Zizi

Zizi
240. Lain Dari Yang Lain


Shane tampak turun dari mobil, baru kemudian Nancy sang Ibu.


Nancy memandangi bangunan rumah Tuannya yang ada di Indonesia yang berbeda dengan rumah yang ada di London.


"Nyonya Zia masih belum pulang, masih ada di gedung resepsi, tapi di dalam ada Nona Zizi."


Kata Daniel yang menyambut kedatangan Shane.


Meskipun Dimas dan Dave menjemput ke Bandara, namun akhirnya Shane memang pulang ke Bogor dengan pengawalan dari pengawal menengah karena dari pihak Tuan Ziyan juga akan segera tiba.


Tentu saja, Shane yang merasa tak perlu mendapat pengawalan berlebihan.


Yang pertama karena ia malu jika terlalu diperlakukan istimewa, yang kedua tentu karena Shane merasa sangat mampu mengatasi sendiri jika ada bahaya di perjalanan.


Dan...


Shane memastikan dengan sungguh-sungguh pada Dimas dan Dave, bahwa Tuan Ziyan sekeluarga pastinya lebih membutuhkan pengawalan daripada dirinya.


"Ayo Mam."


Kata Shane mengajak Nancy masuk ke dalam rumah, saat di mana Zanuba melongok dari rumahnya di pohon Mangga.


"Weeeei Mister Asbes."


Sapa Zanuba riang.


Suaranya yang cempreng memaksa Shane dan Nancy menoleh ke arah pohon Mangga.


Waw, Ibunya juga dengar suaraku ternyata. Batin Zanuba sambil melayang ke arah Shane.


"Selamat datang calon pengantin."


Kata Zanuba sambil tersenyum lebar.


"Zizi di dalam, aku panggilkan, tenang... tenang..."


Ujar Zanuba yang langsung melayang penuh semangat ke memasuki rumah lewat dinding.


Menembus begitu saja tanpa harus lewat pintu karena terlalu lama.


"Ziziiiii... Ziziiiii... Calonmu sudah dataaaaaang..."


Suara Zanuba cempreng tingkat sepuluh, bahkan kaleng kerupuk tiga belas dilempar dari tingkat juga suaranya tetap kalah dengan suara Zanuba.


Zanuba melayang menuju lantai atas di mana Zizi sedang duduk sila di sofa dekat kaca menuju balkon sambil asik main game.


"Hadeeeh, calon pengantin perempuan mana coba yang kayak kamu Zi..."


Zanuba geleng-geleng kepala.


"Apa sih, kamu tuh suara tikus aja lebih merdu Ba."


Kesal Zizi diganggu acara main gamenya.


Setelah makan nasi ayam woku dua porsi setengah, Zizi memang merasa kekenyangan, dan cara paling ampuh agar perutnya tak terlalu begah adalah main game.


"Itu, calon suamimu udah datang tauuuuu..."


Zanuba melayang mendekati Zizi.


Karena berita yang disampaikan Zanuba dianggap Zizi penting dan membahagiakan, maka Zizi pun rela mengakhiri game nya.


"Sama Ibunya Zi, dia bisa dengar aku ngomong lho, trus kayaknya dia juga bisa lihat aku."


Kata Zanuba selalu tertarik dengan sesuatu yang bernilai informasi.


Zizi menghela nafas,


"Dia bukan cuma bisa dengar dan lihat kamu, tapi juga bisa membanting, mencakar, mencekek, mencabik-cabik kamu Ba."


Ujar Zizi membuat Zanuba ketakutan.


Melihat Zanuba wajahnya terlihat ngeri membuat Zizi tertawa senang.


"Makanya, jangan ngomong kalau di dekat dia, suaramu bisa memicu amarah."


Kata Zizi.


Zizi lantas celingak-celinguk mencari Maria.


"Kemana Aunty?"


Tanya Zizi.


"Lah kan tadi udah bilang mau nyebar undangan pada para hantu yang dianggap penting. Eh Zi, kerajaan Dalu tidak diundang?"


Tanya Zanuba.


"Udah."


Sahut Zizi bersiap melangkah menuju anak tangga untuk menemui Shane dan Nancy.


"Harusnya aku dong Zi yang ngasih undangan ke Kerajaan Dalu."


Kata Zanuba mengikuti Zizi.


"Kamu mau apa ngikut?"


Zizi mendorong muka Zanuba agar jauh-jauh.


"Aaaaah... Kamu itu nanti suka cerita ke mana-mana tiap dengar sesuatu, lagian kamu bocil, ini area dewasa."


Kata Zizi.


"Aaaah, Zi tega banget kamu mah kan aku Bestie nya kamu."


Zanuba merengek, mukanya melas agar diijinkan Zizi ikut nimbrung menemui Shane dan Ibunya.


Tapi...


"Kamu mau pasang wajah polos sampe tidak ada idungnya juga aku tidak akan ijinkan kamu ikut nimbrung."


Tegas Zizi.


"Udah sana... Sana... Pulang, mandi."


Zizi mendorong Zanuba semakin jauh.


"Haaaish... Awas kamu Zi, nanti kalau malam resepsi aku jorogin."


Kata Zanuba.


"Huuu aku tebas pake Jayapada."


Kata Zizi.


"Hahaha... Ampuuuun Maaaaak..."


Zanuba tertawa sambil melayang melarikan diri.


Zizi lantas cepat menuruni anak tangga menuju lantas satu rumahnya, tampak di sana Shane dan Nancy akan di antar ke kamar untuk istirahat sambil menunggu Nyonya Zia pulang.


"Kak Seng, Ibu..."


Panggil Zizi.


Mendengar suara Zizi tentu saja Shane dan Nancy seketika menoleh ke arah asal suara.


Zizi berjalan cepat menuju keduanya, lantas memeluk Nancy dengan erat.


"Nona sehat?"


Tanya Nancy.


Zizi mengangguk.


"Kenapa masih panggil Nona, panggil saja Zizi."


Ujar Zizi.


Nancy tersenyum.


Lidahnya belum terbiasa, tapi mungkin juga tak akan terbiasa.


Nancy merasa lebih nyaman tetap memanggil Zizi dengan panggilan Nona sebagaimana biasanya, meskipun sebentar lagi akan menjadi menantunya.


Ya menantu.


Sungguh takdir yang luar biasa untuk Nancy, setelah ia menjadi monster, justeru ia bisa menjadi besan Tuannya.


Zizi melepas pelukannya pada Nancy, lalu beralih menatap Shane.


"Hai Kak Seng."


Zizi tersenyum manis sambil mengulurkan tangannya mengajak bersalaman.


Jauh dari kebanyakan pasangan yang lain, yang begitu bertemu akan sok romantis dan sebagainya, Zizi cukup mengajak Shane bersalaman.


Meskipun...


Dari tatapan Shane padanya, jelas tergambar betapa pemuda itu sesungguhnya sangat merindukan Zizi.


Shane pun meraih tangan Zizi, menjabat tangan itu dengan erat namun tetap dengan lembut.


"Senang bisa melihatmu sehat Nona."


Kata Shane.


Zizi yang mendengar Shane memanggilnya Nona juga langsung mengerucutkan bibirnya.


Dan...


"Aww!"


Shane kaget bukan main karena tiba-tiba Zizi menginjak kakinya.


Zizi tertawa.


"Habis manggil Nona."


Kata Zizi usil, membuat Nancy jadi terkekeh-kekeh.


Sungguh pasangan aneh.


**-------------**