
"Itu di sana..."
Kuntilania menunjuk karung berisi mayatnya yang tersembunyi di semak-semak.
Arya dan dua anggota polisi lain bergerak ke arah yang ditunjuk si kuntilania.
Aroma busuk pelahan mulai terendus, Arya dan dua temannya cepat menutup hidung mereka sambil terus mendekati kantong tidur berwarna kuning yang teronggok dan mulai digerumut serangga.
Suara khas binatang-binatang di dalam hutan terdengar bersahutan, begitupun sesekali gemerisik daun yang tertiup angin.
Tak lama, Arya akhirnya tiba di dekat kantong yang kata si kuntilania digunakan untuk membungkus jenazahnya itu.
Arya dan temannya kemudian membuka kantong tersebut, dan...
Hueeek...
Hueeek...
Teman Arya muntah-muntah.
Dia memang selalu begitu setiap kali melihat mayat yang sudah mulai membusuk, saat penemuan mayat Tien Mintje yang korban mutilasi juga dia muntah-muntah. Sungguh tak cocok jadi polisi.
"Harusnya kau ini jadi polisi lalu lintas saja."
Kata Arya.
"Polisi lalu lintas kalo kecelakaan parah juga sama saja."
Kesal teman Arya membuat Arya tertawa.
Arya kemudian mencoba menghubungi kantor untuk menambahkan personil karena ada mayat satu lagi di sana. Tapi tak ada sinyal.
"Benarkan itu aku?"
Kuntilania tiba-tiba ikut jongkok di dekat Arya yang kembali menutup kantong tidur berisi mayat Nia.
"Kamu nggak tahu kenapa kamu dibunuh?"
Tanya Arya.
Gadis hantu menggeleng.
"Entah, aku tak yakin, aku hanya ingat aku ada acara dengan teman-teman di sini, kami akan camping, lalu tiba-tiba aku sudah ada di sini."
Arya mengurut kening.
"Siapa saja yang datang bersamamu?"
Tanya Arya.
"Teman kelasku."
Kata gadis hantu.
"Kau bicara dengan siapa sih Ar? Bikin merinding."
Teman Arya yang satunya tampak memandangi Arya dengan tatapan mata aneh.
Arya nyengir keki.
"Nggak, nggak apa."
"Huuu kepo..."
Gadis hantu melempar ranting kecil ke muka teman Arya.
Teman Arya sontak berdiri.
"Apa tadi? Ada yang lempar mukaku dengan ranting."
Teman Arya panik bukan main.
Arya mengurut kening.
"Ayolah, jangan lebay, nggak ada apa-apa, itu ranting dari pohon."
Ujar Arya.
Sementara teman Arya yang tadi muntah-muntah lebih memilih duduk di atas tanah dan bersandar pada pohon dengan nafas terengah-engah.
"Kenapa belakangan ini banyak banget kasus pembunuhan ya, heran aku tuh."
"Ya buat kerjaan kalianlah."
Sahut gadis hantu.
Teman Arya yang muntah-muntah itu celingak-celinguk.
"Hey, kalian dengar suara cewek ngga?"
Wajah teman Arya yang muntah-muntah itu kini langsung makin pucat, dan dia jadi ikut panik macam teman Arya yang dilempar ranting.
"Kan sudah bukan rahasia kalau di gunung itu banyak lelembut, kenapa kalian kaget sih."
Ujar Arya.
Tampak Arya berdiri.
"Aku pergi sebentar, di sini tak ada sinyal, aku harus minta tambahan personil untuk membawa jenazah ini juga."
"Aduh Ar, yang benar saja, mendingan aku saja yang pergi, kamu yang jaga mayat."
Kata teman Arya yang dilempar ranting.
Arya tersenyum saja.
"Ya sudah. Cepat tapi, dan pastikan juga ID card pembunuh wanita yang memangku boneka itu juga ketemu."
kata Arya.
Kuntilania menatap Arya yang terlihat keren memerintah ini itu.
"Kupikir tadi dia oon, ternyata boleh juga. Hihihi..."
Gumam kuntilania lalu cekikikan, posisinya yang dekat dengan teman Arya yang muntah-muntah membuat suaranya kembali bisa didengar.
Teman Arya langsung berdiri.
"Ah nggak beres ini hutan Ar."
"Peace."
**-------------**
Zizi, Shane dan Maria serta mbapoc yang sudah berubah tampak menyusuri jalanan setapak yang kiri kanannya tampak sawah membentang luas.
Sawah itu tampak sudah mulai menguning, dimana menandakan padinya akan segera siap dipanen.
Hingga diujung jalan mereka kemudian melewati jembatan bambu yang cukup panjang, di bawahnya sungai dengan batu-batu besar dan airnya yang jernih terlihat begitu segar dipandang mata.
"Apa alam lelembut selalu seasri ini?"
Tanya Zizi.
"Banyak yang juga sudah lebih hebat dari kota-kota besar manusia, kami bangsa penghuni Tanah Dalu adalah masyarakat yang tetap hidup sebagaimana dulu nenek moyang Tanah Dalu hidup. Aku salah satu anggota warga baru juga harus mengikuti tradisi mereka."
Zizi mengangguk.
"Ada banyak kerajaan lelembut di Gunung Salak ini, beberapa kerajaan masih setia menjaga amanah Prabu Siliwangi untuk melindungi wilayah sekitar Salak."
Terang mbapoc sambil berjalan di sebelah Zizi. Ia tak lagi memantul, dan juga tidak melayang.
"Kerajaan Kera, kerajaan harimau putih, kalian pasti tahu kemasyhuran mereka, sudah jelas mereka adalah tentara-tentara gaib sang prabu yang tak bisa dianggap enteng lawan."
"Ya aku tahu, dan mereka mahluk-mahluk yang baik."
Mbapoc mengangguk.
"Sama halnya dengan masyarakat Dalu, kami juga baik dan manis, contohnya aku. Hihihi..."
Mbapoc menaikkan mutu.
"Kamu mah kelewat manis, sampai bikin diare."
Sahut Maria.
"Ikh enak aja, daripada kamu, sepet kayak salak tahun 30'an."
"Udah sesama mahluk jadul jangan berantem."
Kata Zizi melerai.
Hingga kemudian terdengar sayup seruling sunda yang khas mendayu-dayu.
Seruling sunda itu seperti membawakan tembang Sunda jaman dulu yang sendu dan syahdu.
Suaranya terdengar begitu indah, terbawa sepoi angin yang berhembus dari hamparan sawah di kejauhan yang sepertinya di seberang sungai sana, di mana di balik bukit kecil yang ada di dekat liukan sungai yang kini Zizi dan teman-temannya lewati.
"Suara itu membuatku nyaman.
Ujar Shane.
Zizi mengangguk setuju.
"Sayangnya, di dunia manusia sudah tergeser oleh musik K'pop."
Zizi terpingkal kemudian.
"Dan ajep-ajep."
Tambah Maria yang membuat Shane tersenyum cool.
"Memangnya ada jenis musik adep-adep?"
Tanya Mbapoc.
"Hadeeh ini lagi, ajep-ajep dibilang adep-adep, kamu pikir lagi bicarain kondangan khitanan apa bagaimana?"
Maria geleng-geleng kepala macam lagi ajep-ajep.
Zizi tambah terpingkal.
"Aunty tahu darimana sih ajep-ajep, jaman kompeni kan juga belum ada."
"Lah itu kan di mana-mana sekarang musiknya begitu semua yang diputar, bikin kepalaku mau copot dan aku gelindingin."
Kata Maria.
"Kapan-kapan ke diskotek lalu gelindingin aja Aunty kepalanya ke DJ nya, hahahaha..."
Zizi terpingkal.
"Wah ide bagus, harus dicoba."
Kata Maria.
"Ngga usah ada polisi gerebek langsung tutup, hahahaha..."
Zizi tertawa lagi.
Mereka terus bercanda hingga akhirnya sampai di sebuah pasar tradisional yang ramai lelembut jual beli.
Pasar itu penampakannya persis pasar tradisional di dunia manusia jaman dulu sekali, yang tidak ada kios dan juga jualannya pun hanya kain-kain jarik, makanan basah, sayur mayur.
Zizi terlihat takjub.
Persis seperti manusia. Batin Zizi.
Zizi baru akan memasuki pasar itu, tatkala mbapoc tiba-tiba bersuara.
"Nona Zizi datang... Nona Zizi datang..."
Semua pun langsung menoleh ke arah Zizi.
Mata mereka terlihat seperti mata kucing di malam hari, berkilat-kilat dengan warna berbeda.
Ya, inilah yang membedakan mereka dengan manusia.
"Nona Zizi penolong kitaaaa... nona zizi datang."
Semua bersorak sorai, mereka masih ingat dulu Zizi yang membukakan gerbang untuk mereka.
Zizi sampai terharu mereka masih mengingat dirinya.
**-------------**