
"Kamu yang bunuh aku."
"Kamu."
"Kamu duluan."
"Enggak."
Dan dua hantu itu ribut macam emak-emak yang rebutan minyak goreng murah tinggal satu bungkus.
Zizi yang kesal akhirnya menjambak keduanya.
"Diaaaaam!!"
Bentak Zizi, membuat kedua hantu itu akhirnya diam.
"Kamu mati duluan di Gunung Salak, tadinya ngapain kamu di sana?"
Tanya Zizi.
"Aku biasa jalan-jalan ke sana, tidak sampai puncak, hanya sekitaran pos satu saja."
Jawab si hantu perempuan yang mangku boneka.
"Kamu ke sana sama siapa?"
Tanya Zizi.
"Tuh, sama cangcorang."
Hantu itu menunjuk hantu Dewi.
"Kamu tuh belalang sawah."
Kata si hantu Dewi tak mau kalah.
Zizi jadi menjambak keduanya lagi.
"Cerita yang bener!"
Kesal Zizi.
Ni dua hantu bener-bener buang waktu. Batin Zizi.
"Hari itu aku mau ngerayain tiga tahun kebersamaan dengan tunanganku, tiba-tiba dia datang nyusulin."
Kata si hantu yang meninggal di gunung salak.
"Trus?"
Tanya Zizi.
"Trus ya kita ribut, aku tahunya kan mereka udah putus, tapi malah nyusulin."
Kata si hantu yang meninggal di gunung salak.
"Kamu selingkuhan tunangan dia?"
Zizi beralih melihat hantu Dewi.
"Dia yang selingkuhan pacarku."
Kata hantu Dewi.
"Aku sama ini belalang sawah dulu temen deket di sekolah, lalu ternyata di belakangku dia hubungan sama pacarku."
"Dia bilang kalian sudah putus, dia nembak aku, apa salahnya aku terima."
"Tapi kamu tiap kali aku tanya ngga pernah ngaku, itu tandanya kamu juga ngerasa bersalah."
"Ya tapi kan itu masa lalu, dia kemudian udah jadi tunanganku, kenapa kamu mau jalan lagi sama dia?"
"Ya karena aku kesel kalian juga melakukan itu di belakangku dulu."
Dua hantu itu ribut lagi.
Zizi menghela nafas.
"Ni kalian ribut cowok satu modelnya kayak gimana sih, penasaran Zizi mah, coba sama Kak Seng gantengan mana?"
Zizi tiba-tiba menunjuk Shane, yang sontak membuat dua hantu perempuan itu menatap ke arah Shane.
Shane yang jadi dipandangi dua hantu dan juga Zizi jadi mengurut kening, ia bingung harus bereaksi apa.
Lalu...
"Ganteng dia sih."
Kata si hantu Dewi.
Hantu yang meninggal di gunung salak menghampiri Shane.
"Mas nya jomblo ngga?"
Belum lagi Shane menjawab, tentu saja satu tendangan maut langsung membuat hantu yang meninggal di gunung salak itu terpental jauh entah ke mana.
"Berani-beraninya ganggu Kak Seng."
Kata Zizi.
Hantu Dewi melongo.
"Kalian pacaran?"
Zizi dan Shane langsung menoleh ke arah Hantu Dewi yang langsung membentuk dua jarinya menjadi huruf V sambil nyengir lucu.
"Udahlah, capek aku ngurusin masalah kalian, kamu karyawan hotel Papa kan? Yang namanya Mbak Dewi?"
Tanya Zizi.
Hantu Dewi mengangguk.
"Papa sampe sibuk karena kamu gangguin tamu."
Omel Zizi.
"Aku ngga niat nakutin Nona Zizi, aku hanya mengisi waktu luang untuk bekerja, aku kan rajin."
Kata hantu Dewi.
Haiiish... Zizi mendesis.
"Hantu mendingan tidur aja, kalau rajin malah bikin dunia manusia ruwet."
Kata Zizi.
"Mayatmu belum ketemu kan? Di mana tempatnya? Biar Zizi yang lihat dulu."
Ujar Zizi.
Hantu Dewi tentu saja senang bukan main.
"Di kebon Nona, ada pekarangan dekat pemakaman warga di sekitar kos ku, aku di sana."
Kata si hantu Dewi.
Zizi memandang Shane, lalu tampak Shane mengangguk.
"Kak Seng akan ambil mobil, kita turun."
Kata Zizi.
Hantu Dewi ikut turun bersama Zizi, sementara Shane melesat cepat kembali ke Alpha hospital untuk mengambil mobil di parkiran.
"Dia bukan manusia ya Non?"
Tanya hantu Dewi kepo.
Plak!!
Zizi menabok kepala hantu Dewi.
"Ngga usah nanya urusan orang, urusin urusanmu saja."
Kesal Zizi.
"Aku tadi pagi lihat hantu None Belanda ke hotel, dia ngejar-ngejar aku, serem banget."
Kata hantu Dewi malah curhat.
Zizi menggeleng.
"Bodoh, dia itu Aunty Maria, harusnya kamu jangan lari, kalau pagi tadi kamu langsung nemuin dia, pasti Kak Arya ngga akan sampai terluka. Kak Arya, dia kenapa sampai sekarat?"
Marah Zizi.
Hantu Dewi menggeleng.
"Bukan aku Non, itu pasti ulah si belalang sawah, dia ngga mau mayatku ditemukan, dia pengin aku membusuk di tempatku meninggal."
Kata hantu Dewi sedih.
"Dia jahat karena kamu bunuh dia kan? Jadi ID Card yang tertinggal di gunung salak itu punya mu?"
Zizi menatap Hantu Dewi.
Dewi membulatkan matanya.
"Id Card? Nona Zizi melihatnya? Aku mencarinya ke mana-mana."
Kata hantu Dewi.
Zizi menggelengkan kepalanya.
"Bukan aku yang lihat, tapi hantu lain, dia cerita kalau dia lihat id card pembunuh perempuan yang mayatnya memangku boneka."
"Aaah iya, itu boneka hadiah dari tunangannya. Sebetulnya hari itu aku juga di undang oleh cowokku itu, kita janjian ketemu di sana sekalian mengenang kebiasaan kami dulu yang suka mendaki. Ternyata aku lihat belalang sawah juga di sana, kami ribut karena ya Nona tahulah, ya kami ribut-ribut, trus si belalang sawah tiba-tiba ngancam-ngancam mau bunuh diri, cowokku yang juga tunangan dia mencoba melepaskan pisau dari tangan dia tapi malah menusuknya, intinya akhirnya dia meregang nyawa di sana."
"Kenapa kalian tinggalin mayatnya bodoh!"
Marah Zizi lagi.
"Ya cowokku takut, aku juga takut, gimana lagi, dia kita taruh deket jalan yang mudah ditemukan orang karena tak jauh dari jalur pendakian."
Ujar hantu Dewi.
"Cowok kalian trus ke mana?"
Hantu Dewi menggeleng.
"Aku tidak tahu Nona. Sejak hari itu aku dan dia nggak lagi berhubungan, aku rasa dia melarikan diri atau entahlah."
"Kalian harusnya tetap diproses hukum, tapi karena kamu sekarang juga sudah mati jadi ya otomatis tidak bisa."
Gumam Zizi.
Tak lama berselang, Shane datang dengan mobil yang dikendarainya.
Zizi menarik rambut hantu Dewi agar ikut masuk ke dalam mobil.
"Kita temukan mayatmu, biar aku bisa langsung lapor polisi."
Kata Zizi.
Mobil meluncur menuju tempat yang ditunjukkan Hantu Dewi.
Tak sampai setengah jam perjalanan, akhirnya mobil berhenti di dekat tikungan. Zizi turun bersama hantu Dewi yang lebih dulu keluar menembus pintu mobil.
Shane turun, mengunci mobil dan mengikuti keduanya.
Hantu Dewi menunjuk tanah pekarangan yang dekat gang menuju pemakaman umum.
"Aku di sana... temukan tubuhku Nona Zizi... Temukan tubuhku."
Hantu itu nelangsa, melayang di belakang Zizi.
Zizi berjalan masuk ke sebuah pekarangan yang ada tumbuh beberapa pohon bambu dan juga pohon Pete.
Semak belukar juga tampak begitu banyak tumbuh di sana, Zizi terdiam sejenak manakala setelah cukup masuk ke dalam kemudian ia melihat sebuah sumur tua yang ditutup papan, di dekatnya ada sebuah rumah reyot yang sudah lama tak dihuni.
Malam merayap pelahan, bulan menggantung di sisi langit dengan cahaya remang-remang.
Hantu itu melayang ke arah sumur.
"Jika bukan demi Kak Arya, aku tak akan menolongmu, kau harus ingat itu!!"
Kata Zizi kesal.
Hantu itu menyeringai.
Sementara Shane yang mendengar Zizi menyebut nama Arya sontak terkesiap.
Kenapa demi kak Arya? Batin Shane.
**-------------**