
Shane mengemudikan mobilnya menuju pantai sesuai keinginan Zizi, sambil mengemudi Shane dan Zizi juga sambil berbincang tentang rencana selama nanti mereka akan tinggal berjauhan sementara sebelum dan setelah menikah.
Shane yang memang dipersiapkan oleh Zion untuk bisa menemaninya mengelola perusahaan memang meminta Shane menyelesaikan study-nya lebih dulu.
"Zizi akan tinggal di sini saja sampai Kak Seng selesai sekolah dan siap di perusahaan."
Ujar Zizi.
"Tapi aku dengar, Paman Marthinus diminta Nyonya Zia ikut ke Indonesia."
Zizi yang mendengar pernyataan Shane tampak mengangguk.
"Ya memang, Mama meminta Paman Timus ikut, mungkin supaya bertemu banyak teman di sana."
Sahut Zizi.
"Teman Paman? Di Indonesia?"
Shane malah jadi bingung, ia sampai menyempatkan diri menoleh pada Zizi di sampingnya.
Zizi yang rambutnya kini terlihat meriap-riap diterpa angin awal musim semi.
"Ya, teman Paman Timus kan banyak, ada paman combro, paman misro, paman uli, paman burjo, hahahaha..."
Sahut Zizi tak jelas, membuat Shane yang sudah begitu serius jadi menggelengkan kepalanya lalu tak bisa menahan diri untuk mengacak rambut Zizi karena kesal.
Zizi makin terpingkal.
"Haiiish... Dua anak manusia jika sedang kasmaran tak ingat jika langit dan bumi jadi saksi."
Kata Maria di samping Marthinus.
Marthinus sendiri tak terlalu perduli dengan urusan Zizi dan Shane, buatnya sudah lama sekali tak mengemudi dan kini bisa mengemudi lagi jadi bahagia luar biasa.
Ya, bagaimanapun hidup sekian lama bersama para manusia aneh itu membuat Marthinus saat berada di hutan sebetulnya sangat merindukan kehidupan yang seperti ini lagi.
Ia bahkan sering berniat untuk kembali ke kota dan meminta sendiri pada Tuan Zion untuk bisa kembali hidup di dalam keluarganya, tapi selama ini Marthinus maju mundur maju mundur cantik.
Ia takut jika nantinya kedatangannya akan ditolak.
Ia juga malu karena dulu sudah sok pamit pergi tapi malah kemudian kembali lagi.
Tapi...
Benar ternyata, jika seseorang memiliki harapan dan mimpi, itu berarti memang ada takdir pada dirinya yang akan membuat apa yang ia harapkan dan mimpikan akan terjadi.
Hanya masalah waktu, tunggu saja sekalian melakukan apapun yang bisa dilakukan sebaik mungkin.
Maka...
Biar takdir membawa semuanya datang di waktu yang tepat.
Macam Paman Marthinus ini, yang sudah lama ingin kembali hidup bersama keluarga Zion lagi, kini akhirnya bisa terwujud.
Marthinus lalu terdengar mulai bersiul-siul, sayangnya siulannya lebih mirip siulan burung Gagak.
Siulan untuk memberi berita duka.
Maria jadi kesal mendengarnya.
"Sudahlah! Kalau tidak ada lagu yang kau tahu, tak usah bersiul!"
Omel Maria.
Tapi Marthinus tak peduli, karena bagi Marthinus, suara gagak adalah sama seperti lagu cinta. Hihihi...
Marthinus yang tiba-tiba lupa ia sedang mengawal Zizi dan Shane malah menambah kecepatan mobilnya dan menyalip mobil Shane.
"Lah itu bukannya Paman Timus?"
Tanya Zizi heran kenapa pengawalnya malah menyalip.
Sementara di mobil Maria menabok Paman Marthinus.
"Kau ini bodoh atau apa? Kita itu sedang mengawal Zizi dan Shane, kenapa malah menyalip mereka?"
"Oh iya, sori, aku kok lupa."
Kata Paman Timus.
Jiaaah... Bagaimana sih ni ubi. Batin Maria.
"Aku terlalu bahagia bisa mengemudi lagi."
Kata Marthinus seolah meminta pemakluman.
Maria geleng-geleng kepala.
Dasar monster katrok!
Marthinus yang tersadar akhirnya menoleh ke arah mobil Shane di belakangnya lewat spion yang tampak akan menyalip lagi.
**----------------**
Cepret!
Cepret!
Ceprot!
Beberapa foto diambil lagi dari sebuah drone yang sengaja diterbangkan mengawal Zizi dan Shane.
Sementara si pengendali drone yang tak lain adalah mata-mata dari Alex mengikuti Zizi dan Shane seolah dengan santai saja.
agar tak memancing kecurigaan.
"Itu pengamalnya sepertinya begok."
Kata Mata-mata satu.
"Iya, kelihatan dari cara dia mengawal, sangat bolot, mana ada pengawal menyalip mobil atasannya."
Kata si mata-mata dua yang berada di belakang kemudi.
"Padahal tadi sepertinya secara penampakan dia sudah sangat menyeramkan."
"Ya kau benar, seperti manusia serigala."
"Ya, kupikir dia macam di film Under rok."
Kata si mata-mata satu.
Tanya si mata-mata dua keder.
"Ya, film Hollywood yang keren banget, vampire vs Lycan."
Ujar si mata-mata satu.
"Jiiah... Dasar bodoh! Itu under world, pea! Under rok mah rok bawahan emak-emak."
Kesal si mata-mata dua.
"Yah itu maksudnya, maap... maap, aku soalnya juga ingat film the rock."
"Halah ngeles."
Kata si mata-mata dua.
Cepret!
Cepret!
Drone yang terus mengikuti Zizi dan Shane tak berhenti mengambil gambar dari atas.
Kadang wajah Shane kelihatan, kadang wajah Zizi keliatan, kadang juga hanya ubun-ubun mereka saja yang kelihatan.
Dan...
Tiiiiuuuuuuut...
Tiiiiuuuuuut...
Hp mata-mata satu berbunyi nyaring.
Bunyi panggilan masuk yang mengundang banyak kontroversi, yang jelas akan banyak membuat fitnah di sana sini.
Mata-mata dua melirik temannya yang terlihat berbadan kekar dengan lengan berotot dan bertato ular tapi suara hp nya sangat aneh.
"Hey! Apa kau sengaja ingin memancing amarah?"
Kesal mata-mata dua.
Mata-mata satu melirik temannya.
Ah sial!
Ia malas sekali jika ditugaskan dengan mata-mata satu, ia sangat cepat marah. Batin mata-mata satu.
"Kenapa kau tiba-tiba marah sih? Apa salah dan dosaku!!"
Mata-mata satu yang merasa tak melakukan apapun jadi heran.
"Hp mu! Kenapa suaranya harus begitu!!"
Kata si mata-mata dua.
"Lah bagaimana? Aku suka suara itu!!"
Mata-mata satu tak mau kalah marah, ia merasa mata-mata dua kurang kerjaan mempermasalahkan bunyi hp nya.
Lalu...
Tiuuuuuttttt...
Tiiiiuuuuuut...
Terdengar hp itu berbunyi lagi.
Tentu tak mau melewatkan panggilan lagi, si mata-mata satu menerima panggilan dari bos besar.
"Bagaimana? Ada laporan apa lagi?"
Tanya si bos langsung begitu panggilannya diangkat dan ditiriskan.
"Oh ini kami masih terus mengikuti target Bos, kami saat ini sudah mendekati kawasan pantai."
Ujar si mata-mata satu.
"Ada berapa banyak pengawalan?"
Tanya si bos.
"Hanya satu bos."
Sahut si mata-mata.
"Baiklah! Nanti saat arah pulang, aku akan siapkan tim untuk menunggu di jalan sepi. Tuan Alex ingin kita mendapatkan putri Tuan Zion."
Kata si bos.
"Lah bukannya Tuan Alex akan menikah? Kenapa dia ingin menculik gadis?"
Mata-mata satu banyak tanya.
"Kamu tak usah macam pembawa acara gosip, sudah kerjakan saja tugasmu! Saat pulang nanti beri kabar agar semua disiagakan!!"
Si bos marah.
"Ya bos, siap!"
Kata si mata-mata satu akhirnya.
Panggilan antara anak buah dan bapak buah akhirnya berakhir.
"Target kita cuma gadis itu kan?"
Tanya mata-mata dua.
"Ya cuma dia."
Kata si mata-mata satu.
"Aah itu berarti gampang."
Mata-mata dua tampak percaya diri.
**-------------**