
"Nanti Paman akan cerita semuanya Zizi, kita sampai rumah dulu."
Ujar Paman Ziyan.
Zizi pun mengangguk.
Di rumah, Bibik Aisyah terlihat begitu gelisah berjalan mondar-mandir tak sabar menunggu suaminya membawa pulang Ali dan Zizi yang baru saja dikabarkan sudah ketemu di dekat hutan.
Eva yang menemani sang Ibu di teras rumah mereka sampai matanya lelah melihat Ibunya terus mondar-mandir.
Untunglah, tak lama mobil Ayah dan beberapa mobil pengawal serta mobil yang dipakai Ali dan Zizi pagi tadi terlihat memasuki pelataran.
Mobil yang dikemudikan oleh Ziyan sendiri, berada paling depan berhenti tepat lurus dengan pintu utama rumah.
Bibik Aisyah menghambur manakala mobil itu berhenti dan tampak Ali turun dari sana.
"Ali... Kau tak apa? Kau baik-baik saja nak?"
Bibik Aisyah langsung meraih Ali ke dalam pelukannya.
Zizi dan Paman Ziyan juga turun dari mobil, sementara Maria yang seperti biasa senang duduk di atas mobil melayang mengikuti Zizi.
Seorang pengawal yang berada di belakang mobil Paman Ziyan menghampiri Tuannya untuk mengambil alih mobil sang Tuan agar bisa dibawa ke garasi rumah.
Paman Ziyan dan Zizi lantas menghampiri Bibik Aisyah yang tampak menangis memeluk Ali.
Paman Ziyan merangkul sang isteri agar melepaskan Ali dan mereka bisa segera masuk ke dalam rumah.
Bibik Aisyah pun menurut.
"Maafkan Ali, Bu. Ali hanya ingin tahu tentang apa yang selama Ali alami, Kak Zizi membantu Ali menemukan jawabannya. Kini Ali setidaknya sudah bisa sedikit lega, mahluk aneh yang mengikuti Ali juga tidak akan mengganggu Ali."
Kata Ali pada Ibunya.
Ya, tidak akan mengikuti dan mengganggu Ali untuk sementara ini.
Syukurlah jika nanti begitu ia keluar dari lembah Narawitri lalu ia langsung dihabisi Paman Jaka Lengleng, dengan begitu tentu Ali tak perlu lagi merasa harus khawatir diganggu kembali.
Bibik Aisyah demi mendengarnya terlihat menyeka air matanya, ia menatap Zizi.
"Kamu jadi selalu direpotkan Zizi."
Kata Bibik Aisyah.
Zizi tersenyum saja.
"Tidak Bik, Zizi hanya jalan-jalan saja."
Ujar Zizi.
Paman Ziyan tersenyum mendengar jawaban keponakannya.
Eva meraih lengan Zizi dan mengajaknya masuk.
"Tanganmu dingin Kak."
Kata Eva.
"Ah yah benar, kalian belum makan bukan?"
"Iya Nyonya, lapaaaaaar..."
Maria menyahut meskipun Bibik Aisyah tak mendengar, dan untungnya tidak dengar, kalau dengar bisa-bisa pingsan.
"Kita makan dulu.
Kata Bibik Aisyah pula.
Zizi mengangguk, ia memang mulai merasa lapar sekarang.
Sejak Maria mengatakan Zizi akan diajak Mamanya menyusul Shane ke London, rasanya Zizi kembali hidup.
Apalagi...
Ah Zizi tiba-tiba dadanya berdebar-debar tak jelas.
Macam ada amuba konser musik rock di dalam jantungnya.
Menikah...
Zizi akan menikah dengan Kak Seng?
Zizi entah kenapa wajahnya jadi tersipu, dan perutnya jadi lapar.
Mereka semua akhirnya menuju ruang makan rumah Bibik Aisyah dan Paman Ziyan.
Beberapa pelayan dipanggil untuk menyiapkan hidangan makan malam yang sempat ditunda untuk disajikan karena seluruh penghuni rumah dibuat panik Ali dan Zizi menghilang.
Pamit jalan-jalan sejak pagi, lantas tak pulang sampai larut malam.
Sementara penjaga pintu gerbang depan tak mengingat mobil Ali dan Zizi keluar dari rumah.
Hp mereka tak ada yang bisa dihubungi, dan begitu dilihat dari CCTV di seluruh rumah, ternyata mobilnya teronggok di dekat hutan danau.
"Kita makan larut malam ini namanya, hahaha..."
Paman Ziyan tertawa jadinya.
Kata Eva yang duduk di samping Zizi sambil tertawa juga.
Ya, bagaimana tidak, jam 00.41 waktu Malaysia, mereka makan malam, benar-benar makan malam.
Seusai makan malam, Bibik Aisyah yang tampak lelah akhirnya pamit istirahat lebih dulu, tak lupa ia mengucap terimakasih pada Zizi dan menyuruh keponakannya itu agar istirahat juga.
Bibik Aisyah juga mengatakan jika ia tadi sudah langsung menghubungi Mama dan Papa Zizi lagi di Indonesia untuk mengabarkan Zizi dan Ali sudah ketemu, jadi Zizi tak usah khawatir.
Zizi mengangguk.
"Mama sudah tahu kok Bik, kalau tujuan Zizi ikut Ali ke sini adalah karena masalah Ali."
Kata Zizi.
Bibik Aisyah tersenyum.
"Iya Zizi, tadi Mama Zizi juga bicara begitu saat Bibik menelfon karena panik. Ia meminta Bibik menunggu sampai pagi, tapi..."
"Tapi Bibikmu ini belum terbiasa anaknya keluar masuk alam gaib, Zizi. Jadi maklumkan saja jika Bibikmu sangat panik."
Kata Paman Ziyan.
Zizi nyengir menatap Bibik Aisyah.
"Tidak apa Bik, itu karena Bibik sangat menyayangi Ali."
Kata Zizi sambil mengalihkan pandangannya pada Ali.
"Kau harus cari pacar yang sebaik Ibumu."
Kata Zizi pada Ali yang jadi tersedak dan semuanya tertawa.
Acara makan larut malam itupun akhirnya selesai menjelang pukul dua dini hari, tentu acara makan malam yang lama karena acara mengobrolnya.
Semua bersiap menuju kamar mereka masing-masing untuk istirahat, namun tiba-tiba Zizi ingat cerita Paman Ziyan yang sempat tertunda.
Cerita soal mimpinya tentang danau dan hutan di area rumahnya ini, yang persis dengan hutan dan danau di hotel wisata, dan juga dengan danau sarta hutan ke lima yang Zizi temui saat akan ke Merapi.
"Apa boleh Zizi mendengarnya sekarang Paman, karena mungkin besok Zizi akan menyusul Kak Seng ke London."
Kata Zizi yang menghentikan langkah Pamannya ketika mereka semua sama-sama naik ke lantai dua.
Paman Ziyan menatap keponakannya sejenak, lalu...
"Zizi sangat penasaran."
Kata Zizi.
Paman Ziyan menghela nafas, dan akhirnya mengangguk.
"Baiklah, kita ke perpustakaan."
Kata Paman Ziyan akhirnya.
"Honey, mau ke mana?"
Tanya Bibik Aisyah begitu Paman Ziyan dilihatnya kembali turun bersama Zizi.
Paman Ziyan menoleh sejenak pada isteri dan anak-anaknya yang jadi ikut menatapnya.
"Ada yang harus aku bicarakan dengan Zizi, kalian istirahat saja."
Kata Paman Ziyan.
"Apa masalah serius?"
Tanya Bibik Aisyah yang jadi khawatir lagi.
Paman Ziyan tersenyum sambil menggeleng.
"Tidak, ini hanya kabar untuk Zizi saja."
Kata Paman Ziyan.
Bibik Aisyah pun mengangguk.
Ya, jika ini berkaitan dengan Zizi, pasti adalah hal yang tak bisa ia pahami.
Biarlah itu urusan suaminya dan keponakannya saja, lagipula Bibik Aisyah sungguh-sungguh lelah dan ingin segera istirahat.
Bibik Aisyah akhirnya kembali melanjutkan langkahnya menuju kamar pribadinya, begitu juga Eva dan Ali.
Sementara Zizi mengikuti Paman Ziyan menuju perpustakaan.
Paman Ziyan mendapat mimpi tentang Danau dan hutan yang ada di sekitar rumahnya, tentu ini adalah bukan hal biasa.
Bisa jadi ini adalah petunjuk untuk mereka menguak tabir tentang siapa anak Paman Jaka Lengleng dan Sekar Ayu nenek moyang mereka.
Dan...
Ah Zizi harus tahu lebih banyak.
Harus.
**-------------**