Zizi

Zizi
39. Bukan Mauku


Fajar pun menyingsing, Zizi yang sudah masuk kamar tampak sibuk mempersiapkan bekal untuk pergi ke Merapi.


Hari ini ia akan menemui puteri Arum Dalu lebih dulu, lalu ia akan menuju Merapi melewati alam mereka.


Zizi duduk termangu sejenak, dirabanya liontin berbentuk cincin kecil di kalung yang ia pakai. Kebiasaan sejak Zia dulu yang juga menjadikan cincin kembarannya dengan Zion menjadi liontin.


Zizi menggenggam cincin itu sejenak, merasakan ada getaran yang tak biasa di sana. Zizi tahu ini bukan perjalanan yang biasa, mimpinya semalam juga merupakan pertanda bahwa apa yang akan ia hadapi bisa jadi akan sangat berat.


Tapi...


Zizi tak memiliki banyak pilihan.


Zizi harus melakukannya, mau atau tidak, ia harus melakukannya.


Tok tok tok...


Terdengar suara ketukan di luar pintu kamarnya, Zizi tampak menoleh ke arah pintu.


Siapa?


Batin Zizi.


Malas Zizi menyeret langkahnya menuju pintu kamar, dibukanya kemudian pintu itu pelahan dan tampak Arya berdiri di sana.


Ia terlihat menyunggingkan senyuman pada Zizi yang menatapnya dengan cara yang tak biasa.


"Ada apa?"


Tanya Zizi seperti pada orang asing saja.


Arya sejenak terkesiap, tak menyangka akan mendengar pertanyaan semacam itu dari mulut Zizi.


"Kak Arya akan berangkat."


Kata Arya tetap berusaha biasa saja.


Ah bukankah kata Tante Zia, Zizi sedang dalam pengaruh makhluk lain? Jadi ini yang bicara aneh-aneh pasti bukan Zizi, ya kan? Batin Arya berusaha menghibur diri.


"Kalau mau berangkat ya sudah berangkat saja, kenapa harus bilang sama Zizi? Mau minta uang saku?"


Tanya Zizi menyakitkan.


Arya kali ini tak bisa menjawab, ia terlalu kaget dengan setiap kata yang keluar dari mulut Zizi. Baiklah dia dalam pengaruh mahluk lain, tapi apa harus sepedas itu?


"Ya sudah, Kak Arya berangkat ya."


Kata Arya.


Zizi mengangguk saja, lalu menutup pintu kamarnya lagi.


Saat pintu kamar ditutup, Arya sejenak hanya melihat pintu di hadapannya, sedangkan Zizi garuk-garuk kepalanya yang tak gatal sambil berjalan menjauhi pintu.


"Apa sih tadi, siapa yang ketuk pintu?"


Gumam Zizi tak sadar.


Arya baru berbalik dan akan melangkah menjauhi kamar Zizi manakala ia tiba-tiba melihat Shane yang hendak menuju kamar Zizi.


Arya entah kenapa rasanya jadi panas dan kesal melihat Shane mengajaknya tersenyum.


Sejak ada vampire itu, Zizi semakin tidak normal dan tenggelam dengan dunianya yang tak wajar.


Zizi yang seharusnya bisa tumbuh menjadi gadis yang biasa saja, kini jadi semakin tidak karuan, ia terus terlibat masalah dengan dunia lain, hingga nyaris tak bisa menjalani hidup layaknya manusia biasa seusianya.


Arya yang entah kenapa tiba-tiba jadi kesal pada Shane akhirnya berjalan mendekati Shane.


"Mister Shane, kita harus bicara."


Kata Arya.


"Soal apa Tuan Arya?"


"Sudahlah, jangan banyak tanya, ikut saja!"


Ketus Arya.


Shane pun mengangguk.


Bagaimanapun ia tahu jika Arya di rumah itu juga telah dianggap sebagai anak oleh Zia dan Zion, jadi secara otomatis Arya juga termasuk majikan di sana.


Shane mengikuti langkah Arya menjauhi kamar Zizi.


Arya berjalan ke arah balkon lantai dua di mana biasanya Zion menghabiskan wakti duduk-duduk di sana bersama Zia atau juga kadang bersama Ziyan jika kakak kembarnya itu berkunjung ke rumah Zion di Bogor.


Sesampainya di balkon, tampak keduanya kini saling berhadapan.


Shane melihat Arya yang hari ini begitu kaku dan dingin, tatapan matanya pada Shane seolah menyimpan rasa marah dan kesal yang Shane tak mengerti apa salahnya hingga Arya jadi seperti itu padanya.


Padahal, seingatnya sejak sebelum ke Jepang hingga hari ini, baru kali inilah mereka bertemu lagi.


Jadi dengan begitu, seharusnya tak ada masalah berarti di antara keduanya. Pikir Shane.


Tapi...


"Mister Shane, sebetulnya kau anggap apa Zizi selama ini?"


Arya sendiri tak tahu kenapa ia merasa begitu ingin menanyakannya. Dadanya terbakar dan rasanya seluruh darah yang mengalir pada tubuhnya saat ini menggelegak panas.


Shane menatap Arya, ia bingung ditanya demikian.


Haruskah Shane jawab?


Untuk apa?


Apa itu harus?


Apa itu penting?


Begitu pikir Shane.


"Kamu tak mau menjawab? Kamu mengabaikan pertanyaanku karena menyepelekan aku?"


Sinis Arya pula.


Shane masih memilih diam.


Ia berusaha tak mau terpancing.


Ada energi jahat yang kini tengah mengelilingi Arya.


Tampak Arya tersenyum miring.


"Kau hanyalah vampire, dan mahluk setengah monster yang akan hidup abadi."


Ujar Arya.


Dan demi mendengarnya Shane tampak menatap tajam mata Arya yang sudah jauh lebih dulu menatapnya dengan sengit.


"Kamu mencintai Zizi kan? Aku tahu."


Sinis Arya lagi.


"Kamu pikir kamu pantas mencintai Nona mu sendiri Shane? Kamu yang tak lebih dari sekedar vampire dan pengawal pribadi, apa yang bisa kamu tawarkan pada Zizi untuk membahagiakannya? Apa kamu pikir kamu bisa membuatnya merasakan kebahagiaan seperti manusia normal lainnya? Bisakah kamu memberikannya?"


Arya menajamkan matanya pada Shane.


Energi jahat terlihat cukup pekat di sekitar Arya.


Shane menyeringai, lalu...


"Ya, aku mencintai Nona Zizi. Tak ada satupun yang berhak melarang satu mahluk mencintai mahluk lainnya."


Kata Shane.


Arya terkesiap.


"Aku tak bisa menjanjikan apapun pada Nona Zizi, itu memang benar. Aku yang hanya vampire dan hanya menjadi pengawal pribadi Nona Zizi, apa yang bisa aku banggakan itu juga benar. Tapi..."


Shane mendekatkan dua langkah ke depan Arya.


"Tapi sayangnya, anda dengan seragam segagah inipun belum tentu bisa membahagiakan Nona Zizi."


Shane menunjuk seragam yang dikenakan Arya dengan segenap kebanggaan.


Arya jadi tambah kesal. Ia menantang tatapan tajam Shane, lalu...


"Lepaskan dia jika memang kau sungguh mencintainya Shane. Bagaimanapun kau makhluk yang berbeda, Zizi harus memiliki masa depan."


Terdengar Arya bicara.


"Aku akan sangat berterimakasih jika kau menghilang dari kehidupan Zizi agar ia bisa belajar hidup normal."


Kata Arya, lalu berjalan meninggalkan balkon dengan melewati Shane sambil sedikit menabrakkan lengannya pada lengan Shane.


Shane pun terdiam.


Ah yah, tentu saja, sebetulnya tanpa diberitahu pun Shane paham dan sadar jika ia tak akan bisa membahagiakan Zizi sebagaimana laki-laki normal lainnya pada gadis pujaannya.


Tapi...


Haruskah hal itu diperjelas?


Haruskah?


Shane tertunduk menatap lantai di mana kakinya berpijak.


Ia mungkin terlihat seperti manusia, tapi ia juga tahu jika ia bukanlah manusia, dan ini bukan kemauannya.


Tak ada yang menginginkan mengalami hal yang sama dengan Shane.


Terlahir menjadi anak manusia normal, hidup selama dua belas tahun menjadi manusia biasa, lalu tiba-tiba menjadi vampire seperti sekarang.


Siapa yang mau?


Bahkan jika Shane diminta memilih, rasanya malam itu ia lebih memilih mati saja tanpa harus terinfeksi dan menjadi bagian dari mereka.


**----------**


((Kantor lagi banyak banget kerjaan gaes, luar biasa jadwal nulis jadi kacau sekacau-kacaunya, sorri banget))