Zizi

Zizi
208. Penyusup Alpha


Pelayan yang dililit ular itu matanya terbelalak begitu tubuhnya ditarik ke dalam kamar, dan pintu kamar itu menutup sendiri.


Ketakutan dan rasa sakit bercampur menjadi satu, macam krim dan kopi yang diaduk di dalam cangkir.


Ular itu menjulurkan lidahnya ke arah wajah sang pelayan sambil mengencangkan belitannya, mencoba meremukkan setiap tulang yang ada di dalam tubuh si pelayan.


Kedua mata sipelayan menatap takut kepala ular yang kini tepat di dekat wajahnya.


Mata ular itu seperti menyedot seluruh energi di dalam tubuhnya hingga ia benar-benar lemas.


Dan saat belitan ular itu akan semakin kencang, bersiap meremukkan tulang si pelayan, tiba-tiba terdengar suara tembakan dari luar pintu kamar.


Darr!!


Sebuah peluru menembus pintu dan melesat mengenai dinding kamar.


Bersamaan dengan itu, pintu kamar didobrak paksa, sekelompok pengawal Alpha yang ada di rumah Kemang meringsek masuk.


Mereka menodongkan senjata mereka ke arah ular besar yang ada di kamar Zion.


Ular yang entah datang dari mana, dan yang jelas ukurannya yang sangat besar itu membuat nyali beberapa pengawal sedikit ciut.


Darr!!


Seorang pengawal melepas tembakan ke arah si ular.


Hal itu membuat si ular besar melepaskan belitannya pada si pelayan dan mengamuk mengibaskan ekornya.


Si pelayan jatuh tersungkur di atas lantai kamar Zion, tubuhnya rasanya kebas mati rasa, lalu iapun pingsan.


Darr!!


Darr!!


Tembakan, tembakan itu terus dilepaskan ke arah sang ular yang mengamuk, merusak seluruh barang di dalam kamar Zion.


(Othor ngga mau ikut ganti rugi)


Ular itu mendesis, matanya menyala-nyala, lidahnya terjulur dan kepalanya yang sangat besar mengarah pada para pengawal yang kini mulai kehabisan peluru.


"Hubungi polisi cepat!!"


Kata salah satu pengawal sambil berusaha mundur keluar dari kamar.


Ular itu terus memburu, tak peduli kini ia berada di dalam rumah.


Ular itu menerobos keluar kamar, menangkap satu pengawal yang berada paling dekat, hendak membelitnya manakala satu pengawal lain menghajarnya dengan kursi kayu yang ada di sana.


Ular itu melepaskan pengawal pertama, dan memburu yang menyerangnya dengan kursi.


Ekornya di sabetkan pada sekelompok pengawal lain yang akan berusaha menolong temannya.


Pengawal yang diburu sang ular berlari menuju lift.


Seolah diburu kematian, pengawal itu begitu panik menekan tombol di dekat pintu lift.


Sang ular mendesis, pengawal yang kini menjadi target bersandar pada pintu lift yang masih tertutup.


Wajahnya menyiratkan rasa takut yang teramat. Ya, saat ia mendaftar menjadi pengawal Alpha tentu saja ia sama sekali tak pernah berpikir akan bertemu ular, apalagi sampai berhadapan dengan ular sebesar itu di dalam rumah atasannya sendiri.


Dan...


Ular dengan mata merah menyala itu menerjang ke arah pengawal, membelitnya tanpa ampun.


Pengawal itu digulung jatuh di atas lantai, hingga...


Pintu lift terbuka.


Zizi muncul dan melihat ular besar di lantai tiga rumah uyutnya yang kini membelit salah seorang pengawal tentu saja langsung melompat ke arah sang ular.


Dengan gerakan yang sangat cepat, Zizi menghantam kepala sang ular dengan guci yang ada di atas meja dekat pintu lift.


Tak peduli guci kenangan dari salah satu pengusaha dari China untuk kakeknya yang mungkin harganya lebih dari satu milyar.


Zizi tak peduli.


Ular itu melepaskan belitannya, menatap Zizi yang kini juga matanya menyala menatap tajam sang ular.


"Bawa semua korban keluar!! Cepat!!!"


Teriak Zizi pada para pengawal.


Maria yang tak mau tinggal diam langsung terlihat mencari barang apa saja yang bisa ia gunakan sebagai senjata untuk membantu Zizi menghadapi ular nyasar itu.


Dimas yang memang oleh Zizi langsung diminta mengungsikan Kakek uyutnya, di lantai dua tampak mendorong Tuan Ardi Subrata yang duduk di atas kursi roda.


Para pelayan termasuk Mbak Wati berhamburan keluar rumah.


Dave yang semula menyiapkan senjata untuk membantu Zizi menghadapi sang ular juga diminta Zizi menyingkir.


"Paman Dave, bantu semua orang keluar dari rumah, cepat!!"


Kata Zizi lagi.


Para pengawal yang galau karena harusnya mereka yang mengamankan majikannya dan kini malah jadi sebaliknya akhirnya terpaksa menuruti perintah Zizi.


Zizi meraih kalungnya, menggenggam cincin kecil yang menjadi liontin kalung yang ia pakai.


Maria mengambil centong sayur dan ulekan dari dapur dan melayang lagi ke lantai atas.


Melihat ulekan dan centong sayur melayang sendiri tentu saja pengawal junior yang belum pernah melihat keanehan di sana langsung lari tunggang langgang sambil menggotong pengawal yang hampir jadi korban dan juga si pelayan yang tadi juga hampir jadi korban dan masih pingsan.


Para tetangga di komplek keluar karena mendengar kehebohan.


"Ular... ada ular besar."


Ular itu menatap Zizi yang kini tubuhnya seolah mengeluarkan cahaya putih menyilaukan.


Cahaya itu bahkan sampai keluar dari dalam rumah hingga bisa terlihat banyak orang yang ada di depan rumah.


"Apa itu... Apa itu?"


Makin heboh semuanya di sana.


Zizi tubuhnya pelahan melayang, matanya terpejam sebentar, dan saat kedua matanya terbuka, mata Zizi menjadi putih terang macam ultramen.


Tet tet teeeeet...


Ular itu bersiap menerjang Zizi, menyerang lebih dulu.


Namun...


Tung!!


Tung!!!


Tung, tung, tung, tung!!!!!


Maria memukuli kepala ular itu dengan ulekan dan centong sayur.


Ular itu jadi pusing, mana belum gajian, kepala di pentungi.


Dan saat ular itu menoleh ke arah Maria yang nyengir, tiba-tiba Zizi menerjangnya, Zizi yang kini memegang sebilah pedang tampak melompat dengan cepat ke arah sang ular.


Disabetkannya mata pedangnya ke arah sang ular.


Ular itu berusaha tetap melawan.


Jayapada, ya itu jayapada yang diinginkan Tuan Alex. Pedang itu benar berada di tangan gadis itu.


Ular itu mendesis.


Sakit pada tubuhnya yang terkena sabetan Jayapada kini pelahan seolah terbakar.


Ular itu menyabetkan ekornya secara membabibuta, nyaris menghancurkan semua barang yang ada di sana.


Zizi melompat ke atas, mengangkat pedangnya yang berkilat-kilat.


Saat pedang itu diangkat, cahaya terang membumbung tinggi menembus atap rumah Tuan Ardi Subrata.


Cahaya itu terus ke atas langit, dan membuat suara gemuruh di langit terdengar keras.


Zizi kembali mengayunkan pedangnya, dan tanpa ampun menghajar sang ular.


Ular besar yang masih berusaha melawan Zizi itu akhirnya jatuh terkapar di lantai.


Tubuhnya mengejang sakit, matanya terbelalak, dan tampak kini seperti kepulan asap hitam keluar dari tubuhnya, seiring dengan berubahnya tubuh si ular besar itu menjadi manusia.


Manusia dengan seragam pengawal Alpha Centauri itu menggelepar.


Zizi mendekatinya.


Tampak id card yang masih menggantung di leher si pengawal itu.


"Diki."


Gumam Zizi membaca namanya.


Zizi meraih wajah pengawal bernama Diki itu dengan kasar.


"Katakan, siapa yang menyuruhmu!!"


Kata Zizi.


Diki menatap Zizi dengan mata yang mulai meredup.


"Katakan!!"


Bentak Zizi tak sabar.


Tung!!


Maria mentung kepala Dikit lagi.


"Katakan cepat!!"


Maria juga tak sabar.


"A... A... Ydgebdjagweh."


Diki bergumam tak jelas, dan tiba-tiba ia menghilang.


Haiiiish... Zizi kesal bukan kepalang, dan...


Bukg!


Dihantamnya lantai bekas Diki terkapar.


"A... Ydgebdjagweh, nama apa itu."


Maria bolot.


Zizi mengurut kening.


Jelas itu bukan nama, itu suara Diki yang menahan sakit.


**------------**