Zizi

Zizi
101. Penjara Bunga Petak


Zizi, Maria dan Mintul kembali ke tempat penjual nasi ayam.


Terlihat di sana lapak sudah ditutup dan Shane membantu membereskan. Zizi datang lalu memberikan uang tiga jutanya ke pak penjual nasi ayam.


"Apa nih Non?"


Tanya pak penjual nasi ayam.


"Buat yang tadi Zizi makan sama buat ngurangin efek terkejut bapak."


Kata Zizi.


Pak penjual nasi ayam melongo.


Ternyata beneran sepuluh porsi dia bayar dua juta. Ajiiiiib...


Tapi jangan-jangan setelah dia pergi uangnya berubah jadi daun. Batin si bapak.


"Tenang ini asli uang dari Bank, nggak bakal berubah jadi daun. Itu uang dari Papa Zizi. Bapak buka internet saja, cari tahu Zion Pratama Subrata, Alpha Centauri."


Kata Zizi.


Pak penjual nasi ayam mengerutkan kening.


Apa maksudnya sih?


Zizi kemudian mengulurkan tangan untuk mengajak berjabat tangan.


"Zizi."


Zizi memperkenalkan diri begitu pak penjual nasi ayam menyambut jabat tangan Zizi.


"Terimakasih, nasi ayamnya enak Pak, semoga sukses. Lain waktu Zizi akan berkunjung lagi."


Kata Zizi.


Setelah itu Zizi pamit karena harus kembali menyelesaikan misinya.


Shane juga berjabat tangan dengan Pak penjual nasi ayam. Tangannya yang dingin membuat pak penjual nasi sempat kaget.


Kenapa ada manusia sedingin itu?


Shane tampak tersenyum lalu membungkuk santun memberi salam.


Mereka satu tim akhirnya bergerak pergi, Mintul dan Maria dilarang Zizi sok berpamitan takut nanti pak penjual nasi ayam pingsan lagi.


Pak penjual nasi ayam terus memandangi Zizi dan Shane yang menjauh, yang entah kenapa tiba-tiba ada kabut menghalangi pandangannya dan kemudian Zizi dan Shane menghilang sama sekali.


Hah... apa tadi.


Pak penjual nasi ayam langsung memastikan uangnya tidak berubah, dan benar uangnya tidak berubah.


Ah jangan-jangan besok berubahnya.


Tapi apa aku ini sedang mimpi aslinya?


Pak penjual nasi ayam menabok wajahnya sendiri.


Ah tidak juga, wajahnya panas kena tabok oleh tangannya sendiri. Hihihi...


Tampak kemudian seorang pemuda datang ke arahnya, anak tetangganya yang biasa membantu membereskan dagangan.


"Kok sudah rapi Mang?"


Tanya si pemuda heran.


"Iya dibantuin tadi sama pelanggan."


"Wah baik sekali."


Kata si pemuda.


Pak penjual nasi ayam mengangguk.


"Ya sudah, saya tinggal bawa gerobaknya."


Si pemuda bersiap mendorong gerobak jualan pak penjual nasi ayam, saat kemudian Pak penjual nasi ayam memintanya membuka hp dulu.


"Ada apa Mang?"


Tanya si pemuda bingung.


"Carikan nama Zion Pratama Subrata."


Kata Pak penjual nasi.


"Hah Zion?"


Si pemuda terlihat kaget.


"Iya Zion."


"Bukannya dia pemilik Zombie Hotel?"


Tanya si pemuda.


"Lha kamu kenal?"


Pak penjual nasi ayam gantian yang kaget.


"Kenal dong, itu kan yang saya akhirnya jadi gagal bikin konten pemburu hantu sama teman-teman, hotel mewah yang sungguhan angker itu."


"Hah?"


"Jadi maksudnya itu nama Zion asli ada?"


Tanya Pak penjual nasi ayam.


Si pemuda mantuk-mantuk.


"Jadi itu tadi Nona Zizi siapanya? Anaknya?"


Si pemuda nyaris meloncat mendengar nama Zizi.


"Zi.. Zizi? Nona Zizi?"


"Lah kamu kenal juga Ndri?"


Pak penjual nasi ayam jelas kaget berkali-kali.


"Ya kenal, dia cewek paling luar biasa yang pernah saya lihat dan kenal. Ah bener dia anak pemilik hotel itu. Sebetulnya usaha orangtuanya bukan hanya hotel Mang, banyak sekali, dia salah satu konglomerat di negri ini."


Pak penjual nasi ayam melongo mendengar penuturan Andri.


Pantas saja, beli nasi ayam sepuluh porsi dia bayar tiga juta rupiah.


Dan...


Andri yang ternyata si pemburu gadungan itu terlihat cengar-cengir saat pak penjual nasi ayam bercerita Zizi membayar tiga juta untuk sepuluh porsi nasi ayamnya.


"Wah saya dapat uang dengar dan uang informasi dong Mang."


"Iya nanti dikasih sepuluh persen."


"Sudah cukup, nanti kebanyakan."


Kata Pak penjual nasi ayam takut harus ngasih dua puluh persen lagi.


**-----------**


"Ah Nona Zizi, akhirnya kau kembali."


Raja Dalu menyambut antusias kedatangan Zizi dan teman-temannya yang kini telah kembali ke tanah lelembut.


Di sana hari juga masih gelap.


"Apa kita akan langsung masuk hutan ke lima Baginda?"


Tanya Zizi.


Raja Dalu berdiri dari duduknya di atas batu besar.


"Jika Nona Zizi perlu istirahat, saya tak mengapa menunggu hingga esok pagi."


Kata Raja Dalu.


Zizi menggeleng.


"Zizi ingin cepat semuanya selesai, Mama sudah menunggu terlalu lama di rumah."


Kata Zizi.


Raja Dalu akhirnya mengangguk.


"Baiklah Nona."


Zizi akhirnya melanjutkan perjalanannya bersama Raja Dalu dan semua timnya memasuki hutan ke lima.


Begitu masuk hutan, gelang berbentuk bunga yang menjadi simbol Kerajaan Dalu tiba-tiba bersinar terang.


Baik yang ada pada Zizi maupun yang dipakai Raja Dalu dan semua anggota pasukan harimau loreng yang kini menjelma laki-laki gagah.


Sinar itu terlihat menyorot ke satu tempat di mana di sana juga terlihat ada sinar yang berkilau sama terangnya.


"Apa itu tempat di mana Bunga Petak berada?"


Tanya Zizi pada Raja Dalu yang tampak begitu bahagia melihat sinar di kejauhan.


"Ya itu Ratu Bunga Petak."


Ujar Mintul.


Zizi mengangguk, lalu menatap Shane dan Maria.


"Saya akan ke sana lebih dulu, memastikan tempatnya."


Kata Shane.


"Aku akan ikut Shane."


Tambah Maria.


"Aku juga."


Mintul ikutan.


"Pastikan siapa saja yang menjaga di sana, dan berapa banyak kekuatan yang harus kita hadapi."


Kata Zizi.


Ketiganya mengangguk mengerti.


Panglima harimau loreng tetap bertahan untuk menjaga raja mereka.


Begitu juga para anggota pasukannya.


Shane bergerak cepat, melesat menuju ke arah sinar terang yang menarik seluruh sinar dari gelang para penghuni Tanah Dalu.


Hutan ke lima untungnya tak seperti hutan ke tujuh maupun hutan kemenyan, Shane dengan mudah menemukan tempat yang kini dipenuhi sinar terang tersebut.


Sinar yang ternyata keluar dari sebuah gua di tengah bukit itu tampak di jaga banyak sekali ular besar.


"Apa mereka juga sama dengan Jaka Lengleng?"


Tanya Maria yang ikut mengintip dan mengawasi tempat di mana kemungkinan Bunga Petak ditahan.


Mintul menggeleng.


"Banyak sekali kelompok siluman ular, mereka adalah kelompok Dewi Sumbi."


Ujar Mintul.


"Dia yang berseteru dengan Grandong."


Gumam Maria.


"Kenapa Grandong tak berusaha mengambil Bunga Petak?"


Tanya Maria heran.


"Entahlah, aku rasa ada hal yang diperhitungkan Grandong hingga tak mau menyerang ceremai langsung."


Maria terdiam, lalu...


"Bisa jadi karena sebetulnya kondisi dia tak begitu baik sejak bertemu Nona Zizi di Gunung Salak, saat berhadapan dengan Nona Zizi, dia terkena Jayapada dan terluka cukup parah juga."


Kata Shane.


Maria dan Mintul memandangi Shane.


"Pantas saja dia tak lagi sekuat dulu."


Kata Mintul.


Shane mengangguk.


"Energinya terserap Jayapada."


Kata Shane.


"Jayapada, pedang itu mengagumkan."


Gumam Mintul.


Plak!!


Maria menabok kepala Mintul.


"Jangan berangan memilikinya, pedang itu hanya untuk para Naga."


Kata Maria.


**------------**