Zizi

Zizi
138. Putri Vampire Terakhir


Di dalam salah satu kastil yang sangat tua, tampak banyak kelelawar berterbangan di dalam ruangan-ruangan kosong di kastil tersebut.


Sementara itu, di bawah tanah, ada sebuah peti berukir emas yang dipaku dengan sebuah paku besar dari perak.


Di dalam peti kayu yang diukir dengan ukiran emas itu, terbaring sesosok perempuan bergaun hitam.


Ya...


Rosalia Ruthven, dia adalah putri terakhir Ruthven, adik dari Selena Ruthven, yang tak lain adalah Ibu dari Paman Marthinus yang kini tengah dicari Shane untuk meminta tolong.


Sosok perempuan yang merupakan putri terakhir Ruthven itu dipaku dengan paku perak besar yang menembus jantungnya, membuatnya terbaring di dalam peti dalam waktu yang sangat lama.


Rosalia Ruthven, dipaku karena menjalin cinta dengan seorang manusia, hingga akhirnya ia justeru memangsa pria itu karena takut mereka tak bisa bersama.


Harapan jika pria itu akan terinfeksi menjadi vampire juga ternyata gagal, karena aksinya lebih dulu ketahuan oleh seorang pendeta yang menjaga wilayah perkampungan di mana Pria itu tinggal.


Rosalia Ruthven diburu selama tiga hari, hingga akhirnya ia terdesak di kastil tempatnya bersembunyi selama ini dan kemudian dipaku di sana.


Meski kemudian peristiwa itu memicu kemarahan Ruthven dan akhirnya seluruh perkampungan itupun dibumihanguskan.


Peristiwa yang selang seratus tahun lebih sebelum akhirnya Zia dan Zion pindah ke London, yang akhirnya membuat Ruthven bertemu Zizi dan berakhir di pertempuran dengan Zizi.


Kastil di mana Rosalia Ruthven terletak sangat ke ujung, dan harus melewati banyak sekali hutan-hutan berhantu, termasuk juga Bradley Woods Lincolnshire.


Hutan Bradley Woods Lincolnshire, di mana salah satu hutan berhantu itu adalah tempat di mana Alarick Rolf, ayah Paman Marthinus dibantai oleh sesama Lycan.


Di sana juga sampai saat ini masih banyak Lycan bersembunyi, membuat para vampire berpikir ulang jika harus dekat-dekat dengan hutan tersebut.


Di sanalah kabarnya ada obat penawar untuk para manusia yang terinfeksi oleh Vampire yang diciptakan oleh Ruthven saat ia masih berambisi untuk kembali menjadi manusia.


Namun, saat kemudian ambisi Ruthven akhirnya berubah ingin menjadi Raja para vampire, maka obat penawar itu ia simpan di kastil yang tak mudah ditemukan vampire lain yang ingin kembali berubah menjadi manusia.


Ruthven menyembunyikannya di kastil yang dijaga putri kesayangannya, yaitu Rosalia Ruthven.


Rosalia Ruthven menyembunyikannya di ruangan rahasia yang pintu untuk masuk ke ruangan itu hanya Rosalia Ruthven yang tahu.


Dan tentu saja, itu berarti, jika ingin mendapatkan obat itu, maka Rosalia Ruthven harus kembali dibangunkan.


Membangunkan Rosalia Ruthven sama saja seperti membangunkan Ruthven baru.


Berbeda dengan Selena Ruthven yang tak bersifat seperti Ayahnya, Rosalia Ruthven justeru sangat persis dengan sang Ayah.


Dia ambisius, dia juga kejam, dan dia tak pernah ragu memburu manusia.


**-------------**


"Kau yakin akan pergi ke Bradley Woods Lincolnshire saat ini juga Shane?"


Tanya Nancy begitu melihat Shane tampak bersiap pergi.


Setelah salju mengguyur semalaman, hari ini salju tampak tak lagi turun, jalanan juga sudah mulai dibersihkan hingga sudah bisa dilalui.


"Aku tak mungkin menunda terlalu lama Mam, aku harus cepat bergerak, di musim seperti ini, menunggu Lycan muncul di sekitar kota tampaknya mulai mustahil, jadi biar aku cari sendiri saja."


Ujar Shane.


"Tapi mereka akan tahu kau vampire, dan itu berbahaya Shane, berbeda jika Mam yang bertemu dengan mereka."


Kata Nancy.


Shane terlihat tersenyum, lalu memeluk Ibunya.


"Jangan khawatir Mam, aku akan hadapi mereka, lagipula tak semua Lycan memusuhi ku, apalagi jika nanti aku sudah bertemu Paman Marthinus."


Kata Shane menenangkan Ibunya.


"Ya semoga secepatnya kau bertemu dengannya. Tentu Mam akan tenang jika kau didampingi olehnya."


Kata Nancy dengan suaranya yang bergetar.


"Jika aku mendapatkan obat penawar itu, aku akan membawakannya untukmu juga Mam, siapa tahu itu juga akan bisa bereaksi untukmu juga."


Lirih Shane saat memeluk Ibunya.


Nancy berkaca-kaca mendengarnya.


"Tak apa jika hanya kau yang bisa sembuh Shane, kau yang masih muda dan butuh masa depan."


Kata Nancy.


Shane melepas pelukannya.


"Minggu depan Nyonya Zia akan datang berkunjung bersama hantu Aunty Maria, bersiaplah menyambut mereka Mam."


Nancy mengangguk.


"Tentu, Mam akan menyambutnya Shane."


Kata Nancy.


Shane kemudian pamit pada Ibunya untuk segera pergi.


"Hati-hati Shane."


Nancy mengiringi kepergian sang anak, yang begitu keluar dari rumah langsung melesat cepat dan dalam sekejap saja sudah tak terlihat lagi.


Tak jauh berbeda dengan Shane yang pamit pergi pada Ibunya untuk mulai mencari Marthinus agar bisa menemukan kastil di mana obat penawar ciptaan Ruthven disembunyikan, di Indonesia, Zizi dan Ali juga berpamitan pada Zia dan Zion untuk terbang ke Kuala Lumpur.


Ya Zizi ingin bisa melupakan masalah kepergian Shane sebentar dengan pergi ke rumah Paman Ziyan.


Lagipula sudah sejak awal saat ia baru pulang dari Merapi, ia memang sudah berniat akan berlibur ke tempat satu-satunya saudara Papanya itu.


"Zizi akan pulang saat Kak Seng juga pulang."


Kata Zizi.


Zia dan Zion menghela nafas bersama.


"Ya baiklah, terserah kamu saja, uang penting jangan buat ulah, apalagi sampai membuat Bibi Aisyah sakit kepala."


Kata Zia menanggapi acara pamit Zizi yang bukannya bikin sedih malah bikin Zia emosi.


Sejak Shane pergi, Zizi memang kelihatan sekali uring-uringan dan makin ngegas-ngegas macam tabung gas siap ledak.


Bicara apapun rasanya semua jadi salah di telinga Zizi.


Zizi dan Ali kemudian pergi ke Bandara diantar Daniel.


Mereka memakai pesawat pribadi milik Tuan Ardi Subrata, uyut mereka.


"Aku akan pergi ke hutan siluman besok."


Kata Zizi pada Ali saat dalam perjalanan menuju Bandara.


"Tidak usah buru-buru Kak, jalan-jalan saja dulu menikmati suasana Kuala Lumpur, sekalian makan banyak makanan kesukaan Kakak."


Kata Ali.


Zizi menghela nafas sambil menatap jalanan di luar sana.


"Nanti saja jalan-jalannya, energiku sedang berlebihan, aku harus menggunakannya sesegera mungkin, daripada nanti memicu masalah."


Kata Zizi.


Ali akhirnya diam saja, memilih tak mendebat lagi.


Ia tahu jika Zizi tengah dalam kondisi yang sedang paling tidak enak.


Ali kemudian merasakan hp di saku jaketnya bergetar, cepat Ali meraih hp nya.


Pesan baru dari Bibi Zia.


[Titip Kak Zizi, ya Ali.]


Tulis Zia dalam pesannya.


[Iya Bibi, jangan khawatir]


Jawab Ali.


Zia di rumah yang duduk lemas di sofa membaca pesan balasan dari Ali.


Tampak ia menyandarkan tubuhnya di sofa setelah sebelumnya menghela nafas dalam-dalam.


Maria tampak bersamanya, sedangkan Zion menelfon Ziyan di Kuala Lumpur untuk menyampaikan keadaan Zizi yang sedang dalam mood buruk.


"Semua akan berakhir hepi Nyonya, yakinlah."


Kata Maria menghibur Zia.


**-------------**


Sori ya baru updet, ngejar kerjaan dulu di kantor. Hehehe