Zizi

Zizi
29. Belum Berakhir


Zia terlihat masih lemas dan duduk tercenung di kursi ruangan di mana Nyi Retnoasih menemuinya.


Terbayang jelas wajah Nyi Retnoasih yang masam dengan suaranya yang bernada begitu tajam dan menggetarkan seluruh tubuh Zia.


Waktu telah berlalu lebih dari dua jam sejak Nyi Retnoasih meninggalkan Zia dalam suasana hati dan pikiran yang kacau, dan selama itu pula hantu Maria tetap berada di sisi Zia menemani dalam diam, menunggu Zia bicara.


Hingga...


Terdengar sayup-sayup suara bising para pengawal yang berjaga di gudang, Zia yang masih lemas menatap Maria seolah meminta tolong agar hantu Maria yang coba mendatangi tempat keributan para pengawal.


Hantu Maria yang telah bertahun-tahun ikut Zia tentu saja langsung memahami apa yang diinginkan Zia terhadapnya.


Maria melayang menembus dinding rumah dan segera menuju ke arah para pengawal berkumpul.


Belum lagi Maria sampai di gudang, terlihat kini beberapa pengawal keluar dari gudang menggotong seseorang.


Cepat Maria melayang ke arah di mana para pengawal kini menggotong sosok itu.


Ya sosok yang tak lain adalah Ali itu terlihat wajahnya pucat pasi tak sadarkan diri.


"Tuan muda Ali pulang Nyonya... Tuan muda Ali pulang."


Hantu Maria berteriak seraya melayang menembus dinding lagi untuk masuk ke dalam rumah.


Zia yang mendengar teriakan Maria lekas berdiri dan segera beranjak untuk memberitahu Aisyah.


"Kak Aisyah, Ali sudah kembali."


Kata Zia membuka pintu kamar.


Asiyah jelas saja langsung terbangun dari posisi ia terbaring, lalu ia tampak tergopoh-gopoh turun dari tempat tidur dan keluar dari kamarnya di ikuti para pengawal perempuannya.


"Zia... Zia..."


Aisyah berpegangan pada lengan Zia, keduanya keluar dari dalam rumah untuk menuju para pengawal membawa Ali ke dalam mobil untuk segera dilarikan ke Rumah Sakit terdekat.


"Nyonya."


Tampak Dave membungkuk memberi salam.


"Saya akan mengawal Tuan Muda Ali ke Rumah Sakit."


Kata Dave pamit.


Zia mengangguk.


Aisyah mengikuti langkah Dave menuju mobil yang akan digunakan untuk membawa Ali.


"Jagakan dia untuk saya, kami akan segera menyusul."


Pesan Aisyah.


Dave mengangguk mengerti.


Dave kembali membungkuk sebelum kemudian masuk ke dalam mobil.


"Ayo kita segera menyusulnya Zia, Janganlah sampai Ali sendirian saja."


Kata Aisyah terlihat cemas namun sudah jauh lebih bersemangat.


Zia mengangguk.


Ia melihat mbak pocong kini keluar dari gudang juga dengan sempoyongan.


Kuncungnya terlihat tak lagi berdiri, namun terlihat melebar seperti bunga.


Zia masuk ke dalam bangunan utama rumah bersama Aisyah untuk bersiap menyusul Ali ke Rumah Sakit.


"Zizi dan Shane, bagaimana nasib mereka?"


Tanya Maria pada mbak pocong.


Mbak pocong yang memantul sambil sedikit sempoyongan akhirnya memilih rebahan di lantai.


"Mata dan kepalaku holahopan Mar."


Kata Mbak pocong yang makin lama makin pusing dan nyaris muntah.


"Udah muntahin aja, kalau nggak nanti muntahannya naik ke otak."


Kata Maria entah ilmu darimana.


Mbak pocong terlihat rebahan di lantai dengan santai, matanya menerawang jauh seolah kembali teringat bagaimana Zizi saat melawan puluhan raksasa seorang diri.


Lalu...


"Mar."


Panggil mbak Pocong.


"Zizi... Nona Zizi, dia tidak lagi sepenuhnya manusia bukan?"


Tanya Mbak pocong.


Maria mengerutkan kening.


"Apa maksudmu, kalau Zizi tidak sepenuhnya manusia, lantas dia apa menurutmu? Kue pancong?"


Maria geleng-geleng kepala sambil berkacak pinggang.


Mbak pocong masih menerawang jauh.


"Matanya, mata Nona Zizi bukan lagi mata orang yang aku kenal. Mata itu mata monster berhati dingin, mata seseorang yang haus membunuh, sangat menakutkan."


Ujar mbak pocong.


Di istana Oracle, Zizi terlihat terhuyung ketika berusaha berdiri, hantaman dari energi Nyi Retnoasih membuat dadanya seolah akan pecah.


Shane merangkul Nona nya.


Nyi Retnoasih mengambang di udara. Aroma melati yang ada di sanggulnya merebak begitu luar biasa.


Angin kini bergulung-gulung di luar sana, suara gemuruh seperti Gunung Berapi yang mengamuk ingin meledak terdengar begitu mengerikan.


"Kemarilah cucuku."


Kata Nyi Retnoasih dengan suaranya yang lembut.


Nyi Retnoasih menatap tongkat sakti milik Oracle yang tergeletak di lantai istana, di antara puing-puing yang satu persatu berjatuhan dari atas.


Nyi Retnoasih mengangkat tongkat itu dari kejauhan, hanya tangannya saja menunjuk dan tongkat itupun terangkat sendiri.


Nyi Retnoasih menoleh pada Lori yang masih terlihat ketakutan.


Peri cantik jelita itu menatap Nyi Retnoasih dengan kedua mata bulatnya yang polos.


Nyi Retnoasih tersenyum.


"Kau peri baik, kelak kau yang akan memimpin wilayah ini, dan Meri, dia bukan Nenekmu, jangan berikan tongkat ini padanya, dia juga akan sama membuat kerusakan di dunia ini."


Nyi Retnoasih mengarahkan tongkat itu pada Lori.


"Pergilah bersama adikmu ke satu tempat di balik bukit jauh dari hutan bunga, kelak akan ada masanya kau akan tahu siapa sesungguhnya Meri, dan kau akan bertemu dengan pemuda yang baik."


Ujar Nyi Retnoasih.


Lori menerima tongkat sakti yang selama ini diketahuinya adalah milik Oracle.


"Pergilah, selama aku masih bisa melindungi dari sini."


Kata Nyi Retnoasih.


Lori berdiri dari posisi nya dengan tubuh yang masih gemetar, ia kemudian meraih seperti peluit dari kalungnya.


Tak lama seekor kupu-kupu datang ke istana Oracle.


"Belle, jemput Belle untukku."


Kata Lori pada kupu-kupu.


"Bawa dia ke balik bukit jauh dari hutan bunga."


Ujar Lori.


Kupu-kupu itupun pergi meninggalkan Lori, tebang tinggi di angkasa lalu menghilang dari pandangan.


Lori sejenak menatap Zizi yang kini menatapnya pula.


"Kak Zizi, terimakasih, sampai jumpa."


Kata Lori.


Zizi menganggukkan kepalanya.


Lori kemudian melayang pergi, dengan diiringi sinar kehijauan sebagai perlindungan dari Nyi Retnoasih untuknya.


Zizi dan Shane berjalan keluar pintu istana Oracle yang kini mulai runtuh.


Nyi Retnoasih mengangkat kedua tangannya dan mengeluarkan seperti cahaya lagi, cahaya seperti kilat yang kemudian merobek seluruh kabut kutukan Shilba Dolores.


"Aku memusnahkan kutukan Shilba Dolores kepada para peri yang tak bersalah, namun tidak untuk Meri dan Oracle."


Zizi menatap Nyi Retnoasih.


"Kenapa?"


Tanya Zizi.


"Karena setiap ketidak adilan dan kejahatan harus dibayar."


Ujar Nyi Retnoasih.


Zizi terdiam.


Nyi Retnoasih kemudian memanggil Zizi lagi.


"Kita pulang sekarang, kau sudah terlalu lama bermain-main dan membuang waktu di sini."


Kata Nyi Retnoasih.


Kemudian angin yang sangat dingin tiba-tiba bergulung-gulung menuju ke arah mereka, seolah membungkus Zizi, Shane dan Nyi Retnoasih.


Pelahan langit di dunia Peri pun berangsur cerah, matahari bersinar keemasan, dan bunga-bunga tumbuh dan bermekaran seketika.


Dataran yang semula tandus kini menghijau, sungai yang semula kering kini mulai dialiri air kembali.


Para peri di desa berteriak senang, meski mereka melihat istana Oracle runtuh, tapi mereka nyatanya tak terlalu peduli.


Karena yang terpenting adalah, alam peri kembali sebagaimana dulu lagi.


**-------------**


Lori Dan Ali


Ikuti kisahnya di Magic In Love yang akan othor release tahun 2022 nanti. Kisah Romance Fantasi, untuk kamu-kamu yang suka kisah magic-magic, hihihi