
Zizi melangkah meninggalkan rumah Meri bersama pasukannya ditambah Ali dan Lori.
Dengan Lori yang berjalan paling depan karena ia yang tahu jalan tanpa harus naik ke atas daun-daun di hutan bunga, mereka pun menuju istana Oracle yang kini dikuasai oleh Shilba Dolores.
Zizi terlihat mengawasi sekeliling, hutan bunga yang kini mereka masuki sejatinya tak seperti hutan di dunia manusia, pun juga apalagi di dunia siluman.
Hutan di dunia peri lebih terang, aromanya juga wangi karena yang tumbuh di sana adalah berbagai macam bunga.
Hanya sesekali saja terlihat ulat mengintip dalam celah rimbun daun dalam ukuran yang hampir sama besarnya dengan tubuh mereka.
Zizi terus berjalan mengikuti Lori, begitu juga Ali yang berjalan tepat di belakang Lori, sedangkan Shane berjalan paling belakang karena untuk menjaga bila ada serangan dari arah belakang mereka.
Hantu Maria dan Mbak Pocong ada di atas dedaunan, Maria melayang dan mbak pocong memantul.
(Ini kalau difilm kan Disney, pocong masuk dunia peri wkwkwk)
"Shilba Dolores, apa kamu pernah melihatnya Lori?"
Tanya Zizi yang berjalan di sisi kiri Ali.
Lori yang tiba-tiba ditanya menoleh pada Zizi, tepat saat di depannya ada air menggenang yang Zizi dan Shane sebelumnya juga hampir tercebur.
"Aku belum per..."
"Awas air."
Ali menarik tangan Lori karena mata Lori meleng ke arah Zizi untuk menjawab pertanyaannya.
Lori pun jatuh ke pelukan Ali.
Sejenak keduanya saling bertatapan.
Zizi yang melihat adegan ala drama Beauty and The Beast itu jadi memilih melipir lebih dulu, begitu juga dengan Shane.
Ali yang kemudian sadar lebih dulu begitu sudut matanya menangkap Zizi meninggalkannya segera melepas tubuh Lori. Keduanya terlihat canggung satu sama lain.
Lori melihat ke arah genangan air yang seperti danau berbentuk telapak kaki besar, sepertinya itu bekas telapak kaki salah satu raksasa penjaga istana Oracle yang kini di kudeta Shilba Dolores.
Lori kembali ke arah Ali yang terlihat berusaha mengatur nafasnya lalu akan segera menyusul Zizi.
"Terimakasih Ali."
Kata Lori lembut.
Ali hanya mengangguk tanpa mengatakan apa-apa dan melangkah ke pinggir melewati air itu.
Lori mengulum senyuman.
Laki-laki manusia apakah selalu semanis itu? Batin Lori.
(Yang pahit lebih banyak dongs, othor lewat sebagai kupu-kupu)
"Entah ini benar atau tidak, tapi tujuan kita adalah pulang, benar kan Kak Seng?"
Tanya Zizi pada Shane yang kini berada di dekatnya.
"Ya Nona, kita di sini rasanya masih setengah hari saja, tapi di dunia manusia pasti sudah lebih dari tiga hari, saya khawatir Nyonya Aisyah sakit karena memikirkan Tuan Muda Ali."
Ujar Shane.
Zizi mengangguk membenarkan.
"Itu sebabnya, kita selesaikan hari ini juga, agar malam nanti kita bisa pulang."
Zizi menengok ke arah Ali yang kini sudah menyusulnya.
"Lihat anak itu, malah dia jalan duluan meninggalkan ceweknya."
Zizi menggelengkan kepalanya.
Shane jadi ikut menoleh.
Ah apa bedanya dengan Zizi, tidak peka dengan perasaan orang, eh perasaan vampire. Sudah berkali-kali Shane mengucapkan cinta juga Zizi tetap saja seperti tak ada bedanya.
Sama sekali tak terlihat seperti gadis lain yang akan jadi manis-manis manja pada pasangannya, Zizi seolah tetap memperlakukan Shane sebagai pengawal pribadi saja.
Ah entahlah, Shane juga tidak tahu aslinya perasaan Nona mudanya pada Shane itu bagaimana?
Padahal setiap kali Shane mengingat saat dulu Shane pergi dan kemudian dicari Zizi sendirian ke desa-desa yang semua orang jadi zombie, mengabaikan bahaya yang mengancamnya demi Shane, rasanya Shane begitu terharu merasa dianggap penting oleh Zizi.
"Ali, cepatlah, kita harus segera pulang."
Kata Zizi pada Ali.
Ali yang tengah berjalan menyusul Zizi tampak baru akan mempercepat langkahnya, manakala tiba-tiba ia melihat seekor ulat bulu turun dari daun di atas Zizi.
"Ulat Kak."
Teriak Ali pada Zizi.
Zizi segera melompat, dilihatnya ulat bulu yang kelihatannya sangat gatal itu menjulur ke arah mereka.
Ulat bulu itu kemudian bukan hanya satu ekor, namun ternyata banyak sekali kembarannya mengikuti.
"Ah Ulat bulu api."
Teriak Lori dari belakang Ali.
Ali terlihat berdiri melindungi Lori, sementara Shane dan Zizi bersiaga.
"Aduh lihat kalian aku langsung pengin garuk-garuk."
Kata Zizi pada rombongan ulat.
"Kalian bangsa apa mengacak-acak wilayah kami?"
Tanya si pemimpin ulat bulu.
"Kami tahu tadi kalianlah yang memantul-mantul di atas daun hutan bunga bukan?"
"Gara-gara kalian banyak telur kami menggelinding dan tak bisa lagi menetas, kalian harus dihukum."
Kata pemimpin ulat bulu marah.
Zizi menepuk jidatnya, ini gara-gara ide mbak Pocong.
Ulat bulu itu bergerak pelan menuju Zizi dan teman-temannya, saat kemudian Lori akhirnya menyeruak ke depan.
"Hai ulat, tolong lepaskan kami, maafkan teman Lori, dia pasti tidak tahu di dedaunan itu banyak telur kalian."
Kata Lori.
"Kau cucu Meri bukan?"
Pemimpin si ulat bulu bertanya.
"Kami akan ke istana Oracle, mereka akan menolong kita terbebas dari kutukan Shilba Dolores."
Ujar Lori.
"Mereka? Bagaimana bisa?"
Pemimpin ulat bulu menatap Zizi, Ali dan Shane bergantian.
"Mereka memang ditakdirkan untuk menolong kita ulbul, jadi tolong lepaskan mereka."
Si ulat bulu belum menjawab tiba-tiba terdengar suara hentakan kaki yang sangat besar hingga tanah di sekitar mereka seolah bergoyang.
"Para raksasa."
Kata si ulat bulu yang langsung panik melarikan diri.
"Raksasa itu, mereka datang."
Zizi mengangguk.
"Baguslah, kita hajar mereka cepat, aku sudah lapar."
Kata Zizi yang justeru melompat dan lari ke arah asal suara langkah kaki itu.
Shane pun segera melesat mengejar Zizi.
"Ayo."
Kata Ali yang kemudian gantian menarik tangan Lori untuk menyusul Zizi juga.
Suara hentakan kaki itu kian dekat dan sepertinya jumlahnya cukup banyak.
Berdebum menggetarkan tanah dan terdengar seperti tanaman-tanaman di hutan bunga di cabut paksa lalu di hempaskan jauh.
"Ziziiiii, hati-hatiiii."
Terdengar kemudian suara Aunty Maria.
Zizi menatap ke atas di mana tepat sebuah kaki nyaris menginjaknya.
Zizi cepat melompat dengan sigap, raksasa yang ukurannya dua kali lipat besarnya dari yang pertama Zizi dan Shane temui.
Shane melesat terbang ke atas, naik ke bahu sang raksasa.
Raksasa itu matanya merah menyala, badannya keras seperti batu.
Shane melesat cepat, mengarahkan kukunya yang tajam ke arah wajah sang raksasa, namun tangan sang raksasa lebih dulu menyambar Shane dan menangkap tubuh Vampire itu.
"Jadi kau yang membunuh teman kami?!"
Suara raksasa itu menggelegar, seiring dengan suara hentakan langkah raksasa lain yang mendekat.
Raksasa-raksasa itu mengamuk merusak hutan bunga, mencabut dan menghempaskan semua tanaman dan bunga yang tumbuh di hutan bunga.
Lori begitu panik melihat hutan bunga para peri dirusak.
"Ali kita harus membuat mereka meninggalkan hutan bunga, jika semua rusak kami tak akan bisa makan tahun baru nanti tak ada madu."
Ali yang mendengar Lori, akhirnya bergerak cepat.
"Aku alihkan mereka."
Kata Ali.
Ali berlari menuju kaki raksasa yang menangkap Shane, dari tangan Ali muncul seperti sumber panas api, dihantamkannya tangan Ali ke kaki raksasa, bersamaan dengan Zizi yang juga sedang menyerang si raksasa yang menangkap Shane.
"Kak Zizi kita bawa mereka keluar dari hutan bunga."
Kata Ali.
Zizi mengangguk.
Mendapat serangan dari dua manusia di kakinya membuat raksasa itu menggeram keras.
Ali dan Zizi segera berlari menuju keluar dari hutan. Lori juga ikut melayang menyusul mereka.
"Lepaskan teman kamiiiiiii, ciaaaaaat..."
Hantu Maria meloncat bersama mbak pocong ke arah kepala sang raksasa yang kini berusaha mengejar Zizi dan Ali sementara tangannya masih memegangi Shane yang berusaha terlepas.
Maria menarik-narik telinga sang raksasa, sementara mbak pocong di atas kepala raksasa menjedot-jedotkan kepalanya.
Sang raksasa yang kepalanya jadi pusing terlihat menggelengkan kepalanya supaya dua mahluk aneh itu terlempar, tapi mbak pocong dan Maria bertahan.
Maria malah bertambah bar-bar dengan menendangi gendang telinga si raksasa dengan kakinya yang masuk ke arah telinga.
"Budek dah loooo..."
Kata Maria.
**-----------**