
Shane tersenyum tipis mendengar apa yang baru dikatakan Maria.
"Tapi ini juga demi Zizi, Aunty. Aku harus melakukannya."
Kata Shane.
"Tapi, bagaimana jika akhirnya kau gagal dan mati?"
Tanya Maria.
Mendengarnya barulah Shane terdiam.
Bingung harus menjawab apa...
Sementara itu, Zizi sudah tampak di depan rumah, berdiri di halaman sambil menatap ke atas rumahnya.
"Kak Seeeng..."
Zizi memanggil lagi.
Shane yang mendengar Zizi kembali memanggilnya akhirnya melompat turun.
Tampak Maria juga mengikuti, melayang turun menemui Zizi.
"Temani Zizi menangkap mahluk yang mengikuti Ali."
Kata Zizi pada Shane dan Maria.
"Mengikuti Ali? Mana?"
Tanya Maria yang kemudian tampak celingak-celinguk.
"Dia di zombie hotel, semalam ia ada di sana."
Kata Zizi.
Maria mengerutkan kening.
"Katanya mengikuti Ali, kenapa sekarang di zombie hotel?"
Tanya Maria bingung.
"Dia mengikuti aku sampai ke rumah ini saat aku baru datang Aunty, tapi dia tak berani masuk, bahkan sudah pergi sejak mobil yang aku tumpangi masuk gerbang komplek."
Tutur Ali.
Maria mantuk-mantuk mengerti.
"Kemungkinan ia menunggu di sana hingga mobil yang dipakai Ali lewat lagi, padahal waktu itu hanya Paman Dave saja."
Kata Zizi.
"Dia terbawa hingga ke zombie hotel dan akhirnya sampai hari ini berada di sana?"
Tanya Maria yang kemudian dijawab anggukan Zizi.
"Apa dia jahat Ali?"
Tanya Maria pada Ali.
"Belum, tapi dia sangat mengganggu, dia berusaha masuk ke dalam tubuhku setiap kali aku tidur."
Kata Ali.
"Dia menginginkan tubuhmu."
Gumam Maria.
Ali mengangguk.
"Ya Aunty, sepertinya kau benar, dia ingin mengambil alih tubuhku."
Maria mengangguk.
"Baiklah, kalian bisa kan bantu Zizi dan Ali memburu mahluk itu?"
Tanya Zizi pada Maria dan Shane.
"Ya tentu saja, setidaknya sebelum aku pergi, ayo lakukan apapun."
Kata Maria yang sebetulnya hanya gumaman saja sambil melayang menuju mobil yang biasanya digunakan Shane.
Namun, Zizi ternyata bisa mendengar gumaman Aunty Maria.
Zizi pun cepat menarik gaun Maria hingga renda yang bagian bawah benar-benar copot.
"Ziziiiiiiii..."
Maria histeris membuat Zizi tertawa.
"Malah tertawa ini dasar bocah tidak ada akhlak!"
Maria mengomeli Zizi.
"Ya abisnya Aunty apaan tadi ngomong apa bilang mau pergi."
Kata Zizi setelah tawanya reda.
Maria yang ingat Zia memintanya merahasiakan dulu soal kepergian mereka akhirnya langsung buru-buru meralat.
"Enggak... nggak... Udah cepat ayolah gerakannya."
Maria langsung nyelonong menembus masuk ke dalam mobil.
Zizi berpandangan dengan Ali.
"Aunty bilang akan pergi, begitukan tadi?"
Tanya Zizi pada Ali.
Ali mengangguk pelan, nyatanya ia juga mendengar soal Maria yang mengatakan akan pergi.
Zizi menatap Shane yang terlihat buru-buru menyusul Maria.
"Berangkat sekarang Non?"
Tanya Shane.
Zizi mengangguk.
Shane membawa mobilnya keluar dari halaman dan segera melesat meninggalkan rumah Zia dan Zion.
Tak mereka sadari di balkon kamar yang dari sana bisa untuk melihat ke arah halaman rumah, Arya terlihat berdiri menatap semuanya barusan.
**--------------**
Zombie hotel,
Seorang perempuan yang booking kamar nomor 118 sendirian sejak semalam terlihat terlentang di atas tempat tidur.
TV di dinding menyala dan memperlihatkan acara berita para begal yang mulai kembali beraksi.
Perempuan itu tentu saja tak peduli dengan berita di TV itu.
Ia menyetel TV tak lebih karena ia ingin suaranya nanti tak sampai terdengar dari luar.
Ah ya, perempuan itu kini terlihat memegang pistol rakitan dan mulai mendekatkan pistolnya ke arah kepala.
Perempuan itu menangis, hp nya sengaja ia setel video untuk merekam aksinya.
"Semoga, setelah kau melihat ini, kau akan menyesalinya Mas."
kata perempuan itu lirih sambil menangis macam orang gila.
Dorr!!
Suara tembakan terdengar cukup keras, membuat beberapa penghuni kamar di lantai dua Zombi hotel bertanya-tanya.
Belum lagi keheranan para penghuni kamar lain tentang suara tembakan dari salah satu kamar di lantai itu terjawab, tiba-tiba...
Brak!!
Terdengar lagi suara seperti sesuatu yang jatuh.
"Apa itu sih?"
Para penghuni lantai dua Zombi hotel yang sempat kompak keluar dari kamar karena pada penasaran tampak saling memandang satu sama lain.
Tak berapa lama, dari kamar perempuan yang bunuh diri terdengar keributan-keributan aneh.
Ada suara geraman, ada suara benda-benda dibanting.
"Telfon resepsionis."
Kata salah satu penghuni kamar hotel yang berada di sekitar kamar perempuan yang bunuh diri.
Sementara itu, di kamar perempuan yang bunuh diri, terlihat perempuan itu dengan kepala berlubang berdiri sambil menyeringai.
Ia berjalan sambil mengobrak-abrik benda yang ada di dalam kamar itu.
Ia lalu merayap di dinding kamar, darah yang mengucur dari kepalanya berceceran di mana-mana memenuhi lantai, karpet dan furniture lainnya.
Aroma anyir tercium jelas dari dalam kamar itu. Perempuan itu tiba-tiba terbahak, suaranya terdengar aneh.
Perempuan itu terus merayap, naik ke langit-langit, terus merayap lalu menjebol plafon.
Ia merayap di sana, masuk ke rongga-rongga ruangan antara plafon dan lantai tiga.
Setiap melewati kamar lain yang bersebelahan dengan kamar perempuan itu, darah ikut menetes di sana, memicu jeritan penghuni kamar yang ia lewati.
Perempuan itu terus bergerak entah ke mana.
Staf hotel yang dihubungi, termasuk Dimas sampai di lantai dua begitu mendapat laporan sesuatu yang aneh terjadi di sana.
"Kamar itu."
Beberapa penghuni kamar di sekitar kamar 118 menunjuk kamar tersebut.
Dimas mengajak staf lain segera bergerak ke sana, mengetuk beberapa kali tak ada sahutan akhirnya mereka masuk paksa.
Dan...
Dimas serta staf lainnya kaget bukan kepalang melihat di sana darah berceceran luar biasa.
Sementara darah ada di mana-mana, dan sebuah pistol tergeletak di atas tempat tidur, yang paling membuat Dimas dan staf hotel yang melihat shok adalah tangan di dinding.
Ya, cap tangan dan kaki yang penuh darah terlihat seperti baru saja merayap di dinding dan langit-langit lalu menuju jebolan plafon.
"Pantau semua CCTV yang ada di hotel ini, cepat!!"
Kata Dimas memerintah.
Dimas juga menghubungi kepolisian untuk mengusut apa yang terjadi di salah satu kamar hotel zombie.
Dimas menyarankan semua mengosongkan lantai dua dan pindah kamar ke lantai satu.
Semua tamu pun menurut begitu melihat kamar 118 itu ternyata telah bersimbah darah.
"Apa yang terjadi sebetulnya?"
"Entahlah."
"Bukankah penghuni kamar itu model cantik yang menyapa kita di lift semalam?"
"Dia dibunuh atau apa?"
"Kamarku ada darah menetes dari plafon."
Begitu rusuh orang-orang yang menjadi tamu dan menghuni lantai dua tersebut, mereka jelas takut dengan apa yang terjadi, namun sekaligus mereka juga penasaran.
Walhasil, jadilah mereka kutpes.
Takut tapi Penasaran.
**------------**