
Shane berdiri tertegun di dekat pintu utama di mana ia dan Paman Marthinus sedang bicara dengan penjaga manakala tiba-tiba Zizi dan Maria turun dari lantai atas.
Sejenak, Shane dan Zizi hanya saling menatap, haru, bahagia, dan sekaligus kaget karena mendapati waktu pertemuan yang lebih cepat dari yang diduga membuat mereka seperti konslet sebentar.
Zizi...
Sungguhkah itu dia?
Batin Shane tergetar.
Marthinus yang melihat dua anak muda itu malah hanya mematung akhirnya mendorong Shane hingga terhuyung ke arah Zizi.
Sebaliknya, Maria melayang ke arah Marthinus yang mengajak para pengawal keluar sebentar, agar membiarkan Shane dan Zizi memiliki waktu berdua.
Ya...
Tentu saja mereka harus bicara dari hati ke hati, karena pastinya banyak sekali yang harus keduanya bicarakan setelah beberapa waktu ini terpisah.
"Nona."
Suara itu akhirnya bisa didengar Zizi lagi.
Zizi yang matanya berkaca-kaca cepat membuang wajahnya ke arah lain sebentar, ia benar-benar tak ingin menangis.
Shane mendekati Zizi yang masih berdiri tak bicara dan tak melakukan apapun.
"Maaf."
Hanya itu yang kemudian diucapkan Shane, sebelum akhirnya mendekati Zizi dan memeluk gadis itu.
"Maafkan saya."
Kata Shane lagi mengulang.
Zizi yang berada di pelukan Shane akhirnya menitikkan air mata.
Dadanya yang selama ini begitu sesak karena kepergian Shane yang tiba-tiba dan bahkan tak ada kata sama sekali saat pergi kini terasa seperti lega.
"Siapa yang menyuruhmu pergi Kak Seng? Siapa yang peduli kamu mau manusia ataupun monster? Zizi bahkan tak pernah memikirkannya."
Kata Zizi membuat Shane luruh dan akhirnya semakin mengeratkan pelukannya.
"Apa kau sekarang manusia?"
Zizi melepaskan diri dari pelukan Shane pelahan, ditatapnya pemuda tampan di hadapannya kini.
Shane menggeleng pelan.
"Tidak."
Jawab Shane.
Zizi mengulurkan tangannya ke arah wajah Shane, mengusapnya.
"Zizi tak peduli, kau manusia ataupun bukan, yang penting jangan pergi lagi, jangan menghilang tiba-tiba lagi, jangan memutuskan semuanya sendiri tanpa melibatkan Zizi lagi. Kak Seng pasti tidak tahu jika Zizi tersiksa bukan hanya karena sedih, tapi karena ingin membencimu tapi tidak bisa!!"
Kata Zizi membuat Shane tergetar.
Tak sanggup menjawab dan menyahut apapun, Shane akhirnya meraih wajah Zizi dan menciumnya.
Tak peduli aku siapa? Begitulah kata gadis ini.
Tak peduli sekalipun aku monster, begitulah kata gadis ini.
Tak peduli seberapapun aku berbeda dengannya, aku tahu ia memberikan aku tempat yang begitu istimewa di hatinya dan itu membuatku merasa sangat hidup dan aku bahagia.
Shane memperdalam ciumannya, menggantikan seluruh kalimat untuk mengungkapkan betapa ia merindukan dan mencintai Zizi.
Zizi, teman pertama manusianya setelah ia kembali dan tak lagi sebagai manusia sempurna.
Zizi yang selalu menerima keberadaannya walau ia berbeda.
Zizi yang menatapnya seolah ia adalah sama dengannya, dan itulah yang selalu membuat Shane merasa nyaman.
Shane melepas ciumannya, sejenak Shane dan Zizi saling menatap lagi, hingga Shane akhirnya tersenyum karena melihat wajah Zizi yang tiba-tiba jadi bersemu merah.
"Saya janji tak akan pergi lagi Nona."
Kata Shane akhirnya kembali bersuara.
Zizi mengangguk.
"Jika sampai mengulanginya, apa hukumannya?"
Tanya Zizi pada Shane.
Shane terdiam sejenak.
Lalu...
"Nona Zizi boleh membunuh saya dengan Jayapada."
Jawab Shane akhirnya.
Zizi mengangguk.
"Baiklah, Zizi pasti akan melakukannya."
Ujar Zizi.
Dan setelah itu keduanya tertawa.
Zizi kemudian menarik tangan Shane naik ke lantai atas.
Jelas Zizi ingin mendengar semua kisah perjalanan Shane selama beberapa hari ini.
Zizi sangat penasaran, karena baru kali ini mereka melakukan perjalanan sendiri-sendiri.
Shane pergi mencari obat penawar milik Ruthven, sedangkan Zizi mengurus masalah Ali.
Shane kemudian diminta Zizi duduk di atas karpet yang tadi Zizi juga berada di sana.
Wadah buah anggur teronggok di atas karpet juga.
"Nona tidak makan?"
Tanya Shane yang mengira Zizi hanya makan buah saja.
Ujar Zizi.
Tak menambahkan informasi penting sebelum makan anggur sudah habis daging panggang dan segelas orange jus.
"Makanlah Nona, nanti kau sakit."
Kata Shane menatap Zizi dengan sedih.
Ditatap Shane begitu membuat Zizi merasa senang.
"Sakitpun tak sebanding dengan sakit waktu tahu Kak Seng pergi tanpa pamit."
Zizi mendramatisir.
Shane yang mengingat hari itu sejatinya juga sangat berat untuknya akhirnya hanya tersenyum getir.
"Maafkan saya Nona, sekali lagi maafkan saya."
Lirih Shane.
Zizi ingin tertawa, tapi ia coba menahannya.
"Baiklah."
Zizi sok pasang wajah serius.
"Baiklah, Zizi akan memaafkan Kak Seng."
Ujar Zizi.
Shane tersenyum lega mendengar Zizi berkata demikian.
"Tapi..."
Zizi tiba-tiba menambahkan.
"Tapi?"
Shane mengangkat kedua alisnya.
Tak menyangka kekasihnya itu akan menambahkan kata tapi yang sepertinya akan menjadi syarat.
"Tapi apa?"
Tanya Shane gusar.
Zizi nyengir usil,
"Tapi Kak Seng harus cerita dari A sampai Z, sejak awal berangkat dari Indonesia lalu akhirnya pergi mencari Paman Timus sendirian, dan bagaimana kalian bisa bertemu, lalu apa saja yang telah kalian lewati."
Shane menatap Zizi.
"Pokoknya, jangan sampai ada yang terlewat. Ketemu monster apa saja, hantu apa saja, itu juga harus Kak Seng ceritakan."
Kata Zizi.
Shane yang mendapat sarat demikian tiba-tiba jadi teringat Katerina.
Ah yang benar saja, bagaimana mungkin aku akan menceritakannya pada Zizi.
Bisa-bisa bukan hanya Shane langsung di hempaskan, tapi bisa jadi Shane akan dibelah dengan Jayapada, lalu diisi daun selada, irisan tomat, daging dan juga keju.
"Ngg... Biar saya ketemu Mam dulu nona."
Shane baru akan berdiri demi menghindari memenuhi permintaan Zizi, tapi Zizi cepat menarik tangan Shane.
"Bibi Nancy sedang pergi dengan Paman Nicx, pasti baru akan pulang petang nanti, atau bahkan malam."
Kata Zizi.
Haiiish... sial. Batin Shane.
Lalu...
"Ayo Kak Seng, ceritakan, sambil menunggu Bibi Nancy pulang."
Kata Zizi nyengir ke arah Shane.
**---------------**
"Jadi Shane gagal menjadi manusia?"
Tanya Maria pada Marthinus saat di luar dan mengajak Marthinus menjauh dari para pengawal untuk kemudian duduk di atas atap.
Marthinus mengangguk, lalu...
"Dia itu bukan sepenuhnya Vampire, dia juga masih setengah manusia, Ruthven memang sengaja melakukannya pada Shane, mungkin dulu ia berpikir Shane akan menjadi kaki tangannya yang setia."
Ujar Marthinus.
Maria mengangguk.
"Dia terlalu bodoh sampai nekat ke Bradley Woods Lincolnshire sendirian, dia hampir menjadi santapan para Lycan di sana, dan..."
Marthinus terdiam sejenak.
"Dan apa?"
Tanya Maria.
"Dan dia hampir saja membangunkan Rosalia Ruthven."
Lanjut Marthinus akhirnya.
"Rosalia Ruthven."
Maria menggumamkan nama putri terakhir Ruthven.
"Ah ada bagusnya ia sempat sekarat karena serangan Lycan, jika tidak, mungkin ia justru tak akan pernah pulang."
Kata Marthinus.
Maria menatap Marthinus dengan begitu banyak tanda tanya bermuculan di kepalanya.
**----------------**