Zizi

Zizi
124. The Monster


Zizi masuk ke dalam kamar Arya, tampak Arya terbaring di tempat tidur dengan jarum infus tertancap di tangannya.


Arya yang merasa ada seseorang masuk ke dalam ruang rawat inapnya tampak membuka mata pelahan dan langsung lega sekaligus senang bukan main begitu yang ia lihat adalah Zizi.


"Kamu Zi."


Arya tersenyum melihat Zizi yang tampak mengangguk sambil menghampirinya.


"Udah baikan kak?"


Tanya Zizi.


Arya mengangguk.


"Hanya kepala masih sakit."


Kata Arya dengan tangan satunya menunjuk kepalanya yang dililit perban.


Zizi nyengir.


"Nanti juga sembuh, Kak Arya kan hebat."


Ujar Zizi yang kemudian menyeret kursi untuk duduk di dekat tempat tidur.


"Tadi Zizi ke tempat Kak Arya dan Paman Dimas nyari Dewi."


Ujar Zizi.


"Ah berbahaya Zi, kamu ngga kenapa-kenapa kan?"


Tanya Arya.


Zizi tertawa.


"Apa sih Kak, cuma hantu begitu doang, ngga ngaruh buat Zizi."


Kata Zizi.


Arya jadi ikut tertawa.


"Ah iya, kak Arya lupa Zizi kan tak terkalahkan."


Puji Arya.


"Lagian ada Kak Seng juga kan, jadi Zizi ngga khawatir."


Kata Zizi.


Mendengarnya Arya langsung tawanya menghilang, matanya menatap nanar Zizi.


Ah tak tahukah dia jika menyebut nama Shane di depanku itu sama saja menusukkan garpu di atas potongan steak?


Atau tak tahukah Zizi, jika setiap kali membicarakan Shane yang seolah bisa melakukan apapun untuknya itu sama seperti menjetorkan semua balon di sebuah pesta ulang tahun?


Arya tampak diam.


Zizi lalu terlihat menatap sekeliling ruangan, memastikan di sana tak ada hantu yang akan mengganggu istirahat Kak Arya.


"Kak, Zizi mau pulang sama Mama dan Ali, Kak Arya rehat ya, Zizi udah pastikan tidak ada hantu di ruangan ini, jadi kak Arya bisa istirahat dengan tenang."


Kata Zizi.


"Ali berkunjung ke Indonesia?"


Tanya Arya begitu Zizi menyebut nama Ali.


Zizi mengangguk seraya berdiri dari duduknya.


"Ali sedang ada mahluk yang mengikuti, Zizi akan cari tahu mahluk apa sebetulnya, dari tadi sih ngga kelihatan."


kata Zizi.


Arya menatap Zizi jauh lebih lekat dari sebelumnya, lalu...


"Zizi..."


Panggil Arya lembut.


"Ya Kak."


Zizi tampak berdiri lebih dekat dengan tempat tidur di mana Arya berbaring.


"Kamu yakin akan terus hidup terlibat dalam masalah hantu, demit, lelenbut dan semacamnya?"


Tiba-tiba Arya bertanya sesuatu yang untuk Zizi agak mengganggu.


"Kenapa?"


Tanya Zizi.


"Sejak kecil kamu terlalu fokus dengan hal semacam itu Zizi, tak inginkah kamu hidup normal seperti yang lain?"


Tanya Arya lagi.


Zizi mengerutkan kening.


"Maksud Kak Arya, Zizi selama ini tidak normal?"


Tanya Zizi yang jadi tersinggung.


"Bukan Zizi, bukan kamunya, tapi cara hidup kamu."


"Memangnya apa yang salah dengan hidup Zizi? Selama ini Zizi menikmati semuanya, kak Arya ada masalah dengan cara hidup Zizi?"


Zizi jadi sedikit kesal.


"Zizi bukan begitu maksudnya."


Arya mencoba meraih tangan Zizi, tapi jelas saja tidak bisa, lagipula Zizi sudah keburu ditelfon Ali agar bisa segera turun.


"Zizi pamit, Kak Arya malam ini dijaga kak Seng, baik-baiklah padanya."


Kata Zizi yang kemudian beranjak menuju pintu ruang perawatan Arya.


Tampak Arya menghela nafas.


Manakala Zizi membuka pintu kamar dan Shane terlihat berdiri di sana lalu membungkuk memberi salam pada Arya membuat Arya rasanya dadanya justeru makin bergemuruh karena menahan kesal.


Baik-baiklah padanya? Arya rasanya begitu benci kalimat itu.


**--------------**


Sepeninggal Zizi, bukannya tidur Arya malah tak bisa memejamkan matanya sama sekali.


Ia terus memikirkan kenapa Zizi lebih memilih Shane daripada dirinya.


Bukankah memang melindungi dan menjaga memang adalah tugas serta kewajiban dari seorang pengawal pribadi?


Lalu pantaskah jika itu menjadi alasan seorang atasan jatuh cinta pada pengawalnya?


Atau pengawal itu merasa berhak mendapatkan cinta atasannya setelah apa yang ia kerjakan padahal itu nyatanya memang tugasnya?


Arya yang kepalanya sudah sakit, jadi tambah sakit senut-senut dibikin sendiri.


Kesal tak juga mendapat jawaban atas semua tanya dalam pikirannya, akhirnya Arya memutuskan memanggil Shane untuk masuk ke dalam ruangannya.


Arya yang memang menyimpan nomor Shane sejak kasus Nyonya Tien Mitje beberapa waktu silam itu menelfon Shane agar segera datang padanya.


Shane pun menurut, ia masuk ke dalam kamar perawatan Arya.


Seperti biasa Shane membungkuk memberi salam pada Arya.


Setelah itu, baru ia datang menghampiri Arya.


"Duduk."


Kata Arya pada Shane.


Shane pun duduk di kursi yang tadi diduduki Zizi.


Shane memandangi Arya di atas tempat tidur itu memasang wajah angker.


"Ada apa Tuan?"


Tanya Shane pada Arya karena sudah cukup lama ia duduk tapi Arya tak juga bicara.


Arya akhirnya menoleh pada Shane, lalu...


"Sebetulnya apa yang kau rasakan pada Zizi?"


Tanya Arya tanpa basa-basi.


Shane sejenak terkesiap.


Karena malam sudah selarut ini, Arya memanggilnya justeru hanya untuk membahas soal Zizi.


"Kau mencintainya?"


Tanya Arya lagi karena Shane tak kunjung menjawab.


Shane akhirnya mengangguk.


"Maafkan saya."


Lirih Shane.


Arya tampak menghela nafas.


"Aku pernah mengingatkanmu, tapi tampaknya kau tetap tak peduli, kau begitu keras kepala mempertahankan diri tetap di sisi Zizi."


Kata Arya.


Lalu...


"Kau tahu Shane, aku mengenal Zizi jauh sebelum kau mengenalnya, akulah teman manusia pertamanya, bahkan sampai hari ini."


Ujar Arya.


"Chef Rasya juga berteman baik dengan Nona Zizi."


Ujar Shane.


Arya menatap sengit pada Shane.


Kenapa dia bisa menyebut nama Chef itu juga. Batin Arya kesal.


"Kau tak tahu betapa hidup Zizi selama ini tak bisa senormal yang lain. Gadis seusianya kebanyakan sudah mulai berkencan, memiliki kekasih yang akan jadi suaminya."


Kata Arya.


"Banyak dari mereka juga sudah mempersiapkan wisuda dan pernikahannya."


Tambah Arya lagi.


"Tapi Zizi... Dia tak bisa begitu kan? Karena ia tak hidup sebagaimana gadis lain seusianya Shane, apa kau tak kasihan padanya?"


Tanya Arya.


"Saya akan menikahi Nona Zizi."


Tandas Shane tanpa keraguan sama sekali.


Arya membulatkan matanya tak percaya Shane bisa menjawab demikian dengan tenang.


Arya lantas menggeleng.


"Tidak! Kau tak mungkin bisa melakukannya Shane, kau vampire, mahluk yang tak akan tua dan mati. Bagaimana jika nanti Zizi menua lalu mati, sementara kau akan tetap seperti sekarang? Muda, hidup, tampan."


Sinis Arya.


Shane tampak diam.


Ia mencerna kalimat Arya yang menyakitkan.


Lalu...


"Lepaskan dia jika memang kau sungguh mencintainya Shane. Bagaimanapun kau makhluk yang berbeda, Zizi harus memiliki masa depan."


Terdengar suara itu memasuki telinga Shane.


Shane masih terdiam.


Ya...


Nyatanya dia memang bukan manusia, dia vampire, monster, lalu bagaimana?


Salahkah?


**-------------**


Hai Gaes... Novel misteri Komedi lagi nih...


Wkkwkw


Dan ada banyak nama kalian yang aku libatkan di novel ini... cus cek nama kalian tiap bab nanti yang pasti aku munculkan huahahahaa



Udah terbit yaaa... klik profil akoh... lamsalam