
Zizi dan Shane berdiri bersebelahan menyambut datangnya Paman Ziyan dan keluarga.
Paman Ziyan terlihat memeluk Zizi dengan erat sambil mencium kening keponakannya.
"Paman tak menyangka sebentar lagi keponakan Paman ini akan menikah, rasanya baru kemarin menggendongmu Zi."
Kata Paman Ziyan.
Zizi tertawa kecil mendengarnya.
Bibi Aisyah juga tak ketinggalan memeluk Zizi, ia mencium pipi Zizi kanan dan kiri.
"Kamu pasti akan bahagia, okey."
Kata Bibi Aisyah.
Zizi tersenyum sambil mengangguk, tak lupa mengacungkan ibu jari juga.
"Oke dong."
Kata Zizi dengan gaya tengilnya yang khas.
Paman Ziyan dan Bibi Aisyah pun terkekeh.
Mereka lantas bersalaman dengan Shane juga, tampak Shane yang kini jauh lebih percaya diri mau diajak Paman Ziyan masuk ke dalam rumah Zion lebih dulu untuk nantinya akan bicara banyak soal bisnis dan lain sebagainya.
"Mama belum sampai ya?"
Tanya Bibi Aisyah, tepat kala pertanyaan itu dilontarkannya, mobil Zia yang di kawal satu mobil pengawal memasuki halaman rumah.
"Itu Mama."
Kata Zizi.
Bibi Aisyah tentu langsung menyambut dengan senang, ia langsung berbalik kembali berjalan untuk menyambut Zia yang baru datang.
Zizi sendiri tampak berpelukan dengan Eva dan Ali.
"Asisten Rumah memasak Iga bakar madu kesukaanmu Eva."
Kata Zizi memberikan kabar baik untuk Eva yang langsung menyambut dengan suka cita.
Ali menatap Marthinus yang turun dari mobil Zia, dan cepat membukakan pintu mobil untuk sang Nyonya.
Marthinus yang tinggi besar dan penampakannya berbeda dengan yang lain itu memang cukup menyita perhatian di mana-mana, bahkan kini Ali juga.
"Bukankah dia Mr. Marthinus? Mahluk campuran itu?"
Bisik Ali pada Zizi yang mengangguk.
"Ya, dia sengaja diminta ikut kami untuk menjadi pengawal pribadi Shane dan Kak Zizi nantinya."
"Waw keren, kalau ada lagi, aku juga mau."
Ujar Ali.
Zizi tertawa.
"Nanti aku akan pesan online."
Sahut Zizi pula, membuat Eva dan Ali juga tertawa bersama.
Mereka lantas berjalan masuk mendahului Ibu mereka yang tampak di luar cipika-cipiki dan bicara khas emak-emak.
Di ruang keluarga yang satu ruangan dengan ruang makan yang super luas, tampak Shane dan Paman Ziyan bicara serius di sofa.
Lesti juga ada di sana, menyajikan minuman untuk Paman Ziyan dan juga kue.
"Uyut apa kabar Al?"
Tanya Zizi pada Ali.
Sambil meneruskan sekolah di salah satu sekolah menengah favorit di Jepang, agar nantinya bisa masuk universitas terbaik juga di sana.
"Uyut baik, dia kirim salah untukmu Kak, nanti setelah acara selesai kau harus ke sana."
Kata Ali.
Zizi mengangguk.
"Tentu, aku akan ke sana."
"Sudah memutuskan akan bulan madu ke mana Kak?"
Tanya Eva nimbrung.
Zizi mengangguk.
"Korea-Jepang?"
Tebak Eva.
Zizi menggelengkan kepalanya.
"Lho? Eropa? Amerika?"
Tebak Eva lagi.
Zizi menggeleng kembali.
"Trus?"
Eva bingung.
"Ke kaki gunung Slamet."
Kata Zizi.
Dan jawaban Zizi sontak membuat Eva dan Ali terperangah, terutama Eva yang selama hidupnya ia sangat normal sebagaimana manusia lainnya.
"Ba... Bagaimana bisa bulan madu begitu..."
Kata Eva,
Zizi garuk kepala.
"Memangnya kenapa? Aneh ya?"
"Ya gimana ya..."
Eva meskipun dulu belum lahir, tapi ia tahu dari kisah yang diceritakan Ibunya, bahwa dulu mereka pernah memiliki sebuah hotel tua di kaki Gunung Slamet di salah satu daerah di Pulau Jawa di Indonesia, dan hotel itu kemudian terpaksa mereka tutup karena danau di dekat hotel memakan korban."
"Apa harus selalu ekstrim ya Kak? Bahkan bulan madupun memilih tempat yang tak lazim."
Gumam Eva.
Zizi menghela nafas.
"Aku ingin ke sana, aku hidup mengikuti naluri, jadi tak ada masalah, dan Kak Seng selalu terserah aku bukan?"
Zizi nyengir.
Ali tertawa.
"Semua orang jika berurusan denganmu akan memilih mengalah Kak."
Kata Ali dan mereka pun jadi tertawa lagi.
**------------**