Zizi

Zizi
188. Sebuah Rahasia


"Maria..."


Zia memanggil begitu keluar dari kamarnya.


Maria yang ada di kamar Zizi, begitu mendengar namanya dipanggil sang Nyonya langsung keluar dari kamar.


Melayang menembus pintu kamar, Maria menemui Zia untuk memenuhi panggilan Nyonya nya itu.


"Siap Nyonya, laksanakan!"


Kata Maria.


Zia geleng-geleng kepala.


"Belum juga kasih tahu perintahnya apa, sudah siap laksanakan."


Sahut Zia.


Maria tepuk jidat.


"Oh iya, belum diperintah apa-apa sudah siap ya Nya."


Zia nyengir.


Sepertinya sekarang tak usah bertanya-tanya lagi kenapa Zizi absurd, karena memang Zia yang salah memilih pengasuh untuk anaknya.


Sudah tahu anaknya absurd, ketambahan pengasuhnya juga begitu, makanya tambah mateng.


"Baiklah Nyonya, ada apa gorengan saya dipanggil..."


"Gerangan Maria, bukan gorengan."


"Yaitu maksudnya."


Kata Maria mengikuti Zia yang kini berjalan menuju satu set sofa besar yang ada di dekat jendela kaca di lantai dua rumahnya itu.


"Tolong panggilkan Paman Marthinus, aku ada perlu dengannya, ada hal penting yang ingin aku bicarakan."


Ujar Zia.


"Oh Mahluk campuran itu, baiklah Nyonya, saya akan panggulkan."


Maria sigap sambil bersiap melayang.


"Panggil Maria, bukan panggul, kamu ini kuli bongkar muat apa bagaimana mau panggul Marthinus."


Zia duduk di sofa sambil menghela nafas.


Maria nyengir saja, lalu melayang melesat menjauhi ruangan di mana Zia sedang duduk.


Bersamaan dengan itu, Zizi keluar dari kamar, mendapati Mamanya seperti melamun di sofa, Zizi pun menghampiri.


"Ma."


Panggil Zizi.


Zia menoleh, karena tadi ia sampai tak menyadari kehadiran Zizi.


Zizi duduk di samping Mamanya.


"Mama kok kayak gelisah banget, ada apa?"


Tanya Zizi.


Zia kembali menghela nafas, lalu meraih kepala Zizi untuk dielusnya dengan lembut.


"Tak apa, Mama hanya sedang memikirkan acara pernikahanmu sebentar lagi."


Kata Zia.


Zizi menatap Mamanya.


Ia meskipun bolot, tapi tentu saja ia tahu jika Mamanya hanya sedang berusaha untuk menyembunyikan kebenaran.


Zizi yakin bahwa apa yang sedang dipikirkan Mamanya jauh lebih rumit dari itu.


Lagipula, urusan acara pernikahan sudah diserahkan pada EO pastinya, Mama pasti hanya tinggal memikirkan siapa saja yang akan diundang, dan pritilan lainnya.


Tapi...


Wajah Mamanya kini sudah macam orang yang benar-benar sedang stres karena banyak pikiran.


Banyak beban yang begitu besar di atas pundaknya.


"Mama jangan terlalu khawatir Ma, semua pasti akan baik-baik saja. Jayapada maupun Alpha Centauri, semua tak akan kenapa-kenapa, Paman Jaka Lengleng dan semua keturunannya, pasti bisa kita bumi hanguskan."


Kata Zizi.


Ya, inilah salah satu kelebihan Zizi memang. Dia selalu optimis, selalu bisa melihat semuanya dengan energi positif hingga tak membuat diri ataupun orang lain jadi merasa lemah.


Zia yang mendengar Zizi berkata demikian jadi tersenyum.


"Ya, Mama percaya padamu."


Kata Zia tak ingin mengecilkan hati anaknya.


Zizi mantuk-mantuk.


**-------------**


Sementara itu, di kamar Shane, terlihat Shane sedang bicara empat mata dengan Daniel.


"Jadi kau tahu rahasia Vero?"


Tanya Shane pada Daniel.


Daniel mengangguk pelan.


Lalu...


"Tapi, jangan katakan pada siapapun dulu Shane, aku tidak enak."


Kata Daniel.


Shane mengerutkan kening.


"Ada apa sebetulnya? Siapa dia?"


Tanya Shane yang melihat gerak-gerik Ibunya begitu curiga dengan Vero, membuat Shane juga jadi ikut curiga.


"Data informasi Vero itu aneh."


Kata Daniel.


"Aneh?"


Daniel mengangguk.


"Aku tahu dari Bang Pandu, yang sekarang mengurus administrasi para pengawal."


"Ah ya, kau masih saudara nya."


Kata Shane.


Daniel mengangguk.


"Bagian mana yang aneh dari data Vero?"


Tanya Shane.


Daniel terlihat diam sejenak, sebelum akhirnya meneruskan kalimatnya.


"Dia dulu lahir dengan nama Veri, dan sekarang jadi Vero."


Haiiish... Shane menggelengkan kepalanya.


"Kau ini bercanda atau bagaimana?"


Shane jadi ingin menabok Daniel.


"Sungguh Shane, dia itu laki-laki tapi akhirnya jadi perempuan, dan..."


Daniel menatap Shane lagi.


"Dan apa?"


Tanya Shane tak sabar.


"Dan dia dulu itu seperti Bang Panji petualang. Dia pawang ular Shane saat masih remaja."


"Dia menulisnya di data informasi pegawai?"


Tanya Shane heran.


"Hey, tentu saja tidak. Itu Bang Pandu yang menyelidiki sendiri sebelum si Vero diterima."


Shane mantuk-mantuk.


"Hanya itu yang menurutmu aneh?"


Tanya Shane.


Daniel menggeleng.


"Menurutku terlalu banyak hal yang ia tutupi Shane, tapi anehnya dia bisa lolos seleksi pegawai."


"Seperti ada yang bermain dengan cara halus?"


Tanya Shane.


Daniel mengangguk.


"Alpha Centauri, adalah perusahaan besar yang setahuku sangat selektif saat menerima pegawai. Aku saja meskipun masih ada hubungan saudara dengan Bang Pandu, lolos seleksi masuk itu butuh satu tahun Shane, tapi Vero, dia hanya satu bulan sejak menyerahkan data."


Kata Daniel.


Shane mengerutkan kening.


"Dia juga sepertinya bisa melihat hantu."


Ujar Daniel lagi.


Shane menatap Daniel.


"Kau yakin?"


Tanya Shane.


"Ya."


Daniel mengangguk.


"Saat di pesawat, dia bilang kursi di sebelah kami ada seorang Ibu dan anak kecil yang terus mengganggunya, padahal tidak ada Ibu dan anak kecil di deretan kami."


Shane terdiam.


Lalu Shane ingat jika di rumah ini juga ada Aunty Maria yang merupakan selembar hantu.


"Di rumah ini, apa dia pernah bilang melihat hantu?"


Tanya Shane.


Daniel celingak-celinguk.


"Apa ada hantu?"


Tanya Daniel malah takut.


Shane jadi meninju lengan Daniel.


"Aunty Maria, dia pengasuh Nona Zizi."


Kata Shane.


"Aaah ya, aku kaget."


Ujar Daniel.


"Tidak, dia tidak bicara soal hantu lagi sejak dari pesawat itu, aku rasa dia berusaha menutupi kebenaran soal dia bisa melihat hantu."


Lanjut Daniel pula.


"Mungkinkah dia penyusup Dan?"


Tanya Shane.


Plak!


Daniel menabok kaki Shane.


Shane tentu saja jadi kaget.


"Kenapa kau memukulku?"


Omel Shane.


"Maaf kelepasan."


Daniel nyengir ke arah Shane.


"Maksudku itu Shane, aku entah kenapa curiga dia penyusup."


Kata Daniel.


"Pasti ada orang dalam di bagian perekrutan pegawai, coba kamu minta tolong Bang Pandu lagi untuk mengawasi orang yang bertanggungjawab di bagian itu."


Kata Shane.


Daniel mengangguk.


"Dan kau juga awasi gerak gerik Vero, jika ada yang terlalu mencolok dan bagus lagi jika ia ketangkap basah melakukan sesuatu, langsung saja kamu ringkus dan bawa kepadaku Dan."


Kata Shane.


Daniel mengangguk sambil tersenyum.


"Kenapa senyum begitu?"


Tanya Shane melihat Daniel senyum-senyum.


"Entahlah, aku merasa kamu memang sangat pantas mendampingi Tuan Zion di Alpha Centauri, kamu berjiwa pemimpin Shane."


Puji Daniel.


Shane mendengarnya hanya terdiam.


Ah yah, sayangnya aku bukan murni manusia. Batin Shane.


Daniel dan Shane melanjutkan obrolan soal Vero dan juga soal berita mayat yang katanya korban ular yang ternyata tempatnya tak jauh dari perumahan.


Saat kemudian di luar kamar Shane, Maria melayang menuju kamar Marthinus sambil memanggil mahluk itu.


"Pak Timuuus... Pak Timus...."


**-------------------**