin Arya akan canggung di sini sendirian jika nantinya Nona Zizi benar menikah dengan Shane dalam waktu dekat."


Kata Dimas.


Mbak Ning meletakkan Hp nya di atas meja kecil di depan mereka duduk agar bisa lebih fokus berbincang dengan suaminya.


"Aku sebetulnya tak menyangka Nona Zizi justeru akhirnya akan menikah dengan Shane, karena jika mengingat saat dulu masih kecil, Nona Zizi rasanya tak pernah mau jauh dari Kak Arya."


Lirih Mbak Ning.


Dimas mengangguk.


"Ya, akupun begitu."


Kata Dimas.


"Apa Kak Arya sudah diberitahu?"


Tanya Mbak Ning.


Dimas menggeleng.


"Biar saja nanti itu urusan anak-anak muda, kita tak perlu ikut campur lebih dulu."


Kata Dimas.


Mbak Ning pun kembali mengangguk.


"Jika dilihat ke belakang, memang Shane jauh lebih lama bersama Nona Zizi, ia juga sudah melakukan banyak hal untuk Nona Zizi, jadi... jika akhirnya Nona Zizi merasa lebih nyaman dan ada keterikatan batin dengan Shane, itu wajar saja."


Mbak Ning mendengar kata-kata Dimas kembali mengangguk.


Ya, Mbak Ning juga tak bisa memungkiri jika Shane terlihat jauh lebih sigap dan selalu ada untuk Nonanya.


Tentu bukan hanya karena ia loyal sebagai pengawal pribadi, namun lebih dari itu, karena Shane memiliki rasa pada Zizi.


Rasa yang begitu besar, dan sepertinya sangat tulus, yang bisa jadi tak bisa dimiliki manusia biasa.


**---------------**