
Zizi menghela nafas begitu Meri akhirnya menyelesaikan pidatonya yang panjang sampai satu bab.
Mbak Pocong malah sampai ngantuk sambil nyender di dinding sampai hampir ngiler.
"Jadi Shilba Dolores tadinya suka sama Kakek Zizi? Dia bucin tapi ngga mau bilang, trus dia patah hati."
Gumam Zizi.
Meri mengangguk.
Zizi kemudian selonjorin kaki.
"Tapi kalau dipikir-pikir desa-desa peri kalian ini memang pantas dikutuk, salah sendiri suka ngatain Shilba jelek, rasain kan kalian."
Zizi malah ngomelin Meri.
Ali sampai merem-merem mendengar Zizi mengomeli nenek sihir bernama Meri itu.
Meri terkekeh, memang anak manusia yang satu ini sepertinya bukan anak manusia sembarangan.
Mungkin dia percampuran darah kucing oyen.
"Kalau Zizi jadi Shilba juga pasti bukan hanya aku kutuk desa kalian, tapi Zizi musnahkan dengan mendatangkan Naga biar kalian disembur."
Kata Zizi lagi.
Belle yang mendengar Zizi kurang ajar pada Neneknya jadi panas dingin, tapi melihat Shane yang mengawal Zizi, rasanya Belle jadi menciut, belum apa-apa laki-laki tinggi, gagah dan rambutnya gondrong itu menatapnya dan menunjukkan gigi taringnya yang sepertinya bisa merobek kulit siapapun.
Zizi menyandarkan tubuhnya, ia menatap Ali, Shane dan hantu Maria yang sudah macam Bibi sekaligus penasehat istana buat Zizi.
"Gimana gaes, perlu ditolong nggak ini desa para peri ngga ada akhlak, kutukan hasil doyan nggunjing ini apa perlu dipatahkan atau bagaimana."
Kata Zizi.
"Kalau kalian ingin pulang, tentu saja kalian harus melakukannya."
Ujar Meri.
Lori yang berdiri tak jauh dari Neneknya mencuri pandang pada Ali, sungguh Lori suka menatap wajah Ali yang sangat tampan.
Zizi menghela nafas.
"Heran aku baru kali ini mau nolongin mahluk rasanya enggak ikhlas, hahaha."
Zizi malah tertawa, dia sangat santai sekarang.
Ali kemudian terlihat ambil posisi.
"Apa yang harus kami lakukan untuk mematahkan kutukan Shilba Dolores, tentu selain harus melukainya, karena benar kata Kak Zizi semua yang dilalukan Shilba adalah akibat kalian sendiri."
Ali mengatakannya dengan gaya mirip Bapaknya.
Matanya menghujam Meri, dan sekilas menatap Lori yang sedari tadi menatap Ali dari tempat ia berdiri.
Lori demi menyembunyikan rasa malunya karena ketahuan menatap Ali, ia langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Kalian pergilah ke istana Oracle yang kini ditempati Shilba, sejak ia berada di sana kekuatannya semakin besar, tongkat sakti milik Oracle, ambilkan itu untuk kami agar bisa kami berikan pada Oracle."
Zizi mengerutkan kening.
"Cuma itu? Kenapa kalian tidak melakukannya sendiri, jarimu bukannya bisa melakukan apapun, geser kursi, nutup pintu, ganti dinding. Aaah, bisa gantiin kostum mbak pocong nggak tuh, kasihan dia, hahaha..."
Zizi tertawa lagi.
Mbak pocong yang lagi ngantuk jadi melek.
"Apa nih, kuping aku nguing nguing."
Kata Mbak pocong.
"Nguing nguing mah kamu ngga pernah bersihin kotoran kuping."
Sahut Maria.
"Aah kasihan kalau dibersihin, nanti belatung ngga bisa konser."
"Hidiiiih... Belatung."
Maria bergidik.
Meri terdengar terkekeh lagi, saking gelinya membayangkan belatung konser musik rock, gigi palsu Meri copot dan nyaris mengenai kaki Zizi, untungnya Zizi sigap, jadi langsung menghindar dan menendangnya.
Belle yang selalu menjadi cucu yang baik, melompat cepat ke arah gigi palsu nenek nya terpental.
Belle menangkapnya dengan tepat, seperti kipper tim Jerman yang jarang sekali kemasukan gol lawan, yeah siapa lagi jika buka Mister Oliver Kahn.
"Kami bangsa Peri kekuatannya tak berfungsi jika masuk istana Oracle, apalagi jika harus berhadapan dengan tongkat saktinya. Istana itu juga dipenuhi para raksasa, yang kapan saja bisa memakan kami."
Ujar Meri.
Belle memberikan gigi palsu Meri dan kemudian dipasangnya.
"Hmm begitu rupanya."
Zizi mantuk-mantuk.
"Raksasa yang kalian maksud apakah mahluk besar dengan tubuh gempal seperti kendi?"
Tanya Zizi pada Meri dan kemudian menatap Lori yang kembali mencuri pandang pada Ali.
Zizi melirik Ali yang terlihat tak peduli dengan kehadiran Lori.
Zizi terlihat mesem tipis.
Zizi yakin Lori menyukai adik sepupunya itu.
"Ya, raksasa itu mahluk berbadan gempal."
Sahut Belle mewakili Meri.
"Tadi dia nyaris memakan mbak Pocong, kami terpaksa membunuhnya satu."
Kata Zizi.
"Ka... Kalian sudah bisa membunuh satu raksasa? Kapan?"
Tanya mereka antusias.
Zizi yang merasa raksasa itu biasa saja terlihat sangat santai.
"Tadi, pas baru sampai sini, olahraga sedikitlah."
Kata Zizi.
"Waaah keren."
Belle bersorak kagum.
Lori mendekat ke arah Zizi, lalu duduk di samping Zizi.
Ia mengulurkan telunjuknya pada wajah Zizi.
Zizi jelas saja langsung menabok tangan Lori.
"Apa mau colek colek? Tuh Ali aja colek."
Kata Zizi malah menarik tangan Lori untuk ditempelkan pada wajah Ali yang langsung menghindar mendekat ke arah Shane.
Lori jelas saja wajahnya langsung memerah karena malu.
"Aku hanya penasaran, kenapa ada manusia sepertimu."
Kata Lori.
"Kau sepertinya berbeda dengan kebanyakan manusia lain, benar kan Kak Zizi?"
Tanya Lori.
Ali menghela nafas.
"Dia cucu salah satu Naga tertua di muka bumi."
Kata Ali.
Lori menatap Ali, begitu juga Belle dan Meri.
Setelah menatap Ali, mereka beralih menatap Zizi lagi.
"Be... Benarkah?"
Tanya Mereka.
Zizi menunjuk Shane, pengawal pribadinya yang ganteng dan setia.
"Mungkin ngga aku manusia biasa jika pengawalku Kak Seng adalah vampire dan penasehatku Aunty Maria adalah hantu jaman penjajahan?"
Tanya Zizi.
"Kalau aku apa Nona?"
Tanya mbak pocong.
"Kamu penari latar."
Jawab Zizi.
Haiiish, dia juga mulut nya pedas, tapi marahin Meri karena buli Shilba Dolores.
"Ah, baiklah, aku ngga bisa lama-lama di dunia ini, makan cuka kue madu seperti ini mana kenyang aku. Ayo kita bereskan saja, lalu kita pulang, aku pengin makan nasi."
Kata Zizi kemudian yang berdiri dari posisinya.
Meri juga ikut berdiri.
"Lori, tunjukkan telapak tanganmu."
Kata Meri.
Lori kemudian mengulurkan tangannya, dan membuka telapak tangannya yang kemudian mengeluarkan seperti batu kecil berkilauan yang sempat ia tunjukkan pada Ali saat mereka pertama bertemu.
"Batu itu adalah milik Oracle, dia akan menuntun di mana tongkat dengan batu sakti milik oracle disimpan Shilba Dolores. Ia tak akan membawa tongkat itu ke mana-mana lagi, ia pasti menyimpannya agar tak sampai jatuh ke tangan siapapun lagi.
Ujar Meri.
"Jadi aku harus ikut ke istana Oracle, Meri?"
Tanya Lori.
"Tentu saja, kaulah yang membawa kuncinya."
Ujar Meri.
Lori menghela nafas, kini ia berdiri bersebelahan dengan Zizi.
"Kalian berempat, benar, yah, benar kata Oracle, pasangan berbeda alam, Lori dan Ali, serta Nona Zizi dan Tuan Shane. Tentu saja, ini adalah takdir, dan memang sudah keharusan anda berdua yang menyelesaikan masalah di dunia peri ini kan Nona Zizi dan Tuan Ali?"
Meri terkekeh.
"Haiish, yang jatuh cinta siapa, yang susah siapa. Makanya kalian para peri kalau jatuh cinta ngomong, jangan diem bae, giliran patah hati main kutuk-kutukan, susah kan akunya."
Zizi mengomel lagi.
"Cepat nek buka pintu rumahnya, lagian pintu pake diilangin, udah kayak barang bukti saja diilangin."
Kata Zizi.
Maria cekikikan melihat Zizi mengomeli nenek-nenek.
Dasar naga kecil tak ada akhlak.
**-----------**