Zizi

Zizi
172. Zia Dan Nancy


"Nyonya."


Nancy menjabat tangan Zia dengan erat, tapi Zia justru menarik Nancy dalam pelukannya.


"Senang bertemu denganmu lagi Ibunya Shane."


Kata Zia hangat.


Ah Zia memang begitu, selalu bisa membuat orang lain yang berada di sekitarnya nyaman.


Tak peduli kelas mereka kini ada di mana, atau mereka dari jenis apa, Zia selalu hangat dan ramah pada siapapun.


Itu sebabnya pula, Kakek Ardy Subrata menyerahkan yayasan pada Zia untuk ia yang menjadi pembina yayasan, menemani Paman Salim yang begitu pensiun menjadi pengawal kini menjabat sebagai ketua dewan pengawas yayasan Alpha Centaury.


Nancy tampak menyeka air mata harunya. Melihat Nancy sampai meneteskan air mata membuat Maria sedikit tergugu.


Dua hari lalu ia kaget melihat ada Lycan merajut, dan hari ini ada Lycan terharu.


Nancy sepertinya benar-benar tidak menghayati perannya sebagai Lycan sejati.


Zia akhirnya melepaskan pelukannya, ia sejenak memperkenalkan Vero, pengawal perempuan pertama Alpha Centaury yang baru direkrut dua hari lalu dan kini ia sengaja bawa ke London karena ia lebih nyaman dikawal sesama perempuan jika tak ada Zion.


Vero membungkuk memberi salam pada semuanya, Zizi mengamati seperti menggunakan alat pendeteksi.


Setelah acara perkenalan, Zia lantas meminta tolong pada Nancy untuk menunjukkan kamar bagi para pengawal.


Daniel dan Vero membawa tas pakaian mereka sendiri sambil mengikuti Nancy kemudian.


Pengawal lain yang membawakan koper pakaian berukuran kecil milik Zia tampak naik ke lantai atas untuk meletakkannya di kamar.


Zizi mengamit lengan sang Mama.


"Shane di mana? Kenapa tidak kelihatan?"


Tanya Zia yang kini berjalan menuju ruang keluarga yang ada di lantai satu, di mana di sana ada satu set sofa dan satu set meja kursi makan.


"Kak Seng pergi dengan Paman Marthinus, tuh Paman Nicx yang suruh."


Kata Zizi menunjuk Nicx yang nyengir keki.


"Saya lupa laporan karena terlalu sibuk membicarakan soal perusahaan."


Kata Nicx.


"Ke mana Shane kamu utus?"


Tanya Zia.


"Saya memintanya ke butik di mana kami memesankan jas untuknya Nyonya, ada satu pengawal yang mengantar, jangan khawatir."


Ujar Nicx.


"Oh hanya ke butik."


Gumam Zia.


"Ya, Tuan Zion ingin Shane mendapatkan semua fasilitas untuk penampilannya, kami juga memesankan mobil untuknya selama tinggal di London menyelesaikan kuliah, dan juga aktif di perusahaan."


Kata Nicx.


Zia menatap Zizi yang cengar-cengir di sebelahnya.


"Kenapa cengar-cengir begitu?"


Tanya Zia pada Zizi yang jadi tergugu menutupi mulutnya dengan tangannya.


"Tidak ada apa-apa Ma, cuma membayangkan saja Kak Seng di butik dengan Paman Timus."


Kata Zizi.


Nicx di tempatnya mengulum senyum.


Zia beralih pada Maria yang sedari tadi tampak diam saja, tampaknya ia yang sebetulnya ingin ke butik malah belum dapat jadwal jadi sedih.


"Maria, kapan kau ke butik? Kenapa gaunmu masih rombeng?"


Tanya Zia.


Zizi menoleh ke arah Aunty Maria.


Zizi cekikikan.


"Gaun rock and roll."


Kata Zizi membuat Zia menaboknya karena melihat wajah Maria yang jadi sedih.


"Kamu ini suka sekali menggoda Aunty."


Kata Zia gemas, Zizi makin cekikikan.


"Sebaiknya saya pamit sekarang Nyonya, karena saya juga harus memastikan semuanya siap untuk nantinya Shane bergabung ke perusahaan."


Ujar Nicx.


Zia mengangguk.


"Terimakasih Tuan Nicx."


Ucap Zia.


Tak berapa lama Nancy muncul membawakan minuman untuk Zia, lemon tea kemebul yang aromanya tercium segar.


"Saya akan menyelesaikan masakan saya Nyonya, apa anda ingin makan menu lain? Saya kebetulan hanya menyiapkan Buble and Squeak dan puding saja, selebihnya saya menyiapkan Roast Meat untuk Nona Zizi sesuai permintaannya."


Ujar Nancy.


Zia mengangguk.


"Kalau aku sebetulnya makan apa saja tak masalah, bahkan jika ada beras dan bahan makanan lain, aku ingin masak sendiri supaya tak perlu merepotkan mu menyiapkan ini itu Ibunya Shane."


Kata Zia.


"Besok belanja saja Ma, sekalian itu Aunty kayaknya udah nggak sabar ingin beli banyak baju."


Zizi memberi ide.


Zia mengangguk.


"Ya, boleh juga."


Kata Zia.


"Kau masih ingat di mana butiknya Maria?"


Tanya Zia.


Maria mengangguk cepat.


"Baiklah, kita pergi besok. Ah, sekalian saja Ibunya Shane ikut serta, ada beberapa gaun yang harus kau pakai untuk acara nanti di Indonesia."


Ujar Zia.


Lalu...


"Ibunya Shane, setelah makan petang nanti, temui saya di kamar ya, kita harus bicara banyak hal terkait anak-anak."


Kata Zia lagi.


Nancy mengangguk.


Zizi menatap Mamanya.


Zia yang merasa ditatap Zizi tampak menoleh ke arah sang anak sebelum kemudian tersenyum dan mengelus kepalanya.


"Belajarlah lebih anggun, biar nanti setelah menikah tidak terlalu petakilan. Kasihan Shane kalau punya isteri petakilannya sampai Aliens saja kalah."


Kata Zia.


Mendengarnya Maria tertawa karena saking setujunya.


"Betul itu Nyonya, rasanya Aliens saja tidak akan sepetakilan Zizi."


Sahut Maria membuat Zizi manyun ke arahnya.


Nancy lantas permisi kembali ke dapur, melanjutkan acara masaknya agar bisa disajikan untuk Zia dan Zizi bersantap malam.


Zia sendiri setelah menghirup lemon tea nya, lantas berdiri dan beranjak dari ruangan keluarga tersebut.


"Mama akan mandi dan istirahat sebentar, kamu kalau mau pergi atau mau melakukan sesuatu di luar rumah, jangan lupa pamit pada Ibunya Shane, dia sekarang akan jadi Ibumu juga, mengerti?!"


Zia menatap sang putri.


Zizi nyengir.


Ah Zizi...


Kapan anak itu dewasa?


Tapi menikahkannya menunggu Zizi menjadi dewasa tampaknya akan membutuhkan waktu satu juta tahun lagi.


Bisa jadi saat itu manusia bahkan sudah punah, atau malah alam semesta sudah the end.


Zia berjalan menuju anak tangga rumah untuk naik ke lantai atas di mana kamarnya berada.


Ini jelas adalah perjalanan pertamanya ke London tanpa Zion.


Aneh sebetulnya rasanya, hampir sejak menikah mereka bisa dibilang tak pernah terpisahkan.


Ke mana mana selalu bersama, apalagi jika untuk perjalanan sejauh ini.


Tapi, keadaan sekarang nyatanya sudah mulai berubah. Bukan hanya karena Zion yang urusan bisnisnya semakin banyak, namun juga karena Zia merasa apa yang akan ia bicarakan dengan Nancy cukup pribadi.


Kenyataan jika Nancy dan Shane bukan lagi manusia seutuhnya, membuat Zia tergerak untuk ingin bicara dengan Nancy bilamana nanti Zizi melahirkan anak-anak yang juga sama dengan mereka.


Dan tentu saja, semua kemungkinan bahaya yang akan dihadapi anak cucu mereka kelak, Zia ingin membicarakannya dengan Nancy sejak saat ini.


Karena Zia tahu, bahwa hal semacam itu, hanya bisa dibicarakan oleh keduanya, sementara Zion lebih faham menyiapkan Shane untuk menghadapi kemungkinan serangan dari segi bisnis dan urusan lainnya.


Zia melangkah perlahan menuju kamarnya, membuka pintunya dan kemudian masuk ke dalam kamar yang telah disiapkan begitu rapi oleh Nancy.


Nancy memang sangat pandai mengurus rumah, dan dia sangat loyal selama ini ikut keluarga Zion.


Sungguh ini pasti juga sebuah takdir lain untuk mereka bisa dipertemukan, karena yang harus dihadapi Zizi ternyata bukan masalah sederhana.


**---------------**