Zizi

Zizi
228. Drama Dini Hari


Zion baru saja memejamkan matanya, saat ia mendengar ketukan di pintu kamar yang ia tempati.


Malam ini ia memang tinggal di rumah dekat Bandara untuk menemani sang Kakek yang akan dijemput Kak Ziyan menuju Jepang.


Zion membuka matanya pelahan, kantuk membuat matanya masih cukup berat. Tapi, tetap dipaksanya mata itu terbuka.


"Siapa?"


Tanya Zion seraya bangun dari posisinya berbaring.


"Saya Tuan."


Sahut suara dari luar.


Suara perempuan, sepertinya salah satu pelayan di rumah tersebut.


Zion malas turun dari tempat tidur.


"Saya siapa? Ada apa?"


Zion bertanya tak jelas karena memang sebetulnya ia masih ingin tidur.


Tapi karena ia takut jika ternyata pelayan datang untuk memberitahu soal kedatangan Kak Ziyan, maka Zion pun memaksakan kakinya melangkah menuju pintu.


Hening.


Tak ada jawaban.


Zion akhirnya menarik handle pintunya pelahan, membuat daun pintu itu terbuka.


Krieeeeeet...


Begitulah suara pintu kamar yang ditempati Zion.


Hingga...


Toweeeeeeng.


"Hah!!"


Zion kaget luar biasa, manakala sebungkus pocong dengan karet merah bertuliskan pedas sedengan terlihat melompat-lompat dan kepalanya geleng kanan geleng kiri.


"Po... po... Pooo... aaaaah bodo amaaaaaat..."


Zion lari kacau balau dari kamarnya menuju tangga, tepat saat ia berbelok untuk turun ke tangga Zion menabrak sesuatu.


Blukh!


"Aduh, sial! Pait... pait... pait..."


Zion heboh baca mantera sambil memejamkan matanya tak mau memastikan mahluk apa yang ada di depannya.


"Ada apa Zion?"


Terdengar suara tiba-tiba.


Zion mendongakkan kepalanya, dibukanya matanya untuk melihat siapa yang baru ia tabrak.


Dan...


Eng ing eeeng...


Kak Ziyan yang ganteng dan cool dong, berdiri di depan Zion dengan wibawanya.


Zion yang melihat langsung terlihat lega.


Beberapa pengawal yang ada di belakang Ziyan, termasuk Joni tampak mengulum senyum melihat adegan Zion yang sempat baca mantera andalan.


Tak mau dipandang tak berwibawa, Zion langsung pura-pura bersikap tenang.


Ia berdiri dengan wibawa.


"Oh, kamu Kak, sudah datang, syukurlah."


Kata Zion yang lantas mereka berpelukan sebentar.


"Kakek bagaimana?"


Tanya Kak Ziyan.


Zion lantas menunjuk ke arah ujung koridor di sebelah kiri dari tempat mereka berdiri di dekat tangga.


"Setelah cerita banyak denganku, Kakek langsung tidur."


Kata Zion.


"Hmm... Kalau begitu besok pagi saja, biar Kakek rehat."


Ujar Kak Ziyan yang disetujui langsung oleh Zion.


Ziyan lantas melihat kamar Zion yang ditempati Zion di mana pintunya masih terbuka.


"Kau lari dari kamar?"


Tanya Kak Ziyan.


Zion melihat ke arah kamarnya, dan terbayang lagi tadi bungkusan pocong yang mantul-mantul di depan pintu kamar.


"Aduh, biarin aja Kak, itu kamar sepertinya kalau menurut fengshui salah pas dibangun, jadi pertemuan antara udara, api, air dan tanah tidak ada kesepakatan yang bisa diambil untuk kabaikan keempat pihak, maka daripada itu, lebih baik unsur tanah harusnya memang tak usah berada di sana."


Zion menjelaskan dengan rangkaian bahasa tak jelas juntrungnya.


Kak Ziyan mengurut kening, kadang ia bingung bagaimana dulu Zion mendapatkan cum laude berkali-kali saat kuliah.


"Aku ingin minum kopi."


Kata kak Ziyan akhirnya.


"Ah kopi."


Zion mantuk-mantuk, lalu iapun ke arah Joni agar memberitahu kepala pelayan rumah untuk menyajikan kopi untuk Kak Ziyan dan juga Zion.


Kak Ziyan lantas memilih duduk di sofa ruang atas rumah tersebut, ruangan yang berada di antara ruang kamar Kakek mereka dan juga balkon.


"Aku pikir Paman Salim masih ada di sini, ternyata sudah pergi."


Kata Kak Ziyan.


Zion membuka kaca jendela yang menuju balkon lantai atas rumah tersebut agar nanti misalnya Ziyan merokok tak terlalu pengap.


"Ada urusan di yayasan, jadi dia buru-buru balik. Tapi dia titip salam untukmu Kak."


Ujar Zion.


"Tadi Ali ingin menyusul ke sini, tapi aku suruh dia nanti temani Kakek saja di Jepang."


"Kau tidak trauma Kak dengan kejadian Ali waktu ada di Jepang tempo hari?"


Tanya Zion yang malah masih ngeri membayangkan Ali masuk rumah itu.


"Gudang bukannya sudah kamu suruh tutup permanen? Jadi ya sudah tidak perlu berlebihan cemas lagi."


Ujar Kak Ziyan tenang.


Zion menghela nafas.


"Daripada Kakek di sana sendirian kan juga malah lebih bermasalah, kita khawatir, cemas, gelisah, susah tidur, susah kerja, bawaan lapar terus."


Kata Kak Ziyan dengan wajahnya yang serius.


Zion sampai keselek mendengar Kakaknya sekarang mulai ketularan dirinya.


"Udah Kak, jangan begitu, kamu pantesnya tetap cool."


Kata Zion.


Kak Ziyan mendengarnya jadi tertawa.


"Gimana perusahaan?"


Tanya Kak Ziyan.


"Entahlah, Andromeda melaju pesat, tapi saham Alpha masih lebih bagus, sejauh ini ya mereka baru pernah menyalip dua kali saja, tapi selebihnya mereka ada di bawah kita terus."


Ujar Zion.


Kak Ziyan mantuk-mantuk.


"Pernikahan Zizi bagaimana?"


Zion menyandarkan tubuhnya ke sofa.


"Semua EO yang urus dan Zia yang mengawasi, kemarin ke London urusan semuanya selesai dengan baik, Shane juga sudah mulai belajar aktif masuk di perusahaan."


"Oh yah, aku kemarin sempat bertemu Nick di Roma, dia cerita soal Shane, sejak awal aku tahu dia akan mampu masuk perusahaan."


Kata Kak Ziyan.


"Yah, Ali jugalah yang pertama kali memberikan ide pada Zia soal Shane masuk perusahaan. Sejak Zia bicara padaku, aku memikirkannya terus."


Ujar Zion.


"Pernikahan bulan depan?"


Tanya Kak Ziyan.


Zion mengangguk.


"Ya sepertinya awal bulan April Kak."


Kata Zion.


Bersamaan dengan itu seorang pelayan datang dengan nampan untuk membawa dua cangkir kopi yang aromanya langsung harum tercium dan juga satu piring kecil cheesecake.


Zion baru akan bicara sesuatu dengan Kak Ziyan, manakala ia tanpa sengaja melihat wajah pelayan itu, dan Zion nyaris melompat saking kagetnya.


Melihat reaksi Zion, tentu saja Kak Ziyan jadi bingung.


"Ada apa?"


Tanya Kak Ziyan.


Zion menatap pelayan yang kini meletakkan dua cangkir kopi dan satu piring cheesecake di atas meja.


Pelayan itu semula akan tersenyum ke arah Zion dan juga Ziyan, tapi saat melihat Zion terus melihatnya dengan takut, pelayan itu jadi heran.


"Ada... Apa Tuan?"


Pelayan itu bertanya pada Zion, seolah mengulangi pertanyaan Kak Ziyan pada Zion.


"Ka... ka... Kamu, aduh, ka...kamu kenapa di sini?"


Tanya Zion tak jelas.


Pelayan itu makin bingung.


"Lho saya tadi diminta Bang Joni mengantar kopi ke lantai atas untuk Tuan Zion dan Tuan Ziyan."


Jelas si pelayan.


"Iya... Maksudnya, kenapa kamu tiba-tiba sudah pakai pakaian pelayan begitu?"


Tanya Zion.


Kak Ziyan kali ini malah jadi menatap adiknya dengan tatapan curiga.


"Memangnya dia tadi pakai baju apa?"


Kak Ziyan nimbrung.


Pelayan yang merasa jadi ditempatkan di tengah kondisi dan situasi yang tak jelas itu jadi garuk-garuk kepala.


Zion geleng-geleng kepala.


"Tadi, jelas dia itu pocong Kak, tadi di depan kamarku, dia mantul-mantul."


Kata Zion, membuat si pelayan yang mendengarnya jadi menjerit.


"Aaaaaaaaaaa..."


Kaburlah si pelayan dari hadapan keduanya.


"Jiaaaah, kenapa dia kabur?"


Zion bingung sambil berdiri dan celingak-celinguk.


Kak Ziyan mengurut kening.


"Lah kamu samain mukanya sama pocong, ya kaburlah dia."


Tukas Kak Ziyan geleng-geleng kepala.


**---------------**