
Zizi dan Shane berjalan menjauhi hotel di hari yang telah gelap diiringi Maria yang melayang-layang dengan gaun berendanya.
Ada sebuah pohon besar yang cukup tua tak jauh dari hotel, letaknya dekat jalan raya.
Begitulah Maria memberikan informasi pada Zizi terkait pintu menuju alam lain untuk mereka meneruskan perjalanan ke tempat eyang sapu jagad.
Sebetulnya Zizi sebelum bertemu Putri Arum Dalu sempat berpikir jika ia akan langsung ke Merapi.
Ia akan naik kereta menuju jogja, lalu akan jalan-jalan sebentar di Malioboro, baru kemudian naik ke Merapi.
Tapi nyatanya, yang dimaksud Merapi ternyata bukan semacam anak pecinta alam yang cuma tinggal naik gunung lalu semuanya selesai.
Zizi harus tetap mengikuti jalan para lelembut karena ia sendiri tak tahu persis di mana sebetulnya letak pintu menuju tempat eyang sapujagad.
Jika menurut penuturan Putri Arum Dalu, jelas jika Zizi telah melewati tujuh hutan para siluman, maka dengan sendirinya zizi akan menemukan tempat sang eyang.
Bisa jadi, memang begitulah keharusan yang menjadi syarat untuk bertemu dengannya.
Ah sungguh melelahkan.
"Nah itu Zi pohonnya."
Tiba-tiba terdengar Maria berkata dengan semangat.
Zizi melihat pohon besar tua yang ada di dekat jalanan yang minim penerangan.
Jalan sudah mulai sepi karena sudah mendekati tengah malam.
Zizi melihat banyak kelip kunang-kunang di dekat pohon, persis sebagaimana yang diberitahu Putri Arum Dalu.
Zizi dan Shane bergegas ke sana, begitu mereka mendekat, tiba-tiba seorang perempuan bergelantung terbalik mengagetkan.
"Dodol."
Zizi menabok kepala perempuan itu agar minggir.
Aaaaaa...
Perempuan hantu itu ngibrit sambil memegangi bagian kiri kepalanya yang panas kena tabok Zizi.
"Makanya kalau mau penampakan lihat dulu siapa korbannya."
Maria melihat hantu perempuan yang menjauh.
"Pasti sudah banyak yang lihat dia di sini, makanya jalanan sepi."
Kata Zizi.
Maria mantuk-mantuk.
Zizi tampak meletakkan tangannya di batang pohon yang terlihat berongga.
Saat kemudian ada seperti kabut menyelimuti mereka, Zizi mencoba meraih tangan Shane, menariknya agar berjalan mengikuti Zizi.
Aneh, jalanan di depan mereka terasa luas, padahal harusnya mereka tak akan bisa melangkah lagi karena mentok ada pohon besar di depannya.
Tapi...
Zizi yang mengikuti nalurinya terus berjalan sambil menarik Shane, sampai akhirnya kabut itu pelahan menghilang dari pandangan dan berganti pemandangan yang sama sekali berbeda.
Zizi dan Shane menghentikkan langkahnya, Maria yang mengikuti Zizi juga kini berhenti.
Mereka menatap ke arah depan mereka, di mana di sana ada sebuah desa yang sangat asri, luar biasa asri.
Hamparan sawah, ladang, sungai dan juga bukit-bukit tinggi hijau menjulang berbaris-baris.
Terdengar kemudian suara gamelan dan musik-musik ramai ditabuh dari jauh.
Zizi menoleh pada Maria dan juga Shane di sisi kanan dan kirinya.
"Kalian dengar juga musik-musik itu?"
Tanya Zizi.
Shane mengangguk.
Berbeda dengan suara suling lagu Sunda yang Zizi dengar saat menuju tempat Putri Arum Dalu, di mana suaranya begitu mendamaikan hati, kali ini musik itu terdengar begitu berisik.
Zizi dan Shane kemudian kembali melangkahkan kaki mereka menapaki jalanan yang masih dari tanah saja.
Kanan kiri mereka terhampar luas sejauh mata memandang area pesawahan yang hijau menyejukkan mata.
"Ada hajatan atau apa sebetulnya?"
Maria yang penasaran melayang lebih dulu, ia mendekati orang-orang yang kini tengah ramai bergerombol seperti di lapangan desa.
Maria mengintip ke arah tengah lapangan yang kini terlihat dua orang perempuan menari dengan lunglai.
Zizi dan Shane akhirnya tiba juga di sekitar lapangan tersebut.
Namun karena letak lapangan mengharuskan Zizi turun dari jalanan dan masuk ke lapangan membuat Zizi jadi malas.
Maria menatap orang-orang di desa itu yang semuanya menonton dua perempuan di tengah lapangan sedang menari.
Ekspresi orang-orang yang menonton dua penari itu datar saja, tak terlihat senang, tapi entah kenapa dua perempuan yang menari itu tetap terus menari padahal sudah jelas gerakan mereka sudah tak jelas karena lelah.
Maria baru akan melayang menuju Zizi dan Shane lagi, manakala tiba-tiba salah satu penari di tengah lapangan itu ambruk ke tanah, namun para warga desa kemudian siap menggeruduknya hingga penari itu berdiri lagi dengan payah lalu kembali menari.
"Mereka sudah lelah, kenapa tidak kalian suruh berhenti? Lihatlah gerakan mereka sudah sama sekali tak bagus."
Ujar Maria.
Dan kata-kata Maria itu membuat musik seketika terhenti, orang-orang yang berkerumun menonton tarian itupun langsung menatap Maria.
Mereka semua jelas merasa terganggu oleh Maria yang tiba-tiba saja nimbrung dan komentar seperti netizen julid.
"Kau hantu."
Kata salah satu dari mereka pada Maria.
"Ya aku hantu, kenapa memangnya?"
Tanya Maria.
"Kenapa kau ikut campur urusan kami?"
Zizi dan Shane di atas jalan kampung yang melihat Maria dikeroyok tampak menghela nafas.
"Kenapa Aunty harus nimbrung bikin masalah? kita harusnya lewat saja."
Kesal Zizi bergumam melihat Maria di lapangan ribut dengan para lelembut.
"Aku bukan ikut campur, aku hanya kasihan melihat dua penari itu sampai lelah begitu, sudah berapa lama mereka menari begitu?"
Ujar Maria.
"Mereka akan menari di sini sampai dunia kiamat, saat masih hidup mereka meminta kami membantu mereka laris ditonton orang, terlihat menarik tariannya hingga digandrungi manusia, kini mereka sudah mati, jadi sudah saatnya membalas budi."
Kata salah satu dari mereka yang seperti nyai-nyai dengan mulut penuh sirih.
"Aunty..."
Zizi yang tak mau Maria nanti semakin terlibat masalah lebih jauh akhirnya mendekati kerumunan siluman tersebut.
Dan begitu melihat Zizi muncul di sana, orang-orang itu melonjak kaget.
Gaya kaget mereka tidak seperti manusia yang jika kaget hanya cukup melompat, gaya kaget mereka sampai mata mereka pada copot dan menggelinding.
"Cucu Bandapati, cucu Bandapati..."
Mereka ribut sekali sambil berusaha mengejar bola-bola mata mereka yang berceceran dan menggelinding, dan karena mereka terlalu terburu-buru akhirnya mereka salah ambil bola mata, tertukar-tukar membuat mereka ribut sambil melarikan diri dari Zizi.
Zizi celingak-celinguk, bingung kenapa Zizi belum juga apa-apa mereka sudah bubar.
Kini tinggal si nyai tua yang mulutnya penuh sirih saja.
Ia mendekati Zizi sambil terkekeh.
"Cucu Bandapati yang namanya cetar membahana kini terpampang nyata di hadapanku, sangat mengagumkan, kau begitu mirip dengan nya. Auramu Nona, sangat kuat."
Kata si nyai sirih.
"Hah, aurat?"
Zizi menatap Shane yang langsung tersedak.
Bzzt... bzzzt... bzzzt...
**-------------**