Zizi

Zizi
61. Para Penghuni Baru


Shane masih bengong saat Maria mengendap-ngendap masuk ke kamar lagi.


"Mana tuh bocah ulet pete?"


Maria celingak-celinguk, dan tak biasanya Shane tak menyahut pertanyaan Maria.


Maria menoleh ke arah Shane yang sudah macam kehabisan baterai.


"Shane... Shane, kau kenapa?"


Maria menabok lengan Shane yang langsung terlonjak kaget.


Haiiiish... Maria mendesis sambil geleng-geleng kepala.


"Bengong kok pake penghayatan."


Kata Maria.


Shane jadi tersenyum malu.


Zizi kemudian tampak keluar dari kamar mandi, ia sudah ganti baju.


"Yuk berangkat sekarang."


Kata Zizi pada Maria dan Shane.


Zizi tampak biasa saja, tapi Shane malah terlihat sangat gugup.


Maria menepuk bahu Shane.


"Pacarmu itu mahluk tidak jelas, kamu harus terbiasa."


Kata Maria.


Shane tersenyum keki.


Sebetulnya Shane sudah tahu Zizi lain dari yang lain, waktu kebersamaan mereka juga tidaklah sedikit, enam belas tahun jelas adalah waktu yang sangat banyak untuk saling tahu kebiasaan dan perilaku absurd masing-masing.


Hanya saja, Zizi menciumnya tentu bukanlah hal yang bisa dibayangkan Shane, apalagi mengingat sikapnya selama ini yang seolah acuh tak acuh, bahkan cenderung seperti tidak peka dengan perasaan orang lain.


Zizi berjalan ke arah tempat tidur, menyambar ranselnya.


"Zizi lupa beli jaket lagi, jaket yang pagi tadi basah."


"Kamu apain baju basah tadi?"


Tanya Maria.


"Zizi buang tuh di tong sampah kamar mandi, hihihi..."


Zizi cekikikan.


"Ish, kena marah Mama nanti, jaket buat beli motor dibuang."


Maria menggelengkan kepalanya sambil melayang keluar kamar.


Shane membuka pintu dan mempersilahkan Zizi keluar lebih dulu, baru kemudian Shane mengambil kunci kartu dari tempatnya dan keluar kamar mengikuti Zizi yang berjalan diiringi Maria melayang di sisinya.


Tampak hantu yang pura-pura ngesot sembunyi di dekat kamar sebelah, mengintip Zizi yang menjauh.


Shane yang sebetulnya tahu hanya tersenyum saja dan mengabaikan hantu itu.


Sejak Zizi masuk hotel, beberapa mahluk astral di sana memang memilih aman dengan sembunyi saja di sudut gelap.


"Aku tadi sudah menemukan tempat yang sepertinya adalah jalan masuk menuju hutan ke tiga, kita langsung ke sana saja Zi, tidak terlalu jauh."


Ujar Maria.


Zizi mengangguk.


"Baiklah."


Kata Zizi.


Zizi kemudian masuk ke dalam lift bersama Shane dan Maria.


Hutan ke tiga bisa jadi letaknya akan satu jalur dengan gunung cermai, entah apa yang menunggu Zizi di sana.


Zizi berencana tak akan keluar ke dunia manusia lagi setelah ini, ia tak mau pergi terlalu lama dan nantinya Mama dan Papa di rumah jadi mengerahkan pengawalnya mencari Zizi.


Ah tapi Zizi gampang lapar, itu masalahnya. Zizi menghela nafas.


**------------**


Sementara itu, di rumah Zia, terlihat mbak Ning sedang mencuci piring di dapur dibantu asisten rumah baru bernama Lesti.


Lesti yang masih saudara Mbak Ning di kampung itu tak bisa meneruskan sekolah karena terbentur biaya.


Lesti adalah gadis berwajah manis, ia pendiam, tapi sangat rajin mengerjakan tugas rumah.


Lesti baru datang dua hari ini, selang sehari Zizi pergi dari rumah.


"Saya sering dengar cerita soal Nona Zizi dari si mbok, jadi penasaran sekali ingin melihat Nona Zizi."


Kata Lesti.


Mbak Ning mantuk-mantuk.


"Ya nanti juga kamu bakal ketemu dan lihat sendiri Lesti, dia agak jahil, tapi dia baik sekali pada para pekerja."


Kata mbak Ning.


"Ooo, begitu rupanya, jadi Nona tajir bukan hanya terkenal di bangsa lelembut, bangsa manusia yang sudah ketemu dengannya juga sepertinya menyukainya."


Tiba-tiba Kuntilania nimbrung.


Sebagaimana Lesti, hantu kuntilania juga kini ikut numpang di rumah Zia sementara waktu hingga proses di kepolisian selesai.


"Kenapa kadang di sekitar rumah sering ada aroma anyir ya Mbak?"


Tanya Lesti.


"Sudah jangan bahas."


Mbak Ning khawatir di sekitar mereka sebetulnya ada hantu.


"Iiish... Untung aku sudah janji pada kak Arya dan Nyonya Zia, kalau tidak aku pasti akan menampakkan diri."


Gerutu Kuntilania yang duduk di atas kulkas sambil mendengarkan Mbak Ning dan Lesti mengobrol di dapur.


**--------------**


Flashback,


Zia baru pulang dari zombie hotel langsung mencari Mbak Ning yang sedang mengajari Lesti memasak.


"Aku beli buah."


Kata Zia memberikan satu kantong berisi aneka macam buah.


"Aku dibuatkan salad buah saja Mbak, nanti bawa ke kamar ya, rasanya capek sekali."


Mbak Ning mengangguk.


"Oh tadi kok sepertinya aku lihat ada mobil yang dipakai Arya, dia di rumah?"


Tanya Zia.


"Semalam pulang Nya, tapi pagi-pagi sekali tadi pergi dijemput temannya."


Kata Mbak Ning.


"Ooh, ya sudah."


Zia mantuk-mantuk, lalu ia berjalan menuju ke lantai dua rumahnya untuk pergi ke kamar.


Sampai di depan kamar, tiba-tiba Zia seperti mencium bau anyir darah yang sangat kuat. Zia yakin jika ini pasti aroma hantu.


Zia celingak-celinguk mencari apa ada hantu lagi nyasar di rumahnya.


Penasaran, Zia akhirnya menyisir lantai dua rumahnya terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam kamar.


Di balkon tak ada, di ruang yang seperti bioskop mini tak ada, di perpustakaan tidak ada, Zia mengerutkan kening.


Bagaimana bisa dia tidak ada, padahal aromanya sangat kuat. Batin Zia heran.


Zia akhirnya berjalan lagi sampai melewati kamar Zizi dan begitu semakin dekat kamar Arya, aroma itupun terasa sangat menyengat.


Zia cepat membuka kamar Arya.


Hantu apa yang berani-beraninya masuk dan tinggal di kamar anaknya.


Ya tentu saja, Arya sudah Zia anggap sebagai anak laki-lakinya, maka tak ada hantu yang boleh mengganggunya juga.


Zia tampak terkejut manakala dilihatnya kemudian seuntai hantu gadis SMA tidur dengan nyaman di atas tempat tidur Arya.


Hantu gadis SMA berlumuran darah itu seperti kucing liar yang baru saja mendapatkan rumah yang nyaman.


Zia menghela nafas sambil menatap hantu gadis SMA itu.


Merasakan ada energi yang tak biasa di ruangan, hantu gadis SMA itupun terbangun, matanya menatap Zia yang sudah lebih dulu menatapnya.


"Siapa kamu?"


Tanya Zia.


Gadis hantu itu berdiri dan melayang ke arah Zia.


"Saya Nia."


Jawab si hantu gadis SMA.


"Kenapa kamu bisa masuk ke rumah ini? Dan bahkan tidur di kamar anak saya?"


Tanya Zia.


"Kak Arya? Polisi itu? Aku mengikutinya ke sini, dia yang membawa mayatku dari gunung salak, aku dititipkan Nona tajir padanya."


Tutur si Nia gadis hantu SMA.


"Nona tajir?"


Tanya Zia.


Hantu Nia alias kuntilania mengangguk.


"Ya Nona tajir, Nona Zizi yang sangat terkenal di dunia lelembut. Aah dia anak Nyonya bukan?"


Kuntilania tersenyum.


Zia mengangguk.


"Jadi kamu kenal Zizi rupanya."


Gumam Zia sambil melihat penampakan Nia yang begitu mengerikan.


Beberapa luka tusuk hingga darah hampir memenuhi tubuhnya.


"Ya sudah, tidak apa tinggal saja di sini sementara, yang penting jangan menampakkan diri, asisten rumahku tidak akan kuat melihatmu."


Kata Zia.


"Iya Nyonya, saya tidak ada rencana nakutin siapa-siapa, kecuali pas sama-sama kami dan manusia bertemu di waktu sial bareng.:"


Ujar hantu Nia.


Zia mengangguk.


**-------------**