Zizi

Zizi
203. Baru Mati


Zion pagi sekali sudah keluar dari kamarnya dan turun ke lantai satu ke ruang makan.


Ia hanya meminta disiapkan dua potong alpukat dan roti panggang serta satu gelas susu saja.


Dimas menemani Zion sarapan pula atas permintaan Zion yang malas sarapan sendirian.


"Hari ini aku ada rapat dengan anak cabang perusahaan di Bandung, kamu wakili aku jemput Zia dan Zizi bisa kan Dim?"


Tanya Zion.


"Ya Tuan, baik."


Jawab Dimas cepat.


Zion mengangguk.


Dimas memang sejak dulu selalu bisa diandalkan, tak peduli dalam situasi dan kondisi seperti apapun, ia akan selalu sigap dan tanggap.


Zion tampak memotong roti dengan pisau dan garpunya, Dimas memandangi Tuannya seolah akan bersiap bicara sesuatu tapi ragu.


Hingga...


"Bicaralah, tidak usah ragu."


Tiba-tiba Zion berkata, ia sekilas melirik Dimas yang jadi cengar-cengir.


"Maaf."


Kata Dimas.


"Bicaralah, lalu makan sarapannya, nasi gorengmu sebentar lagi akan jadi beras lagi."


Ujar Zion.


Dimas akhirnya mengangguk.


"Ngg... Tuan, ini soal rencana kepindahan saya dan isteri."


Kata Dimas akhirnya.


Zion menatap Dimas, menghentikan kegiatannya memotong roti untuk tinggal ia santap.


"Ada apa?"


Tanya Zion.


"Kami akan mengajak Arya pindah juga."


Kata Dimas.


Zion mengerutkan kening.


"Kenapa? Bukankah tempat tugas Arya lebih dekat dari sini Dim."


Zion seperti begitu terkejut mendengar Arya akan ikut pindah.


Dimas mengangguk.


"Ya memang posisi tempat tugas Arya akan lebih dekat jika dari sini, tapi permasalahannya Tuan Zion pasti sudah paham."


Kata Dimas.


Zion sejenak terdiam, mencoba berpikir, apa kira-kira yang ia pahami tentang Arya?


Zion otaknya sudah terlalu penuh dengan urusan pekerjaan, Zion tak begitu paham soal apa sebetulnya yang terjadi.


Tapi...


Ah, apakah ini soal Zizi? Batin Zion.


"Akan lebih nyaman untuk Arya maupun juga untuk Nona Zizi ke depannya Tuan, maka lebih baik Arya ikut kami saja."


Kata Dimas yang seolah langsung membenarkan apa yang dipikirkan Zion.


Zion pun mengangguk mengerti.


"Ya, aku mengerti Dim."


Ujar Zion akhirnya.


Dimas tersenyum.


Nanti saya ijin mengantar isteri dan Arya lebih dulu ke rumah baru kami, baru setelah itu saya sendiri yang akan menjemput Nyonya Zia dan Nona Zizi."


Kata Dimas.


Zion mengangguk.


"Ya kau jemput Zia dan Zizi saja hari ini, setelah itu kau pulang lagi saja untuk mengurus semuanya, besok baru bekerja lagi."


Kata Zion.


Dimas tentu saja lega sekali mendengar keputusan Zion.


Ah yah, Zion memang selalu memahami apa yang dibutuhkan para pegawainya, ia termasuk atasan yang sangat baik.


Dan memang inilah salah satu kelebihan Alpha Centauri, yang selalu memberikan ruang pada para pekerjanya hingga merasa nyaman bekerja di sana.


"Dim..."


Panggil Zion.


"Maaf."


Kata Zion,


Dimas memandangi Tuannya dengan pandangan bingung.


Kenapa Zion minta maaf? Batin Dimas.


"Keputusanku memilih Shane tentu kau tahu betul alasannya kan Dim?"


Mendengarnya Dimas mengangguk pelan.


"Ya Tuan, lebih kurangnya saya tahu dan mengerti."


Zion menghela nafas.


"Zizi mengemban tugas berat, yang ia hadapi bukan manusia, ia butuh pendamping yang tak mungkin dari manusia biasa karena itu terlalu berbahaya bagi pasangannya. Aku sudah menganggap Arya sama seperti anak sendiri, aku tidak ingin dia melalui banyak hal yang aku tahu dia tak akan sanggup."


Ujar Zion.


Dimas mantuk-mantuk.


"Aku tahu betul bagaimana rasanya karena aku menjadi pasangan Zia, saat Zia harus menghadapi bahaya sendirian dan aku tak bisa melakukan apapun, sungguh itu sangat menyakitkan dan sekaligus menyedihkan. Saat aku tahu dia bisa saja mati, dan aku tak tahu harus bagaimana menyelamatkannya, rasanya aku juga ingin ikut mati."


Tambah Zion.


Ya Dimas tahu betul soal itu, Dimas bahkan masih ingat semuanya, bagaimana Zion selalu menggila setiap kali Zia dalam keadaan yang sulit ia pahami pastinya.


Saat dulu menghilang di danau, atau bahkan saat pembersihan di bilik jiwa.


"Aku tak punya banyak waktu untuk bicara berdua dengan Arya, tapi pastikan katakan padanya, buatku dia adalah anak laki-lakiku, jadi meski kelak dia akan menikahi gadis lain, rumah ini tetaplah rumah yang kapanpun ia bisa pulang."


Dimas terlihat menganggukkan kepalanya. Ada haru menyusup ke dalam relung hatinya.


Tak bisa dipungkiri jika keputusan Zion menerima Shane sebagai menantu yang notabene Shane termasuk anak baru membuat Dimas sedikit kecewa.


Tapi bila mengingat lagi jika Shane anak Nancy yang sudah ikut Zion sejak Zion masih kuliah tentu saja Dimas sadar bahwa Shane sejatinya telah menjadi bagian dari Alpha Centauri jauh sebelum Dimas masuk ke Alpha.


Dan kini, saat Dimas mendengar semua penuturan Zion, maka semakin legowolah hati Dimas menerima keputusan tersebut.


Zion lantas tampak melanjutkan sarapannya, sebelum kemudian akhirnya ia pergi lebih dulu Besama Joni dan lima pengawal lain untuk pergi ke Bandung.


**------------**


Zizi duduk di kabin pesawat first class bersama Mamanya dan Paman Marthinus.


Sementara Vero dan Daniel duduk di kelas bisnis yang terpisah dari mereka.


Sudah menjadi kebiasaan Zia yang tak mau asal pakai jet pribadi milik keluarga Zion, hari ini juga begitu, mereka pulang memakai pesawat komersial biasa, meskipun tetap menyesuaikan kelasnya.


Zizi menatap gumpalan awan di langit dari jendela pesawat.


Sama seperti Zizi, Paman Marthinus juga terlihat asik memandangi awan dari jendela pesawat.


Paman Marthinus terlihat terus berdecak kagum melihat awan-awan itu dari dalam pesawat.


Selama ini, ia mungkin bisa melompat sangat tinggi, bahkan juga terbang.


Tapi, tentu saja untuk kemudian sampai di atas awan, Paman Marthinus tak pernah sampai sejauh itu.


"Hmm kira-kira bagaimana ya rasanya guling-guling di atas awan itu?"


Gumam Marthinus.


Berbeda dengan Marthinus dan Zizi, tampak Maria seperti biasa melayang mondar-mandir daei satu kabin ke kabin yang lain.


Maria yang selalu saja kepo dengan semua hal terlihat terus bolak-balik melebihi pramugari.


Hingga, Maria sedang melayang di kelas ekonomi, manakala ia melihat ada seorang perempuan duduk di dekat pintu darurat pesawat.


Perempuan itu juga menggunakan seragam macam pramugari maskapai tersebut.


Melihat itu, tentu saja Maria tak bisa menghentikan jiwa keponya begitu saja.


Hantu None Belanda itupun lantas mendekat,


"Hai Nona..."


Sapa Maria.


Perempuan yang duduk dekat pintu darurat itupun menoleh ke arah Maria.


Perempuan cantik itu wajahnya rusak separo, meski Maria sempat kaget, tapi ia berusaha tetap cool.


"Sendirian?"


Maria sok ramah.


Tapi hantu itu terlihat menyeringai.


"Tidak usah begitu, wajahmu sudah seram."


Omel Maria melihat si hantu malah pasang senyuman seram.


"Aku baru mati... Aku baru mati... Aku baru mati..."


**------------**