
Shane naik ke tempat tidur, tentu setelah satu jam lebih dia duduk lama di sofa, hanya untuk memikirkan bagaimana caranya menjalani rumah tangga yang baik dan benar.
Ah entahlah, rasanya ini lebih sulit untuk Shane dibandingkan tugas yang diberikan Papa mertuanya untuk nantinya mulai belajar mengurus perusahaan.
Shane menatap Zizi yang tidur lelap karena kelelahan.
Wajahnya cantik, tapi berbahaya.
Bahaya baik dalam gerakan maupun bolotnya.
Oh Othor, teganya kau membuat Zizi seabsurd ini, apa kau tidak takut kualat. Batin Shane.
Shane menghela nafas, ia merasa jantungnya nyari melompat dan memantul melarikan diri ketika ia akan berbaring ternyata Zizi terbangun.
"Kak Seng..."
Zizi mengerjap-ngerjapkan matanya..
"Ngg... tenanglah, aku hanya... aku hanya akan tidur."
Shane gugup, takut Zizi akan menendangnya sampai ke uranus.
Zizi mantuk-mantuk,
"Ya tidur saja,"
Sahut Zizi santai, lalu merem lagi.
Shane mengelus dadanya, hati-hati ia berbaring.
Shane menatap plafon kamar Alpha hotel dengan tatapan bingung.
Apa semua orang akan setakut ini saat baru menjadi suami istri? Batin Shane.
Shane baru akan memejamkan matanya, saat tiba-tiba Zizi yang bangun dari posisinya, gerakannya sangat cepat, membuat Shane jadi ikut bangun dan duduk.
"Ada apa?"
Tanya shane panik, ia pikir Zizi merasakan ada musuh yang datang.
Shane celingak-celinguk,
"Kak Seng,"
Zizi merubah duduknya menghadap Shane,
"Ap... apa Zizi?"
Shane malah gugup.
"Zizi sedang berpikir."
Kata Zizi.
Wah tumben Zizi berpikir, pasti besok hujan permen karet.
"Berpikir soal apa?"
Tanya Shane sabar.
"Berpikir nama untuk anak kita."
Jiaaaah...
Shane rasanya ingin menghilang segera saat ini.
Bagaimana bisa Zizi berpikir soal nama anak mereka, bahkan Shane menyentuhnya saja belum.
Apa tadi Zizi bilang, anak mereka akan dipaket katanya.
Astaga, apa yang harus aku lakukan malam ini? Haruskan aku menguras laut Ancol saja? Batin Shane nelangsa.
"Karena anak kita nanti ada lima, dan semuanya laki-laki, aku akan membuatkan nama yang keren-keren."
Kata Zizi.
"Ya baiklah, buatlah nama yang paling keren."
Sahut Shane.
"Tapi..."
"Tapi... apa?"
Shane bingung.
"Zizi ingin pergi ke hotel wisata Papa yang dulu ditutup, Zizi ingin lihat sekarang seperti apa suasananya."
Kata Zizi.
Shane menggeleng.
"Uyut menunggu kita berkunjung, lebih baik kita ke Jepang mengunjungi Uyut."
Shane kali ini mencoba tidak sependapat dengan Zizi.
"Ooh iya, uyut."
Zizi ingat Uyut nya yang sekarang ada di Jepang, yang sengaja dipindahkan Paman Ziyan kesana sejak peristiwa serangan ular di rumah Kemang.
"Baiklah kita ke Jepang saja."
Kata Zizi.
"Lagipula, aku ingin lihat seperti apa gudang rumah Jepang sekarang, masihkah bisa dibuka dan dimasuki para peri."
Tambah Zizi.
Shane mengangguk.
"Kita lupakan dulu saja semua yang berkaitan dengan para keturunan Paman Jaka Lengleng, aku rasa mereka juga butuh banyak sekali waktu untuk kembali eksis menampakkan diri."
"Ah yah, Alex dan Attala, Natalie dan Nadia, mereka entah ke mana."
Lirih Zizi.
"Dan..."
Shane memberanikan diri meraih tangan Zizi.
"Aku rasa paket anak kita belum bisa dikirim."
Kata Shane.
Zizi membulatkan matanya.
Shane tersenyum manis,
"Kita pesan dulu Zi,"
Kata Shane lagi.
Zizi nyengir, otak bolotnya tak berfungsi dengan baik untuk hal yang beraroma semacam itu.
"Kita pesan malam ini, besok, lusa, sampai paketnya sampai."
Kata Shane.
Shane meski jantungnya rasanya mau lepas, akhirnya bergerak dengan cepat mematikan lampu kamar.
Di luar sana, Maria dan Zanuba duduk di atas atap bangunan yang berhadapan dengan Alpha hotel.
Mereka menatap lampu kamar Zizi dan Shane yang kini padam.
"Hmm... Apa kita harus memastikan semuanya lancar?"
Gumam Zanuba.
Plakk!!
Maria menabok kepala Zanuba.
"Balita otak kotor."
Marah Maria.
Zanuba menyeringai sambil membetulkan letak kuncir dua rambutnya yang jadi miring.
**------------**