Zizi

Zizi
130. Dari 118 Sampai 98


"Toloooong... toloooong... Hiks hiks..."


Terdengar suara perempuan meminta tolong saat mobil yang dikendarai Shane akhirnya berhenti di parkiran zombie hotel.


Zizi, Ali dan Maria turun dari mobil lebih dulu.


Maria melayang-layang karena sayup-sayup mendengar suara tangisan.


"Tolooong... tolooong."


Suara itu terdengar lagi.


Zizi menatap Maria.


"Aunty, ada orang minta lontong."


Kata Zizi.


"Minta tolong Zizi... Tolong..."


Maria meralat.


Zizi tak peduli, ia lalu berlari menuju bangunan zombie hotel.


Dimas sudah berada di lobby dan sedang menelfon Dave.


"Paman."


Zizi menghampiri Dimas.


Dimas akhirnya menghentikan pembicaraannya dengan Dave karena ada Zizi.


"Nona, syukurlah Nona datang."


Kata Dimas.


Zizi selama ini belum pernah melihat Dimas terlihat begitu tegang seperti sekarang.


"Ada apa Paman? Hantu Dewi ganggu lagi?"


Tanya Zizi.


Dimas menggeleng.


"Bukan hantu Dewi, Nona."


Kata Dimas.


"Lalu ..."


"Tolooooong... Tolooong..."


Sayup suara itu kembali terdengar, Zizi celingak-celinguk, lalu menoleh pada Ali dan Shane yang baru masuk ke dalam zombie hotel.


"Kalian coba cari sumber suara itu, yang minta tolong."


Kata Zizi.


Ali dan Shane mengangguk.


Mereka baru akan beranjak, manakala Zizi memanggil lagi.


"Ali, kamu sama Aunty Maria."


Kata Zizi tak mengijinkan Ali sendirian karena takut mahluk yang mengikuti Ali muncul tiba-tiba.


"Ada model menginap semalam di hotel ini, di kamarnya banyak darah, suara aneh dan tembakan juga terdengar."


Dimas bercerita begitu Ali dan Shane telah menjauh.


Zizi memandang Dimas.


"Dia mati? Dibunuh?"


Tanya Zizi.


Dimas menggeleng.


"Itu yang kami tidak tahu Nona Zizi, mayatnya tidak ada, dan..."


Dimas menatap Zizi, lalu...


"Sebaiknya Nona melihatnya sendiri, ayok ikut Paman."


Ajak Dimas akhirnya.


Zizi pun mengikuti Dimas menuju lift, mereka naik ke lantai dua, Ali dan Shane serta Maria sepertinya menggunakan tangga darurat untuk mencari suara misterius yang terus minta tolong.


Lantai dua zombie hotel terlihat sepi dan kosong, karena para tamu semua dipindahkan, sementara seluruh kamar pintunya dibiarkan terbuka.


Zizi dan Dimas menuju kamar 118, di mana di sana menjadi tempat kejadian perkara.


"Polisi sedang menuju ke sini."


Terang Dimas saat keduanya hampir sampai di kamar 118.


"Tolooong... Toloooong..."


Suara itu semakin jelas terdengar.


Zizi mempercepat langkahnya.


Dan begitu akhirnya sampai di depan kamar 118 yang pintunya juga dibiarkan terbuka, Zizi terlihat nyaris muntah karena mual.


Aroma anyir darah segar begitu menusuk hidung.


Dimas mengajak Zizi masuk, dan menunjukkan telapak tangan dan kaki manusia di dinding dan plafon.


"Dia seperti merayap."


Kata Dimas.


Zizi mengangguk.


Zizi memandangi plafon yang berlubang karena dijebol.


"Itu jebol dari dulu atau baru Paman?"


Tanya Zizi menunjuk jebolan di plafon kamar 118 itu.


"Tentu saja baru Nona, kalau lama kami tak akan berani menyewakan kamar ini dalam keadaan rusak."


Jawab Dimas.


Zizi mantuk-mantuk.


Lalu...


"Tolooong... toloooong..."


Kembali suara itu terdengar.


Suara nya seperti keluar dari lubang yang dari jebolan di plafon kamar.


"Zizi akan naik, bantu Zizi ambil tangga Paman."


Kata Zizi.


"Tapi Nona..."


"Ayolah Paman, jangan buang waktu."


Kata Zizi.


Dimas akhirnya menurut, ia langsung menelfon staf hotel untuk membawakan tangga lipat agar bisa digunakan Zizi untuk memanjat.


"Paman akan temani Nona."


Kata Dimas yang terlihat membuka jas nya.


Zizi menggeleng.


"Tidak usah Paman, biar Zizi saja, percayalah, Zizi justeru tak akan kenapa-kenapa kalau Zizi sendirian."


Kata Zizi.


"Tolooong... Dia mencuri tubuhkuuu... Dia mencuri tubuhkuuuuu..."


Suara itu terdengar begitu memilukan.


Zizi akhirnya berjalan menuju ke bawah jebolan plafon yang terlihat menganga.


Di senternya dengan hp di sana, di mana tiba-tiba ada kepala perempuan berambut panjang melongok.


"Tolooong..."


Rintihnya.


"Di mana tubuhmu?"


Tanya Zizi.


"Dia membawaku masuk ke sana, ke tempat gelap itu, dia makan binatang dengan mulutku."


Kata perempuan itu.


Tak lama staf hotel datang membawa tangga lipat.


Mereka kemudian diminta segera membawa tangga itu ke dekat Zizi.


Zizi pun tanpa menunggu lama langsung naik ke tangga, dan langsung saja masuk ke atas plafon.


Dengan hanya bermodal cahaya dari senter hp, Zizi kerayap menyusuri ruangan sempit di atas plafon.


Hantu yang meminta tolong tadi bergerak di depannya, mengawal Zizi menunjukkan arah di mana tubuhnya kini berada.


Zizi terus bergerak, hingga kemudian sayup ia mulai mendengar suara aneh, suara seperti orang sedang memakan tulang atau semacamnya.


Hantu yang minta tolong tiba-tiba berhenti, membuat Zizi kejedot kaki si hantu.


Zizi yang kesal jadi mencubit betis si hantu.


"Aduh."


Hantu itu kaget.


Bisa begitu ya manusia? Batin si hantu.


"Kenapa berhenti mendadak!"


Kesal Zizi pada si hantu.


"Hiiii..."


Hantu itu bergidik ngeri, lalu memilih menghilang.


"Dasar kampret."


Rutuk Zizi.


Ia baru akan melanjutkan acara merayapnya, saat kemudian ia melihat tubuh si hantu yang minta tolong kini berada di depannya.


Tubuh si model yang kini dirasuki mahluk lain itu tengah memakan tikus di atas plafon, sejenak mereka pun berpandangan, sebelum akhirnya si model cepat-cepat menyembunyikan sisa tikus yang ia makan.


"Haiish dia pikir aku mau rebut apa bagaimana."


Zizi makin kesal rasanya, apalagi saat si Model langsung balik arah dan cepat merayap melarikan diri dari Zizi.


"Whoooiiiii... Sialan..."


Zizi pun mempercepat merayapnya.


Aduuuh... bikin pinggang sakit doang ini hantu kampreeet.


Zizi terus mengejar, sambil berusaha menggapai kaki si model.


Sampai akhirnya si model mentok di pojokan.


Zizi cepat menangkap kakinya, si model kelojotan supaya tangan zizi bisa lepas, tapi mana mau menyerah Zizi.


Zizi menyeringai, ia semakin kencang memegang kaki kiri si model, lalu ia kelitiki sampai hantu di dalam tubuh model itu tertawa terpingkal-pingkal.


"Hahahaha... Aduuh ampuuun, perutku sakit... aduuuh ampuuun..."


Kata si hantu.


"Keluar nggak kamu!! Atau aku terpaksa pakai pedang Jayapada untuk menghancurkanmu."


Ancam Zizi.


Mendengar ancaman Zizi, tentu saja hantu itu lebih milih keluar dari tubuh si model.


Lagipula tubuh itu milik orang mati, tak akan bisa ia gunakan dalam waktu yang lama.


Tubuh itu tak lama akan busuk, dan saat lewat pasti semua orang langsung menyadari.


Hantu itu akhirnya keluar, jari nya yang panjang, tangannya yang panjang, tubuhnya yang panjang, bahkan kakinya juga.


Ia merayap dan kemudian menghilang.


"Mahluk yang mengikuti Ali rupanya."


Zizi melepaskan tangannya dari tubuh si model yang kini sudah kaku dan dingin. Aroma anyir darah yang ada di sepanjang ruangan atas plafon dan kini juga menempel ditubuh Zizi membuat Zizi mual lagi.


Zizi tak kuat menahan mual akhirnya memilih menjeblos plafon di dekatnya.


Untungnya tepat di kamar yang sedang tak ada orang.


Zizi melongok, memastikan ia bisa mendarat dengan aman.


Begitu dilihatnya di bawah ada karpet, Zizi pun akhirnya langsung lompat saja.


Sampai di bawah Zizi langsung menghubungi Dimas, jika ia sudah turun, Zizi kemudian berdiri dan keluar dari kamar.


Ia melanjutkan telfonnya memberitahu ia berada di kamar nomor 98 dan mayat model itu ada di atas plafon di kamar yang sama.


Dimas pun segera bergerak ke kamar yang dimaksud Zizi bersama para polisi yang telah tiba di TKP.


**---------------**