Zizi

Zizi
111. Kejutaaaan


"Zizi tidur bentar ah, capek, ngantuk."


Kata Zizi tiba-tiba sambil bangkit dari duduknya.


Arya yang sejatinya masih ingin menghabiskan waktu berdua bersama Zizi refleks meraih tangan Zizi dan menahannya pergi.


Zizi sejenak tampak terkejut.


Ditariknya tangannya dari genggaman Arya.


Arya terkesiap.


Tak menyangka Zizi akan menarik tangannya saat ia genggam.


Ada apa? Kenapa? Biasanya tidak begitu kaku, kenapa jadi begini? Arya menatap nanar gadis di depannya.


"Zizi ngantuk Kak."


Kata Zizi lagi.


Arya diam.


Masih mencoba memahami situasi yang aneh di antara mereka sekarang.


Apakah semua karena Shane?


Tiba-tiba pikiran itupun melintas.


Ya, perubahan sikap Zizi padanya pasti bukan tanpa sebab, tapi karena Zizi merasa sudah ada seseorang di sampingnya, dan itu adalah...


Arya berdiri dari posisi duduknya, menatap Zizi yang berjalan meninggalkan balkon dan dirinya.


"Zi..."


Panggil Arya.


Panggilan Arya membuat Zizi pun akhirnya sejenak menghentikan langkahnya lagi, gadis itu menoleh ke arah Arya yang kini berjalan mendekat.


"Ada apa lagi Ka? Nanti kalo Zizi sudah ngga capek, coba Zizi akan bantu mecahin kasus mayat perempuan yang memangku boneka."


Ujar Zizi.


Tapi...


Arya menggeleng. Ekspresi wajahnya sulit dimengerti oleh Zizi.


Ya... Sebetulnya ada apa dengan cinta? Eh maksudnya ada apa dengan Kak Arya?


"Bukan soal kasus, ini soal kita."


Tiba-tiba Arya mengatakan kita untuk menjelaskan dirinya dan Zizi.


"Kita? Kenapa?"


Zizi benar-benar bolot.


Arya menghela nafas.


"Zizi tahu kan perasaan Kak Arya? Dari kecil, Kak Arya seperti apa sama Zizi, pasti Zizi paham kan?"


Arya menatap lekat-lekat wajah Zizi yang cantik dan imut.


Zizi diam saja, yang ia lakukan hanya membalas tatapan mata Kak Arya padanya.


Kak Arya kemudian semakin mendekati Zizi, hingga kemudian jarak mereka sudah tinggal berapa senti saja, Arya akhirnya...


"Kak Arya mencintaimu Zi."


Wuuuuuzzzz...


Di luar sebuah piring terbang lewat.


Zizi menoleh sejenak keluar, lalu menghadap Arya lagi yang terlihat mengepalkan tinjunya ingin bogem pemilik piring terbang.


"Kenapa Kak Arya?"


Zizi minta Arya mengulangi pernyataan cintanya.


Arya menghela nafas.


Sabar... Sabaar... Orang sabar kuburannya lebar.


Arya menatap Zizi lagi.


Lalu...


"Kak Arya cinta sama kamu Zi."


Arya akhirnya mengulangi pernyataan cintanya pada Zizi.


Zizi yang mendengar pernyataan cinta Arya terlihat mengerjap-ngerjapkan matanya menatap Arya.


Mungkin... Atau andai...


Andai pernyataan cinta itu Zizi dengar saat dulu Zizi masih SMP, atau baru akan masuk SMA, pasti Zizi akan langsung lompat sampai ke Tugu Pancoran.


Tapi...


Kenapa harus sekarang justru pernyataan itu baru Zizi dengar?


Selama ini kemana hati Kak Arya sebetulnya?


Kucing katanya?


Kak Arya sempat bilang jika ia dulu mengabaikan Zizi karena anak Cila dan Mici, tapi...


Zizi tak sebodoh itu.


Zizi tahu ada gadis lain dulu yang disukai Kak Arya.


Arya akan mencoba meraih tangan Zizi lagi, namun Zizi cepat menghindar.


Zizi sambil tertunduk akhirnya menjawab pernyataan Arya.


"Maaf Kak, Zizi..."


Wuuuuuzzzz...


Piring terbang lewat lagi.


Arya ikut keluar lagi, menatap Zizi dengan tatapan nanar.


Sebetulnya Arya sudah enggan mendengar kalimat selanjutnya yang akan diucapkan Zizi.


Karena, kalimat yang sudah diawali dengan kata maaf biasanya ujungnya akan sangat tidak enak.


Dan...


Zizi kembali menatap Arya, lalu tersenyum.


"Buat Zizi sekarang, Kak Arya adalah kakak Zizi."


Jreeeeng... Jreeeeng...


(🎶hancur hancur hancur hatiku


hancur hancur hancur hatiku🎶)


"Apa? Hantu? Dewi?"


Sementara kedua anak muda di lantai dua sedang drama, Zia di lantai satu rumahnya, di ruang TV terlihat langsung panik begitu mendapat telfon dari Zion.


Zion menelfon Zia karena di hotel ada sedikit kekacauan, dan ia berharap Zia bisa datang ke hotel untuk menemaninya.


"Ya sudah, tunggulah, aku akan ke sana."


Kata Zia.


"Tak usah melakukan apapun, cukup temani aku saja, aku takut Dewi penampakan di depanku dan aku sendirian."


Ujar Zion di seberang sana.


"Iya aku tahu."


Kata Zia pengertian.


Ya tentu saja, siapa yang lebih mengerti sosok Zion selain dirinya. Zion yang saat jadi hantu juga takut pada hantu, sampai sekarang juga masih sama saja.


"Mbak Ning, tolong bilang ke salah satu pengawal untuk antar saya ke Jakarta sekarang."


Ujat Zia.


Mbak Ning mengangguk lalu bergegas menuju ruang depan, sedangkan Zia ke lantai atas rumahnya.


Tepat saat Zia sampai di lantai atas dan akan berbelok ke arah kamarnya, ia melihat Kak Arya yang berjalan cepat menuju kamarnya, lalu masuk ke dalam kamar seraya menutup pintu dengan sedikit membantingnya.


Zia kemudian melihat Zizi berjalan lemas, juga menuju kamarnya.


Ada apa mereka?


Bertengkar?


Masih saja seperti saat kecil dulu.


Zia tampak geleng-geleng kepala melihat kelakuan anak-anaknya.


Hingga, hp Zia kembali ada panggilan masuk, dari Zion lagi.


"Sudah menuju ke sini Ma?"


Tanya Zion yang seperti sungguh-sungguh tak sabar.


"Lah Pa, belum juga lima menit, sabar lah."


Kata Zia sambil melanjutkan langkahnya menuju kamar.


"Ya sudah, nanti kalau sudah jalan kabarin ya, Papa ke hotel kalau kamu sudah deket."


Ujar Zion.


Haiiish... Zia mendesis.


Zion mematikan sambungan telfonnya, Zia pun segera masuk ke dalam kamar.


Zizi sendiri seolah tak begitu peduli saat melihat Mamanya masuk ke dalam kamar, Zizi mulai merasa tubuhnya benar-benar lelah, yang ia inginkan sekarang hanya istirahat.


Lagipula pikiran dan perasaannya sedang kacau gara-gara pembicaraan nya dengan Arya barusan.


**-------------**


Zombie Hotel,


Perempuan tamu hotel yang pagi tadi melihat penampakan kini duduk di sofa lobby.


Ia minta langsung cek out dan pindah hotel.


Di lobby, perempuan itu ternyata tidak sendiri, melainkan ada beberapa tamu lain yang akhirnya juga cerita pintu kamarnya diketuk-ketuk tapi pas dibuka tak ada orangnya.


Ada juga tamu yang cerita kamarnya bukan diketuk, tapi ditelpon menawarkan layanan kamar.


Ada lagi yang lain cerita malah katanya tidak tiba-tiba di anterin handuk lagi oleh karyawan hotel yang bernama Dewi.


Macam-macam kisah teror hantu Dewi, akhirnya membuat beberapa tamu hotel memilih hengkang, meskipun banyak juga yang malah merasa justeru itulah sensasi yang ingin mereka rasakan.


Tidur di hotel zombie dengan melihat hantu beneran.


"Pokoknya kalau saya sih, mau bentuknya Pocong juga tak masalah, tapi jangan yang berdarah-darah seperti tadi."


Ujar si perempuan yang pagi tadi melihat penampakan Dewi.


Pernyataan itu disambut anggukkan teman-temannya.


"Iya bener, masih mending pocong."


Kata mereka.


Dan baru saja mereka selesai bicara, tiba-tiba...


Bukg!!


Para tante sosialita itupun seketika melihat ke atas meja di tengah sofa yang mereka duduki sambil menunggu para suami mereka, dan...



"Aaaaaaaaa... Pocoooooong."


**------------**