Zizi

Zizi
33. Kutukan Jayapada


Malam merayap pelahan, langit hitam pekat tanpa bulan dan juga tanpa bintang. Sunyi. Hanya semilir angin yang terdengar menyibakkan rerimbunan daun pepohonan di sepanjang jalan perkampungan yang berada di kaki gunung Slamet.


Perkampungan yang masih menjadi bagian dari peninggalan Kerajaan Galuh Purba itu hanyalah perkampungan kecil yang dihuni beberapa penduduk saja.


Rumah-rumah yang masih terbuat dari bilik bambu, dan juga papan-papan kayu tua dengan kentongan di depan rumah tampak berdiri berjajar di sana. Sementara sawah, ladang terhampar luas seolah mengepung perkampungan kecil itu.


Di tengah malam yang sunyi yang cukup dingin itu, terdengar suara kaki kuda berjalan menyusuri jalanan perkampungan yang masih berupa tanah.


Kuda itu ditunggangi seorang laki-laki berbadan kekar dan gagah.


Matanya tajam seperti Elang, menatap sepenjuru perkampungan itu kalau-kalau ada yang sekiranya mencurigakan. Kedua mata itu terlihat berkilat-kilat, seolah mampu menangkap apapun bayangan yang bersembunyi dalam gelap.


Laki-laki yang membawa pedang berkepala Naga itu menghentakkan kakinya ke badan Kuda hitam besar yang ia tunggangi.


"Aji Manggala, di mana sebetulnya ia bersembunyi, lama sudah ia melarikan diri seperti pecundang yang tak tahu malu."


Geram laki-laki itu.


Laki-laki itu kemudian menghentakkan kakinya lebih keras pada badan sang kuda, hingga kuda hitam besar itupun berlari sangat cepat menembus malam.


"Aji Manggala dan Retnoasih, mereka harus aku dapatkan, aku harus membunuh mereka dengan pedang ciptaan Ayah Retnoasih ini, kelak setelah darah mereka mengalir di pedang ini, maka akan aku sempurnakan dengan darah Pramastri setelah dewasa, hahaha..."


Laki-laki itu terbahak-bahak, rasanya belum apa-apa, membayangkan yang akan bisa ia lakukan pada Pedang yang ia bawa itu sudah membuatnya sangat puas.


Kuda yang ditunggangi laki-laki itu semakin kencang berlari memasuki jalanan yang terjal dan penuh dengan semak belukar, seekor Babi Hutan melintas dan dalam sekejap menjadi sasaran laki-laki itu.


Laki-laki itu melompat sangat cepat dari atas Kudanya, melesat bagai kilat, lalu menghunuskan pedangnya, dan menebas Babi hutan yang baru bersiap menyerangnya.


Pedang itu mengeluarkan semburan api yang sangat panas, yang ketika diayunkan api itu membumbung tinggi ke angkasa.


Tak hanya itu, gemuruh terdengar begitu mengerikan di langit malam yang semula sunyi.


Hitam pekat malam bahkan berubah menjadi merah yang membara.


"Hahahaha... Hahahaha..."


Laki-laki yang tak lain adalah Balasanggeni itu terbahak-bahak mengacungkan pedangnya.


Sementara itu, di sebuah pendopo kecil, yang tak jauh dari bukit dekat pintu gerbang gaib yang menghubungkan jalan menuju puncak Slamet dan juga segara kidul terlihat seorang kakek terkapar di lantai tanah pendopo kecil miliknya.


Kakek itu bersimbah darah, dari perut yang seperti bekas ditebas senjata tajam, dan juga mulutnya yang terus memuntahkan darah.


Matanya melotot menahan sakit, suara rintihannya yang menahan sakit terdengar begitu menyedihkan.


"Balasanggeni... Ku kutuk engkau dengan sumpahku, kau akan menjadi budak Jayapada selamanya."


Suara gemuruh di langit terdengar semakin mengerikan, bertambah-tambah pula kilatan-kilatan sinar semacam petir di puncak Gunung Slamet.


Seekor Naga besar melayang di angkasa, suaranya memekik panjang, menyemburkan api yang sangat besar seolah mengaminkan kutukan kakek yang kini meregang nyawa di pendopo miliknya.


"Hah... Hah..."


Zizi terbangun dari tidurnya.


Keringat dingin tampak memenuhi sekujur tubuh Zizi.


Zizi menatap nanar kamarnya yang kini terlihat sepi.


Mimpi apa barusan?


Pedang Jayapada?


Kutukan?


Balasanggeni?


Zizi menatap jam dinding di kamarnya yang kini telah lewat dua dini hari.


Zizi kemudian bergerak turun dari tempat tidur, ia mendekati kulkas kecil yang ada di kamarnya, meraih satu botol air mineral dingin lalu meneguknya hingga habis.


Bersamaan dengan itu Maria tampak muncul menembus dinding, ia melihat Zizi yang sedang minum air di dekat kulkas.


"Aku baru meninggalkanmu sebentar, ternyata kau sudah bangun Zi."


Ujar Maria.


Zizi mengangguk sekilas, lalu meletakkan botol kosongnya di atas kulkas.


Baru kemudian pergi ke kamar mandi.


Kamar mandi sudah kembali rapih, hanya cermin saja yang jadi tidak ada.


Pecahan cermin tadi sudah langsung dibersihkan Shane dan pengawal lain.


Zizi membasuh wajahnya dengan air dari keran wastafel, lalu setelah itu kembali ke kamarnya untuk berpindah duduk di sofa saja.


"Aku mimpi Jayapada, aunty."


Kata Zizi.


"Pedang mu?"


Tanya Maria.


Zizi mengangguk.


"Laki-laki bernama Balasanggeni itu, membunuh seseorang dan mendapat kutukan, ia mencari dua orang, Aji Manggala dan Retnoasih, bukankah mereka adalah nenek moyang Mama?"


Tanya Zizi pada Maria yang mengangguk membenarkan.


Zizi meraih cincin kecil di kalung yang ia pakai sejak masih kecil. Kalung dengan liontin cincin kecil yang menghubungkan dirinya dengan Jayapada.


"Selamanya menjadi budak Jayapada, apa maksud perkataan kakek tua itu?"


Gumam Zizi yang membuat Maria jadi ikut pusing berpikir.


Tanya Zizi kemudian.


"Tadi pulang sekitar jam dua belas malam."


Kata Maria.


"Mama mengatakan sesuatu?"


Tanya Zizi.


"Soal apa?"


Maria mengerutkan kening.


"Soal rencana pulang ke Indonesia, Ali sudah tidak apa-apa kan?"


Tanya Zizi.


"Ah kau bicara soal Ali, aku jadi ingat."


Kata Maria.


"Ingat apa?"


Zizi menatap Maria.


"Lori, batu bercahaya dari dunia peri milik Lori terpental masuk ke dunia manusia bersama Ali."


Kata Maria.


"Ali?"


Zizi tampak bingung.


"Aku rasa Ali akan memiliki misi bersama Lori suatu saat Zi, kamu berikanlah batu milik Lori itu padanya."


Ujar Maria.


"Di mana batunya?"


Tanya Zizi.


"Di kamar Shane, dia yang menjaga."


Zizi menyandarkan tubuhnya pada sofa.


"Apa Ali akan baik-baik saja setelah ini?"


Gumam Zizi.


"Tadi aku dengar Mama mu bicara dengan Tuan Dave bahwa Ali sekarang melihat hantu, itu sebabnya ia berulangkali berteriak di Rumah Sakit."


Zizi membulatkan matanya.


"Ali melihat hantu?"


Zizi memastikan.


Maria tertawa.


"Dia selama ini hanya bisa merasakan energi mahluk halus saja, kalai toha dia bisa melihat hanya berbentuk seperti asap saja katanya kan? Sekarang ia bisa melihat dengan jelas, pasti dia sangat kaget."


Kata Maria di sela tawanya.


"Kalau begitu besok Zizi akan jenguk Ali sekalian menyampaikan batu milik Lori padanya."


Putus Zizi.


"Setelah itu kita pulang ke Indonesia, Aunty, Zizi harus selesaikan misi ini."


Lirih Zizi.


"Ah Zi."


Panggil Maria.


"Kau harus menemui Putri Arum Dalu juga, bukan kah ia harus menemukan kedua orangtuanya? Raja Dalu dan Ratu Bunga Petak, mereka harus ditemukan juga kan Zi?"


Zizi menghela nafas.


"Ya nanti Zizi akan ke tempat Putri Arum Dalu lebih dulu sebelum berangkat, sekalian antar Mbak pocong pulang ke asalnya."


Kata Zizi.


Maria mengangguk.


"Mbak Pocong ke mana Aunty?"


Tanya Zizi yang kemudian celingak-celinguk mencari mbak pocong yang tak terlihat.


"Tadi dia mau resign, tapi ditangkap Shane dan di gantung di depan kamarnya macam karung tinju."


Kata Maria.


Zizi nyengir.


"Ayo kita kelitikin mbak pocong Aunty."


Kata Zizi malah bersemangat.


Haiish, jam dua dini hari malah kelitikin pocong. Maria padahal sudah ingin tidur.


**-------------**