
Para hantu yang tinggal di sekitar Alpha hotel, baik yang ada di dalam maupun di luar hotel sudah begitu heboh sejak malam sebelumnya.
Mereka heboh mencari tempat sembunyi takut di tabok Zizi disuruh pindah.
Mereka juga sudah membuat kesepakatan untuk tidak ada satupun yang melakukan penampakan, ataupun gerakan kecil apapun yang bisa memicu ketakutan manusia yang datang ke sana.
Ya, banyaknya tamu menginap di Alpha menjelang acara Zizi memang membuat hotel itu cukup penuh.
Biasanya jika demikian, hantu senang mengganggu salah satu tamu yang tinggal sendirian di kamar, atau juga tinggal dua atau tiga orang tapi semuanya penakut.
"Pokoknya tidak boleh ada kesalahan apapun, buat semuanya damai selama menjelang dan setelah acara Nona Zizi."
Kata senior hantu.
"Kalau ada yang membandel, maka risiko ditanggung pembaca, eh maksudnya ditanggung sendiri."
Kata Senior hantu lagi.
Senior hantu di Alpha hotel adalah seorang kunti yang paling tua.
Usianya sudah lebih dari lima ratus tahun.
Konon adalah penunggu di daerah yang sekarang berdiri Alpha Hotel.
Kunti jaman purba itu menetap di sana sejak jaman masih raja-raja, jadi sudah sangat tua, meskipun belum setua Eyang Bandapati tentunya.
Karena Eyang Bandapati, adalah mahluk tertua di sini.
Setelah upacara besar-besaran yang juga untuk membuat pengumuman penting, para hantu penunggu Alpha Hotel akhirnya membubarkan diri.
Hanya jeda lima menit dengan kedatangan rombongan Zizi dan keluarga Paman Ziyan serta juga Shane, Nancy dan Marthinus.
Dimas dan Dave yang dipercaya Zion untuk mengurus keamanan penyambutan para calon tamu yang datang dari berbagai daerah bahkan dari beberapa Negara lain, kini terlihat menyambut dan meminta pengawalan ketat untuk Zizi dan Shane, serta juga keluarga Tuan Ziyan.
"Zizi mah tidak usah dikawal."
Kata Zizi begitu Paman Dimas memberikan instruksi untuk pengawalan Zizi dan Shane agar lebih diperketat menjelang acara.
"Nona harus dikawal, karena bagaimanapun kami tak mau sampai kecolongan jika sampai Nona kenapa-kenapa."
Ujar Dimas memberi pengertian.
Zizi akhirnya mengangguk menurut.
"Baiklah Paman."
Kata Zizi.
Zizi kali ini menurut saja demi kasihan melihat wajah lelah Paman Dimas.
Zizi di tunjukkan serta dikawal menuju kamarnya di lantai tiga.
Shane sendiri di antar oleh beberapa pengawal lain juga, naik ke lantai empat, lantai yang sama dengan Martinus dan Ibunya.
Shane yang naik lift berbeda dengan Zizi mencoba tetap tenang, meskipun sejatinya Shane mulai merasa gugup membayangkan sebentar lagi akan menjadi menantu sebuah keluarga kaya nan terpandang.
Shane sungguh takut mengecewakan Tuan Zion dan Nyonya Zia, takut akan membuat semuanya berantakan, takut tak bisa menjaga Zizi dan anak-anaknya dari bahaya yang mungkin kapan saja akan mengancam mereka.
"Semua akan baik-baik saja Shane, tenanglah."
Tiba-tiba Marthinus yang berdiri paling dekat dengan Shane berkata.
Ia benar-benar mahluk yang sangat peka.
Bisa merasakan energi Shane yang pasti langsung berubah manakala Shane merasakan gugup dan khawatir.
Shane menyempatkan diri menoleh ke arah Paman Marthinus, dan tersenyum.
"Thanks Paman, aku setidaknya bisa lebih tenang karena kau ada di sini sekarang."
Ujar Shane.
Marthinus mengangguk.
"Aku akan di sini, dan akan selalu di sini, tenang saja."
Ujar Marthinus.
Lift kemudian berhenti di lantai empat, begitu keluar tepat ada serombongan pocong yang lewat akan pindah lantai.
"Kenapa ada pin sasaran bola boling?"
Tanya Marthinus melihat rombongan pocong yang menjauh.
"Itu hantu karung tinju."
Ujar Shane.
"Oh aku pikir itu sasaran boling."
Kata Marthinus mantuk-mantuk.
Sementara empat pengawal yang mengawal mereka yang karena terbawa energi Shane dan Marthinus bisa melihat rombongan pocong langsung pada pingsan.
**--------------**
Note:
"Makasih ya dik... atas kiriman ROTI GEMBONG GEDE nya, dan juga masakannya enak deh...
🤗🤗🤗