Zizi

Zizi
236. Menantu Idaman


Jarum jam berputar dengan semangat, berputar-putar cepat sampai mau copot.


Hingga tahu-tahu ternyata sudah hampir satu bulan kurang dua hari.


Di London, Shane yang sudah potong rambut jadi rapi jali, memakai setelan jas, sepatu kinclong anti debu-debu intan, kini terlihat sosoknya tengah berdiri di depan jajaran petinggi Alpha Centauri di London.


Shane menjelaskan tentang penyebab naik turunnya grafik perusahaan yang kurang stabil pada dua tahun terakhir.


Shane juga memberikan jurus jitu yang merupakan murni idenya, menjelaskannya dengan detail sampai membuat para petinggi itu manggut-manggut.


Tampan, cerdas, dan sangat berkarisma. Sangat mirip dengan Tuan Ziyan. Begitu yang berkomentar.


Oh oh... sungguh jahat mulut mereka, bagaimana bisa menantu Zion justeru lebih mirip dengan Uwaknya.


Dan setelah hampir dua jam Shane berbusa-busa di depan para petinggi Alpha di London, semua pun yang merasa puas sampai berdiri dan bertepuk tangan.


Mereka mengapresiasi kerja Shane yang sebetulnya masih sangat baru namun tampaknya begitu menguasai masalah perusahaan.


Nick yang merupakan mentor dari awal Shane bergabung tampaknya begitu bangga dengan pencapaian Shane.


Yah...


Ini tentu bukan hal yang biasa, karena biasanya untuk benar-benar berada di titik Shane yang sekarang butuh banyak sekali waktu.


Bukan hanya karena ia calon menantu Tuan Zion memang ia langsung di tempatkan diposisi strategis, tapi karena kemampuannya juga memang mumpuni.


Maka mungkin ada benarnya, Shane mirip dengan Ziyan, mengingat dulu Ziyan yang tumbuh di lingkungan yang sebetulnya sama sekali berbeda, namun begitu belajar, ia langsung sangat luar biasa mengurus perusahaan.


Bahkan kabarnya, sekarang Ziyan justeru menguasai bahasa asing jauh lebih banyak dari Zion yang sekolah sampai ke Eropa.


Shane menyalami satu persatu petinggi Alpha Centauri di London dengan sopan, dan tentu saja mentornya Mr. Nick yang ia sangat hormati.


"Kapan Tuan akan ke Indonesia? Pernikahan di Indonesia sepertinya akan diadakan sebentar lagi bukan?"


Tanya salah satu petinggi yang kemudian berjalan mengiringi Shane keluar dari ruang rapat.


"Rencananya besok pagi Tuan."


Kata Shane.


"Pasti sangat indah acara di Indonesia, kami selama ini sangat ingin pergi ke sana."


Shane mengangguk membenarkan.


"Nanti saya akan usulkan acara di London mengusung budaya Indonesia."


Kata Shane, membuat para petinggi tersenyum senang.


"Saya ingin melihat tari Bali secara langsung."


Kata salah satu petinggi lain.


Shane mengangguk.


"Saya akan sampaikan pada Tuan Zion dan Nyonya Zia."


Ujar Shane.


"Tuan Zion akan sangat bangga jika saja hari ini ikut menghadiri rapat."


Salah satu petinggi lain bersuara.


"Beliau sudah melihat, saya mengirimkan video tadi ke akun beliau."


Nick nimbrung, membuat Shane terkejut dan wajahnya langsung merona merah.


"Ah tidak ini memalukan."


Kata Shane.


"No... Anda sangat berbakat menjadi pemimpin Tuan Shane, anda layak menjadi penerus Tuan Zion."


Para petinggi memuji Shane setinggi langit.


Biasalah, calon mantu boss besar, meskipun memang Shane layak dipuji, pujian itupun jadi ditambah-tambah pula supaya makin Nasgitel.


Shane yang mendapatkan pujian dari kanan kiri belakang jadi terlihat salah tingkah.


Sebagai mahluk yang sebetulnya bukan manusia sempurna, Shane merasa berada di posisi yang sekarang membuatnya begitu terharu.


Dan...


Ini tidak akan terjadi pada hidupnya, jika ia tak bertemu Zizi.


Maka untuk Shane, Zizi adalah hadiah dari semesta untuk mengobati kecewanya atas takdir yang membuatnya tak lagi sebagai manusia biasa.


**--------------**


"Ziziiiii, berhenti muter-muternya!"


Zia mengurut tengkuknya yang mulai terasa tegang.


Sejak tadi melihat Zizi mencoba kebaya yang dipesan di butik terus saja muter-muter pake loncat segala.


Mana sepatunya tetap pake sepatu kets, Zia mengurut tengkuknya.


Mbak Ning yang sengaja datang untuk menemani Zia mengantar Zizi menawarkan bantuan mengambil air untuk minum obat.


Zia menggeleng, ia belum makan dari pagi, ia terlalu stres dan gugup karena hari H sebentar lagi tiba.


"Putri anda sangat lincah, seperti ulet pete."


Kata pemilik butik pada Zia.


"Ya, dia menuruni eyangnya Bu."


Kata Zia.


Zizi cekikikan.


Padahal jika dilihat Zizi sangat cantik dan anggun memakai kebaya dan kain motif jarik.


Sayangnya Zizi terus saja bergerak ke sana ke mari, muter-muter dan loncat-loncat, membuat anggunnya menggelinding entah ke mana.


"Ma, sudah ya, gerah."


Kata Zizi yang tak betah dan ingin segera ganti kaos oblong lagi.


Zia mantuk-mantuk.


"Ya... Ya... Ganti saja, lalu kamu main di luar."


Ujar Zia.


Zizi mengacungkan jempolnya.


"Okay."


Sahut Zizi.


Zizi masuk ke ruangan ganti, setelah ganti ia langsung ngeloyor keluar dari ruang VVIP di mana Mamanya bersama Mbak Ning akan mengobrol ngalor ngidul dengan pemilik butik.


Zizi berjalan dan melihat Maria yang asik melayang-layang melihat aneka model kebaya yang dipajang untuk model.


Tampak Zizi berjalan menjauhi ruangan VVIP, sampai kemudian di dekat etalase besar, sesosok hantu perempuan sedang menyandar di etalase membelakangi Zizi.


Iseng Zizi menampol kepala si hantu.


Plak!


"Aduh."


Hantu itu menoleh ke arah Zizi dengan wajah setengah hancur.


"Cuci muka."


Kata Zizi sambil lalu.


"Apes, ketemu Zizi."


Gumam si hantu sambil membetulkan matanya yang hampir copot karena ditampol dari belakang.


Zizi memang begitu, tidak ada hati.


Zizi nyengir tengil sambil keluar dari butik untuk cari es krim.


**---------**