
"Cucu itu adalah anak-anak yang akan lahir kelak setelah Zizi dan Shane menikah."
Kata Zia.
Nancy pun langsung mengangguk dan tampak ia lega mendengar penuturan Zia.
"Aku sudah mendapatkan kabar dan juga Nenek moyang serta seorang Eyang yang kami hormati juga telah memberikan kabar yang sama, bahwa kelak Zizi akan memiliki lima anak laki-laki."
Tutur Zia menceritakan perihal mimpinya yang sama persis dengan kabar yang disampaikan oleh Eyang Sapujagat dan juga Nenek Bandapati.
"Lima anak laki-laki."
Nancy bergumam.
Rasanya membayangkan saja ia kepalanya tiba-tiba sudah langsung sakit, wkwkwk...
Zizi polos dan manis.
Ya tentu saja itu adalah pujian tulus dari Nancy di depan Ibunya.
Tapi, betapapun manisnya Zizi, nyatanya perilaku Zizi yang seringkali tak lazim juga cukup berat jika kelak diturunkan pada anak-anaknya, apalagi jika itu berjumlah...
"Ya Ibunya Shane, mereka berjumlah lima orang anak dan semuanya laki-laki."
Oh tidaaaaaak...
(Tolong lambaikan tangan ke arah kamera kalau menyerah)
"Dan..."
Zia lantas wajahnya tampak mulai kembali serius.
"Dan apa Nyonya?"
Tanya Nancy yang sedikit khawatir.
"Dan kemungkinan, merekalah ujung tombak mempertahankan Jayapada tetap bersama kita."
Lirih Zia.
Nancy terkesima.
"Baiklah Nyonya, kini saya semakin mengerti bahwa ini juga pasti salah satu alasan Shane dipilih sebagai pendamping Nona Zizi."
Kata Nancy.
Zia tersenyum.
"Karena kelima anak Nona Zizi tidak boleh lahir menjadi manusia seutuhnya, tugas mereka pasti juga karena sangat berat. Mereka butuh Ayah yang tak biasa."
Zia menganggukkan kepalanya, mengiyakan apa yang dikatakan Nancy.
Tentu saja, Zia memang tak bisa memungkiri hal itu.
Mereka butuh keturunan Zizi bisa ikut mengamankan pusaka terakhir keluarga mereka.
Agar tak sampai jatuh ke tangan yang salah, terutama Paman Jaka Lengleng.
Setelah itu Zia dan Nancy akhirnya tinggal membicarakan rencana tentang acara Shane dan Zizi nantinya, di mana tempat mereka nanti menikah, lalu kemudian pesta resepsi besar di Indonesia dan lain sebagainya.
Betapa kedua Emak itu akhirnya bicara begitu serius tentang semua masalah anak-anak mereka.
Nancy yang kini bukan manusia nyatanya justeru bisa lebih memahami semua yang Zia inginkan.
Zia sangat lega setelah mengatakan semuanya langsung pada Nancy, dan lebih lega lagi karena Nancy mampu menerima semua yang Zia sampaikan.
Ke depannya mungkin ada banyak hal berat yang harus dihadapi, tapi bertambahnya kekuatan di tengah mereka saat ini, membuat Zia bisa sedikit lebih tenang.
"Kelak setelah Shane selesai study, dia akan kembali ke Indonesia, aku rasa, Tuan Marthinus akan aku minta mendampingi Shane saja. Aku akan membicarakannya dengan Tuan Marthinus besok. Bagaimana menurutmu Ibunya Shane?"
Tanya Zia.
Nancy mengangguk setuju.
"Itu ide bagus Nyonya, kita sama-sama tahu jika Tuan Marthinus sudah bersama Nona Zizi dan Shane sangat lama, sama seperti hantu Maria. Saya rasa keberadaan mereka akan sangat banyak membantu, terutama saat anak-anak Shane dan Zizi lahir. Penjagaan Tuan Marthinus akan sangat dibutuhkan."
Zia mantuk-mantuk.
"Kamu benar Ibunya Shane."
Zia lalu tertawa sendiri, membayangkan Marthinus akan kembali menghadapi tingkah polah anak-anak petakilan dan nakal seperti dulu ia menghadapi Zizi.
Hanya saja jika dulu ia hanya menghadapi satu, kini ia akan menghadapi lima anak sekaligus.
Zia ingin tahu, apakah Marthinus kuat atau malah menyerah juga.
Hahaha...
(Untung bukan othor yang disuruh jagain anak Zizi).
**------------**
Maria berdiri di dekat jendela kaca kamar, Zizi sedang mandi di kamar mandi kamarnya.
Maria sibuk mengamati Vero yang ada di belakang rumah sambil sibuk berbalas chat dengan seseorang dengan wajah serius.
"Jelas ia bisa melihatku."
Gumam Maria sendirian.
Maria terus mengawasi Vero dari tempatnya kini berdiri di balik jendela.
"Siapa dia sebenarnya?"
Gumam Maria lagi.
"Siapa?"
Tiba-tiba Zizi bertanya dari arah belakang telinga Maria, membuat Maria kaget sampai nyaris kejedot jendela.
Haiiish... Maria mendesis sambil mengelus dada macam punya jantung saja.
Zizi nyengir.
"Kamu mau Aunty mati?"
Omel Maria.
Zizi berjalan ke arah tempat tidur sambil sibuk mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk.
"Aunty kan memang sudah mati."
Sahut Zizi.
Ah iya juga. Batin Maria.
Ia lalu melayang ke arah Zizi, ia siap mengajak Zizi bergosip.
"Apa?"
Zizi melirik Maria dengan kekesalannya yang masih tersisa sedikit.
Maria cekikikan karena tahu anak asuhnya masih menyimpan dendam kesumat padanya.
"Biasa saja dong mukanya."
Kata Maria.
Kesal Zizi.
Haiiish... Maria mendesis.
"Eh Zi."
Panggil Maria.
"Apa Auntyyyy?"
Zizi menatap Maria.
"Pengawal baru Alpha Centauri, yang cewek itu, kamu nggak curiga apa sama dia?"
Tanya Maria.
Zizi terdiam, lalu...
"Vero?"
Zizi balik tanya pada Maria.
Tampak Maria mengangguk.
"Pas pertama lihat sempat ngerasain ada energi panas dari dia, tapi lama-lama biasa lagi, mungkin tadinya ada yang nempel dia saat perjalanan ke sini."
Kata Zizi.
"Kalau ada yang nempel doang harusnya Mama kamu tahu dong, gimana sih."
Maria menabok lengan Zizi.
"Ikh."
Zizi ganti membalas menabok paha Maria yang duduk di sampingnya.
"Aduh, kamu kalau nabok tidak usah pinjam tangan Nenek Retnoasih, langsung panas paha Aunty."
Protes Maria.
"Hihihi... Lah bisa nabok Aunty kan karena Nenek yang nabok, Zizi mah kan polos, tidak suka kekerasan."
Zizi cekikikan.
"Dasar cucu akhlakles, Nenek yang malah jadi disalahkan."
Komen Maria.
"Emangnya ada apa sih, Mama aja santai."
Kata Zizi.
"Kamu biasanya sensitif kalau ada orang energinya mencurigakan, ini ngapa santai bae?"
"Lah, kan Zizi bilang tadi pas pertama lihat sempat ngerasain, tapi habis itu udah biasa lagi. Jadi gimana, masa mau Zizi tabok, nanti yang ada Zizi yang kena tabok sama Mama."
Kesal Zizi malah disalahkan.
"Dia bisa lihat Aunty."
Ujar Maria.
"Lha trus?"
Zizi membulatkan matanya.
Maria tepuk jidatnya.
"Ya trus gimana, berarti dia juga nggak kayak kebanyakan manusia normal lainnya Zizi, ada kemungkinan dia masuk ke Alpha Centauri karena punya misi."
Ujar Maria.
"Ya udah nanti Zizi selidiki, apa Aunty ajalah selidiki, dia kan kamarnya di belakang, harus lewatin kamar Kak Seng."
Kata Zizi akhirnya.
"Malu ya ketemu Shane lagi."
Maria menggoda Zizi.
"Enggak."
Sanggah Zizi cepat.
"Malu tuh marah nggak jelas sampai buang kunci."
Maria terus menggoda Zizi membuat Zizi wajahnya merona merah dan langsung melayangkan tabokan lagi.
Maria cepat melayang menghindari Zizi.
Tampak Zizi cemberut ke arahnya.
"Ini juga gara-gara Aunty!"
Kata Zizi pada Maria yang tampak melayang-layang di kamar sambil cekikikan.
"Aunty manasin Zizi katanya Kak Seng sama vampir cantik, kata Kak Seng dia cuma ketemu aja pas ditolong."
Maria cekikikan terus.
Rupanya Shane hanya cerita awalnya saja, pantas Nona ngambekan ini tak lagi marah.
"Kamunya saja yang cepat marah, udah tahu Shane tidak mungkin dengan gadis lain, pake marah-marah tidak jelas."
Kata Maria.
"Ya kan abisnya..."
"Ciyeee Zizi cemburuan, masa Naga kurang pede sampe cemburuan begitu."
Ujar Maria.
"Iiikh..."
Zizi melempar bantal ke arah Maria.
Maria menghindar.
"Nggak kena dong."
Kata Maria.
"Auntyyyyyy..."
Zizi melempar bantal lagi.
"Awas nih kalau sampai kena Aunty tidak mau ngurusin anak-anak kamu ya, ingat kamu bakal punya anak lima sama Shane, hahahaha..."
Maria tambah tertawa, membuat Zizi yang jadi terbayang punya anak dengan Shane jadi malu sendiri.
**-------------**