
Bandapati setelah menabok kepala Zizi, meminta cicitnya itu untuk duduk sila.
"Dengar cit."
Kata Bandapati.
"Cit cit cit cuit."
Zizi bergumam.
"Yang serius!!"
Marah Bandapati.
"Iya Nek, ini serius."
Zizi duduk sila.
Bandapati kemudian berdiri di depan cicit petakilannya itu, lalu meletakkan tangannya di atas ubun-ubun Zizi.
"Aku kembalikan Jayapada kepada dirimu, jaga dia dengan baik, jangan gunakan untuk membunuh manusia, sejahat apapun dia."
Kata Bandapati.
"Untuk bunuh lelembut boleh Nek?"
Zizi bertanya seraya membuka matanya.
Haiiish... Bandapati mendesis.
"Ulangi lagi. Nenek belum selesai bicaranya, kamu tidak usah bicara apa-apa!!"
Kesal Bandapati.
Pemarah, pantas saja hutan kemenyan sampai habis. Batin Zizi.
Plakk!!!
Bandapati yang bisa mengerti Zizi sedang mengomel soal dirinya langsung menabok kepala Zizi.
"Iya Nek, am sori am sori."
Kata Zizi sambil memejamkan mata lagi.
Bandapati kembali mengulang proses mengembalikan Jayapada ke dalam tubuh Zizi.
Ia mengulangi pesannya, agar Zizi tak sampai lupa.
"Aku kembalikan Jayapada kepada dirimu, jaga dia dengan baik, jangan gunakan untuk membunuh manusia, sejahat apapun dia."
Setelah itu tangan Bandapati memancarkan sinar kemerahan.
"Ku jadikan Jayapada sebagai warisan pusaka leluhur untukmu Zizi, pastikan tak akan ada yang bisa mengambilnya darimu."
Sinar kemerahan itu pelahan seolah merasuk ke dalam ubun-ubun kepala Zizi.
Zizi tubuhnya bergetar, berbeda dengan sebelumnya, di mana Jayapada di dalam tubuh Zizi seolah membakar sangat panas, sekarang tak begitu menyakitinya.
Setelah seluruh sinar kemerahan itu masuk ke dalam tubuh Zizi, tampak Bandapati mengangkat tangannya dari atas kepala Zizi.
"Buka kembali matamu."
Kata Bandapati.
Zizi menurut.
Zizi menatap Bandapati.
"Cit."
Panggil Bandapati kepada cicitnya.
Zizi menghela nafas dipanggil Cit.
Rasanya dia jadi seperti anak tikus.
"Ketahuilah, kau nanti akan menjadi seorang Ibu dari lima putra, salah satunya adalah yang paling berhak meneruskan penjagaan atas Jayapada."
Ujar Bandapati.
Zizi melongo.
"Hah Zizi punya anak lima? Nggak ah kebanyakan."
Plak!!
Bandapati menabok kepala Zizi.
"Ini sudah digariskan, kamu tak bisa mengelak, apalagi menawar, kamu pikir sedang belanja cabe bawang di pasar pake nawar."
Kesal Bandapati.
Zizi mengusap kepalanya yang lama-kelamaan bisa jadi kotak di tabok terus oleh nenek moyangnya.
"Nek."
Panggil Zizi.
"Zizi juga belum menikah, kenapa ngomongin anak sih."
"Karena tak akan lama lagi kamu menikah!!"
Omel Nenek.
"Sama siapa?"
Tanya Zizi.
"Ya mana Nenek tahu, kamu maunya sama siapa."
"Lah Nenek gimana, tahu Zizi anaknya lima tapi nggak tahu Zizi nikah sama siapa."
Mendengar Zizi mengkritik begitu, Bandapati jadi sadar.
Iya juga ya, kenapa? Wkwkwk...
Macam peramal yang suka ramal orang lain, tapi tidak bisa meramal diri sendiri.
"Sudah jangan kebanyakan protes. Kamu ini tidak seperti Mama kamu, yang kalau Nenek bicara ya sudah ngangguk-ngangguk saja, nurut, tidak tanya, tidak protes."
Bandapati pura-pura marah untuk menutupi kebodohannya.
Zizi geleng-geleng kepala.
Kebiasaan orangtua, kalau kalah debat langsung pakai jurus maut nyuruh nurut.
"Iyalah, apa kata Nenek, Zizi punya anak lima rupa-rupa warnanya, merah, kuning, kelabu, merah muda dan ungu."
"Itu lagu balonku!!"
Marah Bandapati.
"Eh lagu balonku kenapa semua warna yang disebut nggak ada warna hijau tapi yang meletus balon hijau Nek? Itu balon siapa yang warna hijau?"
Tanya Zizi.
Bandapati mengurut keningnya.
"Hadiuuuh mana Nenek tahu, kamu apa tidak ada pertanyaan yang bisa Nenek jawab, benar-benar anak kurangajar, sengaja bertanya yang susah-susah."
Bandapati mengomel.
"Sudahlah, Nenek mau kembali ke Gunung Slamet saja."
Zizi bangkit dari posisinya.
"Nek, kok pergi?"
"Mau apalagi, kamu juga harus segera membebaskan Raja Dalu, bawa dia kembali ke kerajaannya, sekalian lepaskan juga Bunga Petak dari Gunung Ceremai."
Kata Bandapati.
"Nanti Zizi bunuh lelembut lagi gimana? Pedangnya nanti penuh energi jahat lagi."
Kata Zizi.
"Pedang itu menyerap energi jahat karena semula ada energi Balasanggeni di dalamnya. Setelah dia membunuh suamiku demi mengambil pusaka tersebut, dia memasukkan sebagian kesaktiannya ke dalam Jayapada."
"Energi jahatnya semakin menyatu karena pedang Jayapada dipakai membunuh manusia. Itu sebabnya, ku larang kau memakainya untuk membunuh manusia."
"Ooh jadi buat bunuh lelembut saja ya Nek?"
Tanya Zizi.
Bandapati menganggukkan kepala, lalu...
"Nah gitu pertanyaannya, jadi Nenek bisa jawab."
"Oke Nek..."
Zizi mengacungkan jempolnya, lalu tiba-tiba memeluk Bandapati.
"I lope u pul Nek."
Kata Zizi, lalu mencium pipi Neneknya.
Bandapati jadi terkekeh.
Memang cicitnya ini aneh bin ajaib, pantas saja semua demit, lelembut, hantu, bahkan jin semua heboh membicarakannya.
Mereka bilang ada mahluk dari kalangan manusia yang harus dihindari.
"Sudah, Nenek mau pulang. Ah Nenek lupa, ada salam dari Eyang Sapujagad untukmu. Kamu ini kenapa menaboknya? Dasar anak nakal."
Kata Bandapati.
Zizi cekikikan.
"Nggak sengaja Nek."
Ujar Zizi yang kemudian mengekor di belakang Bandapati keluar dari kamar lalu tetap mengekor hingga keluar pondok.
"Kapan Zizi boleh main ke tempat Nenek, nanti Zizi minta dimasakkan nasi liwet."
Bandapati terkekeh lagi.
"Kamu ini, kamu pikir Nenek tukang masak apa bagaimana."
"Zizi kan ngga pernah bisa liburan ke rumah Nenek, masa Zizi kalah sama Ipin Upin."
Ujar Zizi.
Haiiish... Bandapati mengurut keningnya.
"Naga tidak bisa masak Zizi, aduh pusing pusing dah."
Bandapati akhirnya memilih berubah jadi Naga saja.
Zizi merengut kecewa.
Bandapati kemudian terbang melesat ke angkasa, dan tak butuh waktu lama akhirnya menghilang dari pandangan.
Zizi menghela nafas.
Kini tugasnya hanya tinggal membebaskan Raja Dalu dan Ratu Bunga Petak, lalu membawanya ke Tanah Dalu.
Zizi menatap Merapi yang tampak berdiri gagah dan kokoh.
Asap putih terlihat keluar dari puncaknya.
Jayapada telah dibersihkan. Kelak akan ada pewaris pedang itu lahir dari Zizi.
Anak Zizi ada lima.
Ah banyak amat. Zizi menggelengkan kepalanya.
"Ada apa Zi?"
Maria kepo melayang ke arahnya, di belakangnya Mintul menyusul.
"Kak Seng mana Aunty?"
Tanya Zizi.
"Dia sedang mencari binatang di dunia manusia, sepertinya dia haus."
Zizi mantuk-mantuk.
"Aunty."
Panggil Zizi.
"Kau tahu apa yang dikatakan Nenek Bandapati?"
Tanya Zizi pada Aunty Maria.
Tampak Maria jelas menggeleng.
"Katanya Zizi akan punya anak lima."
Kata Zizi.
"Hah?"
Maria melongo.
"Kan? Bayangkan Aunty, rasanya Zizi mirip kucing punya anak sebanyak itu."
Kata Zizi.
"Hus dasar! Mana boleh bicara begitu."
Omel Maria.
"Kamu sama Shane?"
Tanya Mintul.
Zizi mengerutkan kening.
"Entahlah, memangnya Kak Seng mau punya anak lima sama Zizi?"
Tanya Zizi polos, dan tiba-tiba terdengar suara seseorang seperti keselek lalu terbatuk.
Zizi menoleh ke arah asal suara di belakangnya, yang ternyata Shane ada di sana.
Shane kembali ke pondok, tepat saat Zizi bicara aneh soal anak.
Maria dan Mintul jadi tertawa melihat keduanya.
"Dasar dodol."
Kata Mintul.
**---------------**