Zizi

Zizi
181. Menanti Bukti


Kekacauan malam itu di rumah Zion di kota London kemudian membuat Zia tak bisa tidur semalaman, ia mencoba memikirkan semua kemungkinan hubungan peristiwa malam ini dengan Paman Jaka Lengleng.


Belum lagi, Maria dan Zizi memintanya mulai waspada dengan Vero, pengawal perempuan pertama di jajaran para pengawal junior yang direkrut Alpha centauri itu menurut Maria sangat mencurigakan.


Meskipun Zizi sendiri, berusaha merasakan energi negatif dari Vero seperti terhalang sesuatu, tapi nyatanya Zizi tetap akhirnya mendukung pemikiran Maria yang mulai curiga dengan gerakan-gerik Vero.


"Dia seperti mencoba menutupi kenyataan bahwa ia memiliki kemampuan melihat hantu. Ia menutupinya bukan karena ia takut hantu, tapi seperti tak ingin ada yang tahu."


Begitu Maria berkata.


Zia demi mendengar semua yang dikatakan Maria akhirnya menghubungi Zion di Jakarta, meminta Zion agar Joni besok mengirimkan semua data riwayat Vero kepada Zia lewat email.


Zia duduk di atas tempat tidur, gusar rasanya iapun sekarang membayangkan Zion seorang diri di rumah.


Meski Zia tahu di sana ada banyak pengawal menjaga, namun tentu jika yang dihadapi bukan manusia, tak banyak yang bisa dilakukan para pengawal itu.


Tapi...


Zia kemudian ingat keluarga Zanuba.


Ya, untunglah, keluarga Jin itu cukup bisa membuat Zia tenang bila Zion berada di rumah sendirian, tapi jika sudah keluar dan jauh dari rumah, bagaimana nantinya, itu yang Zia jadi tak tenang lagi.


Apa serangan akan lebih cepat dari yang aku pikirkan?


Kenapa harus secepat ini?


Bahkan persiapan pernikahan baru akan dimulai. Batin Zia.


Tak berbeda dengan Mamanya, Zizi di kamar juga tak bisa tidur.


Zizi ingat saat terakhir kali berhadapan dengan para anak buah Paman Jaka Lengleng di hutan gaib sekitar rumah Paman Ziyan.


Masalah Ali nyatanya membuat satu rahasia Paman Jaka Lengleng terbuka, bahwa ia memiliki kekuatan yang bergerak di bawah tanah yang sengaja diselundupkan di tengah para manusia.


Yang selama ini mereka hanya tahu bahwa Paman Jaka Lengleng mencoba menguasai tanah lelembut saja, ternyata ia juga berambisi menguasai tanah manusia.


Ia menginginkan kekuasaan mutlak di tangannya.


Ah yah, keserakahannya melebihi sang Ayah, Balasanggeni.


Jaka Lengleng dengan ambisinya yang begitu besar menjelma menjadi mahluk yang sangat serakah.


"Jayapada, ia sudah jelas memang ujungnya mengincar Jayapada yang ada di tanganmu kan Zi?"


Maria tiba-tiba bicara dari atas lemari.


Zizi yang duduk sila di atas tempat tidur tampak mengangguk.


"Saat di hutan ke tujuh, Zizi lihat Paman Jaka Lengleng belum terlalu pulih. Itu sebabnya ia main cantik sekarang. Zizi yakin dia tak akan berani berhadapan langsung dengan Zizi, tapi yang Zizi khawatirkan adalah anak keturunannya yang dari kalangan manusia."


Kata Zizi.


Maria mantuk-mantuk.


"Kau benar, jika kita melihat Vero yang sebetulnya mencurigakan tapi anehnya energi negatifnya tak bisa kita deteksi, berarti pertanda mereka bergerak sangat hati-hati sekarang Zi, dan ini justru akan membuat kita sulit melihat mana kawan dan mana lawan dengan jelas ke depannya."


"Nanti Zizi akan bicara pada Papa agar jangan merekrut orang baru lagi mulai tahun depan. Cukup tahun ini terakhir, karena kita tak tahu sebetulnya sudah berapa banyak pengikut Paman Jaka Lengleng yang sudah ada di dalam."


Kata Zizi.


"Kau benar Zi."


Maria setuju.


Mereka tampak serius memikirkan masalah ini.


Tak seperti biasanya yang mereka terlihat main-main, kali ini karena yang jika sampai mereka lengah bukan hanya berbahaya bagi mereka saja, namun juga bagi tanah manusia dan juga tanah lelembut juga.


"Apapun, Zizi akan jaga Jayapada semampunya Aunty."


Kata Zizi.


Maria mengangguk.


"Ya Zi, kau harus menjaganya, karena hanya di tanganmu lah Jayapada tak akan menyakiti manusia dan lelembut yang tak jahat."


Kata Maria.


**--------------**


Pagi harinya, Zia turun ke lantai satu menikmati satu cangkir kopi dan juga roti panggang buatan Nancy.


Sejatinya Zia bukan tipe orang yang gemar minum kopi, tapi kali ini ia ingin minum kopi tanpa krim pastinya.


Zia tentu saja khawatir kalau darah tingginya sampai naik.


Aroma roti panggang dari dapur masih terus tercium karena Nancy menyiapkan lagi untuk Zizi.


Hingga...


Zia yang semula menonton berita dengan malas-malasan sambil menyeruput kopi, tiba-tiba terlihat jadi serius.


Di ambilnya remote TV dan menambahkan volume TV nya.


Di berita kini tayang pemberitaan ditemukannya mayat seorang tuna wisma yang terkulai di pinggir jalan.


Bukan karena kelaparan, bukan juga karena kedinginan karena musim dingin sudah mulai berakhir.


Tapi...


Dikatakan oleh pembaca berita, bahwa mayat tersebut seluruh tulangnya remuk, dan seluruh tubuhnya dipenuhi seperti lendir dari air liur binatang melata.


Zia mengerutkan kening.


Dan yang paling membuat Zia terperangah, adalah saat sebuah rekaman CCTV dari gedung terdekat di mana mayat itu ditemukan adalah bayangan hitam yang bergerak di tengah malam, bergerak seperti ular besar yang memuntahkan mayat itu di sana.


Zia tangannya yang memegang remote TV tergetar, saking lemasnya remote TV pun meluncur jatuh ke lantai.


Vero yang baru muncul cepat meraih remote TV dari lantai di dekat Zia duduk dan kemudian meletakkannya di atas meja makan lagi di samping cangkir kopi milik Zia.


"Ada apa Nyonya?"


Tanya Vero.


Zia kemudian menatap Vero.


Zia berusaha merasakan energi apa yang ada pada diri Vero, tapi Zia juga tak bisa menembusnya.


Vero mengangkat kedua alisnya menatap Nyonyanya.


Tak lama Nancy juga muncul membawa sarapan milik Zizi ke sana.


Nancy meletakkan satu piring roti panggang dan satu gelas orange jus kesukaan Zizi.


Nancy melirik Vero dengan mata yang selalu curiga, membuat Vero terlihat tak nyaman.


Vero lantas permisi untuk memanggil Daniel di luar.


Sepeninggal Vero yang kepergiannya diikuti tatapan Zia dan Nancy, tampak kemudian Nancy akhirnya membuka suara lebih dulu.


"Nyonya, maaf jika saya lancang."


Kata Nancy.


Zia mengangguk.


"Tidak apa Ibunya Shane, katakanlah, ada apa?"


Tanya Zia.


"Vero, pengawal itu, apa tidak lebih baik anda menyuruhnya pulang saja? Saya rasa ada yang tidak beres dengannya."


Ujar Nancy pula.


Senada dengan Maria yang jelas-jelas tak Suka dengan kehadiran Vero di tengah mereka.


Zia mengangguk mengerti dengan kecemasan mereka semua.


"Aku sudah bicara dengan Papanya Zizi, hari ini aku minta data Vero untuk di kirimkan ke email. Aku ingin tahu dia darimana, jika memang dia yang mencurigakan, aku ingin ada clue juga apakah ini ada kaitan dengan Paman Jaka Lengleng. Memecatnya juga kita harus punya bukti kuat kesalahan dia apa bukan? Kita tak bisa berlaku tak profesional Ibunya Shane, semua harus dipikirkan masak-masak, tak bisa kita hanya mengandalkan insting untuk menjadikannnya alasan mendepak orang lain."


Kata Zia.


Nancy pun akhirnya mengangguk.


Ya tentu, ia tak memikirkan sampai sejauh itu, bagaimanapun posisinya memang hanyalah asisten rumah tangga, yang hanya tahu bangun pagi sebelum majikannya bangun dan mengurus semuanya sebaik mungkin.


"Baik Nyonya, maaf, saya tak tahu sampai ke sana."


Kata Nancy.


Zia tersenyum.


"Tidak apa Ibunya Shane, aku tetap berterimakasih karena kau begitu perduli pada kami dari dulu."


Ujar Zia.


Lalu Zia kembali fokus melihat TV lagi, menunggu berita tentang mayat tuna wisma dengan tulang remuk lagi.


**---------------**