
Zizi akhirnya selesai mandi, lalu ganti baju kebesarannya seperti biasa, celana jeans dan kaos oblong warna hitam.
Rambutnya yang masih agak basah ia biarkan tergerai biasa saja.
Tapi emang dasar sudah cantik, tak usah pakai macam-macam pun sudah cantik.
"Aku mau minta bikin jus, kamu mau ngga Ba?"
Tanya Zizi pada Zanuba.
"Nggak ah, aku mau nyari sumsum."
Kata Zanuba.
"Ngapain nyari, nanti Zizi bilang Mbak Ning."
Kata Zizi.
Aaah Zanuba tentu saja langsung cengar-cengir macam kuda Nil.
Zizi keluar dari kamarnya, Zanuba mengikuti di belakangnya.
Melayang-layang sambil pecicilan.
"Mama kamu pergi dari pagi belum pulang ya."
Kata Zanuba.
Zizi menoleh pada teman kecilnya itu sambil menuruni tangga.
"Mama pergi? Ke mana?"
Tanya Zizi.
Zanuba mengedikkan bahu.
"Manalah aku tahu pletok."
Sahut Zanuba.
"Huuu..."
Zizi menarik kuncir Zanuba yang langsung cekikikan.
"Tuh pacar kamu Zi."
Kata Zanuba kemudian, begitu terlihat Shane melintas di ruang makan.
Shane tampak mengangguk saja seraya tersenyum, tatapannya ke arah Zizi penuh cinta tapi tak berlebihan, sekilas saja lalu melanjutkan langkahnya ke arah depan.
Zizi juga santai saja, dia terus ngeloyor ke dapur mencari Mbak Ning.
"Kalian nih pacaran enggak sih?"
Zanuba jadi kepo.
"Kenapa emang?"
Tanya Zizi.
"Ya ngga apa-apa, cuma heran aja kalian mah kayak biasa-biasa saja."
Ujar Zanuba.
"Lah emang harus gimana? Tiap ketemu jungkir balik? Apa berubah jadi sailormoon?"
Zanuba menarik rambut Zizi.
"Dasar Zimprut."
Kata Zanuba.
"Mbak Niiiing... Mbak Niiing."
Zizi memanggil Mbak Ning.
Mbak Ning yang sedang mengajari Lesti membuat tempuran menoleh ke arah Zizi yang kini mendekati dapur.
"Ada apa Non."
"Weeeh bikin apa Mbak?"
Tanya Zizi.
"Itu bikin tempura."
Ujar Mbak Ning.
"Aah iya bener, Ali mau dateng, dia kan suka tempura."
"Lho, Tuan Muda Ali, Non?"
Tanya Mbak Ning.
Zizi mengangguk.
"Biasanya Tuan Muda Ali juga suka tahu isi suwir ayam pedes."
Kata Mbak Ning.
"Ya masakin aja Mbak, dia kayaknya bakal makan malam di sini, sama Zizi minta jus, hehe..."
Kata Zizi.
"Asiaaap, jus apa Non?"
Tanya Mbak Ning.
"Jus mangga atau jeruk boleh.'
Kata Zizi.
Mbak Ning mengacungkan ibu jarinya.
"Oh iya, sama ada tulang sapi yang banyak sumsum nya nggak Mbak? Rebusin ya."
Kata Zizi.
"Ada kayaknya, nanti Mbak bikinin."
Ujar Mbak Ning pula.
Sambil menunggu jus nya selesai, Zizi kemudian memilih menuju ruang TV, sepertinya ia ingin nonton TV saja sambil menunggu Ali datang.
"Ah iya, Aunty ke mana sih Ba?"
Tanya Zizi.
"Aunty ikut Mama kamu laaa..."
Ujar Zanuba.
"Oh ya?"
Zizi akhirnya ke arah dapur lagi.
"Mbak!!"
Mbak Ning yang kaget dipanggil Zizi lagi jadi hampir melompat.
"Duh, biasa saja Non kalau manggil."
Zizi nyengir di dekat pintu dapur.
"Mama ke mana?"
Tanya Zizi.
"Mama Non Zizi ke Jakarta, ke hotel zombie, tadi sih Bang Dimas telfon katanya di hotel baru saja ada teror hantu karyawan yang meninggal, katanya dibunuh, sekarang lagi dicari mayatnya."
Zizi membulatkan matanya.
"Yang kata Kak Arya hilang empat hari ini?"
Tanya Zizi.
"Iya Non kayaknya."
Ujar Mbak Ning.
Zizi akhirnya memilih menghubungi Mamanya, untuk memastikan ada teror apa di hotel mereka.
**-------------**
Kata Zia pada Zion.
Mereka duduk di resto hotel menikmati kopi sambil menunggu Dimas memberi kabar.
"Ya kita pulang bareng saja."
Kata Zion.
Zion kemudian memanggil Joni, bersamaan dengan itu Zia mendapat panggilan dari Zizi.
Nah sudah siuman itu bocah.
"Ma..."
Terdengar suara Zizi begitu panggilannya diterima.
"Ada apa? Ali sudah datang?"
Tanya Zia.
"Ali masih di Kemang, paling nyampe sini habis maghrib."
Ujar Zizi.
"Mama masih di hotel?"
Tanya Zizi pula.
"Iya, tapi ini mau pulang bareng Papa."
Kata Zia.
"Oh kirain masih lama di hotel, ada masalah apa sih? Katanya teror hantu lagi Ma?"
Zizi penasaran.
"Iya, ada karyawan Papa yang hilang empat hari ini, tiba-tiba pagi tadi ada yang ribut lihat penampakannya."
Tutur Zia.
"Oh ya? Terus..."
Zizi ingin dengar kelanjutannya, tapi Zion sudah selesai bicara dengan Joni yang intinya Joni akan ditinggal di hotel zombie menggantikan Dimas.
Sementara yang akan mengawal Zia dan Zion pulang cukup para pengawal Alpha Centauri junior saja.
"Kita pulang Ma."
Kata Zion sambil mendekati Zia.
"Zizi, ini Papa sudah selesai bicara dengan paman Joni, nanti ceritanya kita teruskan di rumah."
Kata Zia.
"Oh ya udah, oke."
Sahut Zizi.
"Aunty Maria ikut Mama ya?"
Tanya Zizi pula.
"Iya dia ikut Mama, tuh lagi nempel Chef Rasya terus dari tadi, kenyang hirup aroma masakan Chef Rasya."
Kata Zia.
Zizi cekikikan.
"Itu sih namanya sambil menyelam ngambil air."
Kata Zizi di sela acara cekikak cekikikannya.
"Bukan sambil menyelam ngambil air kali Zi."
Zanuba meralat.
Zizi menatap Zanuba, ragu...
"Sambil menyelam main air."
Ujar Zanuba membetulkan.
"Ooh iya juga, di laut kan menyelam main air ya."
"Nah iya."
Zanuba mengacungkan kedua ibu jari.
Zizi mantuk-mantuk setuju.
"Sudah, Mama mau jalan ini."
Kata Zia lagi.
"Oke Ma, titi kamal."
Kata Zizi.
"Kok Titi Kamal sih, Titi Dije lah."
Zanuba geleng-geleng kepala.
Heran Zizi kalau ngomong nggak pernah bener.
Zia dan Zion berjalan beriringan menuju lobby lalu keluar dari hotel.
Joni dan pengawal lain mengantar hingga ke depan, termasuk juga beberapa staf hotel lainnya.
Tiga mobil terlihat sudah siap di depan.
Mobil yang untuk Zia dan Zion berada di tengah, pintunya sudah dibuka, siap menyambut Tuan dan Nyonya yang akan naik ke dalamnya.
Zia masuk lebih dulu, baru kemudian Zion.
"Kabari jika ada sesuatu ya Jon."
Kata Zion pada Joni.
"Siap Tuan."
Sahut Joni seraya mengangguk cepat.
Sosok Joni yang tinggi tegap dengan rambut cepak terlihat seperti seorang tentara.
Pintu mobil yang Zia dan Zion ditutup.
Maria yang keasyikan menikmati aroma masakan Chef Rasya jadi hampir ketinggalan.
Ia melayang secepat kilat, menyusul Zia masuk ke dalam mobil.
Karena mobil sudah kadung jalan, Maria pun salah masuk pintu, harusnya masuk di depan, malah masuk di bagian Zion duduk.
"Astaga."
Zion kaget luar biasa manakala kepala Maria nongol menembus pintu lebih dulu.
"Di depan sono!"
Kesal Zion.
Maria nyengir.
"Papa mah sama Maria jangan galak-galak sih."
Kata Zia mengingatkan.
"Galak apa Ma, dia dari dulu suka begitu, suka nembus apa saja tiba-tiba, nembus layar laptop aku sedang lembur kan juga pernah."
Sungut Zion.
Zia mengulum senyum.
Nyatanya suaminya memang sampai sekarang masih penakut, jadi mau bagaimana lagi. Hihihi...
Angin berhembus pelahan, membuat rambut panjang seorang gadis berseragam hotel Zombi tampak meriap-riap.
Ia berdiri di atap hotel, berdiri sambil menangis menatap rombongan mobil Zia dan Zion.
"Tolong aku Tuan... Tolooong."
**-------------**