Zizi

Zizi
80. Energi Yang Berbeda


Shane jelas tak tahu sebetulnya ia masuk ke tempat apa.


"Tuaaaan... Toloooong... Toloooong Tuan, jika kau menolongku keluar dari sini, kupastikan kau ku berikan apapun yang kau mau Tuan..."


Seorang laki-laki mencoba menjangkau shane ketika lewat di depan selnya.


Shane cepat menghindar.


"Aku janji akan bertaubat... Aku janji."


Hingga tiba-tiba, Shane mendengar ada suara seperti orang bertarung tak jauh dari sana.


Shane pun segera melesat ke arah suara itu berasal.


Hingga kemudian Shane sampai di ujung koridor dan terlihat sebuah ruangan besar lagi.


Tampak di sana Zizi sedang mengamuk membanting seorang laki-laki dengan tubuh penuh sisik.


Mata Zizi sudah terlihat memerah, energi Jayapada kembali menguasainya.


Shane baru akan melompat ke arah Zizi, manakala ia mendengar suara Maria memanggil.


"Shane."


Tampak Shane akhirnya menoleh, ia tampak celingak-celinguk mencari sosok Maria.


Dan...


Maria akhirnya bisa dilihat Shane.


Maria ada di dalam penjara yang seperti terbuat dari lapisan es.


Shane segera menuju ke arah sana.


Shane mengepalkan tinjunya, lalu dengan kekuatan yang ia kumpulkan sepenuhnya, Shane melayangkan tinjunya ke arah lapisan es tersebut.


DARR!!


Praakk!!


Lapisan es itu retak, pecah dan berserakan.


Maria melayang keluar dari sana.


"Kamu baik-baik saja Aunty?"


Tanya Shane sambil meraih Maria.


"Ya Shane, aku baik-baik saja, terimakasih."


Kata Maria.


"Tapi..."


Maria segera melayang untuk melihat Zizi yang kini terlihat menggila.


"Zizi tak mampu mengendalikan diri karena marah."


Kata Maria.


"Aku akan selamatkan."


Ujar Shane.


Maria menahan lengan Shane.


"No Shane."


Shane menoleh ke arah Maria.


"Kenapa Aunty? Kita harus lakukan sesuatu agar..."


Belum lagi Shane menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba bangunan ruangan besar di mana mereka kini berada bergetar hebat, seolah ada gempa yang begitu besar.


Zizi melayang, tangannya naik ke atas, kilatan-kilatan seperti petir terlihat menyambar-nyambar.


"Kita selamatkan anak-anak kecil saja."


Maria menarik Shane.


"Tapi Zizi."


"Zizi sudah jelas tak akan apa-apa, siluman ikan itu bukan tandingan Naga. Tempat ini akan runtuh, ayo cepat."


Maria menarik Shane agar cepat bergerak.


Shane akhirnya mengikuti Maria.


Mereka menuju tempat anak-anak kecil yang terkurung.


"Mereka adalah jiwa-jiwa anak kecil yang ditumbalkan orangtua untuk pesugihan."


Kata Maria.


"Ah."


Shane ternganga.


Anak-anak kecil itu kemudian diminta bergandengan, yang paling kecil di gendong Shane dan Maria.


Maria membawa mereka semua melayang keluar dari tempat itu.


"Tolong kami jugaaa... Tolong kami jugaaaa..."


Teriakan pilu dari orang-orang dewasa yang berada di dalam kurungan terdengar menyayat hati.


Shane rasanya tak tega, ia ingin menolong juga, tapi dilarang Maria.


"Biar mereka merasakan hukuman atas keserakahan mereka. Itu kemauan mereka sendiri, menjual jiwa untuk mendapatkan harta dan kedudukan dengan memuja siluman."


Kata Maria.


Shane akhirnya mengangguk.


Maria menarik semua jiwa anak-anak yang semua bergandengan tangan dengan erat.


Bangunan itu bergetar semakin dahsyat.


Suara gemuruh begitu menakutkan.


Zizi sungguh-sungguh marah karena siluman ikan itu berani mengganggu Maria.


Maria dan Shane akhirnya sampai ke atas telaga lagi, bersama dengan jiwa anak-anak yang kini berubah menjadi seperti kunang-kunang.


Maria melihat mereka dengan mata berkaca-kaca.


"Kembalilah kalian ke tempat yang seharusnya, kalian sudah bebas, tak akan ada yang menyakiti lagi."


Kata Maria.


Kunang-kunang itu mengitari Maria, seperti mengucapkan terimakasih pada Maria.


Maria tersenyum.


Sungguh anak-anak yang malang. Dikorbankan orangtua yang ingin sukses tapi tak mau bekerja keras.


Api yang sangat besar membuat seluruh ruangan kini begitu panas.


Zizi menyeringai manakala melihat siluman ikan ketakutan menatap Zizi.


Tak ada belas kasihan, tak ada keinginan berdamai, Zizi melesat naik ke atas, mengayunkan pedang apinya, dan menebaskan pedang itu ke siluman ikan.


Siluman ikan itu mengerang, suaranya nyaring memenuhi telaga.


Belum puas melihat siluman ikan itu kesakitan, Zizi kembali menebaskan pedang nya lagi ke arah siluman itu.


Memenggal kepalanya, dan kemudian Zizi melompat ke arah kepala siluman ikan, menusuk kepala itu dengan pedangnya, dan membantingnya ke lantai.


Zizi tertawa.


Tertawa sangat keras, seolah benar-benar puas telah membunuhnya.


Namun...


Tiba-tiba, tercium aroma melati yang sangat pekat mengitari tubuh Zizi.


Zizi mengejang, saat ia merasa tubuhnya seperti ada dua energi yang memperebutkan.


"Kendalikan dirimu Nak, kendalikan dirimu Zizi."


Terdengar bisikan lembut Nenek Retnoasih.


"Jangan turuti amarah yang membakar, jangan turuti energi gelap Jayapada..."


Bisikan itu terdengar lagi.


Zizi tampak jatuh ke lantai.


Pedang di tangannya jatuh dan lenyap menjadi cahaya kemerahan yang masuk ke dalam tubuh Zizi.


Zizi berlutut.


Panas rasanya tubuhnya, hingga kemudian...


Pelahan bangunan itu tampak runtuh. Zizi sadar ia harus segera melarikan diri.


Zizi pun bangkit, ia sempat melihat tubuh siluman ikan yang tergeletak menjadi buih.


Tak mau membuang waktu, Zizi berlari dari ruangan itu.


Ia melewati koridor panjang yang dipenuhi orang-orang yang dipenjara.


Mereka meminta tolong pada Zizi, tapi sekali lagi mereka juga tak digubris keberadaannya.


Hingga akhirnya Zizi melihat sinar terang di ujung, Zizi melompat ke arahnya.


Dan...


"Aduh."


Maria yang baru melongok ke arah air di telaga tiba-tiba ditubruk Zizi yang muncul melompat keluar dari sana.


"Ziziiiii."


Maria berteriak kesal.


"Bikin kaget saja!"


Omel Maria, namun kemudian tetap memeluk Zizi si anak asuh kesayangannya.


Zizi nyengir dalam pelukan Maria.


Shane yang melihat Zizi terlihat sangat lega.


"Terimakasih Zi."


Kata Maria.


"Aunty diselamatkan Kak Seng, bukan Zizi."


Ujar Zizi.


Maria melepaskan pelukannya.


"Semua karena kamu yang bergerak cepat. Shane mengikutimu."


Zizi nyengir ke arah Shane.


"Ah tadi kami juga melepaskan anak-anak kecil."


Ujar Maria.


Zizi mengangguk.


"Ya tadi Zizi lihat sel mereka hilang.


Zizi terlihat berdiri.


"Ternyata banyak orangtua tega mengorbankan anaknya."


Kata Zizi.


Maria mengangguk.


"Kamu tak apa Zi?"


Maria kemudian bertanya, ia khawatir dengan kondisi Zizi yang sempat memakai Jayapada.


"Aku? Aku ngga apa Aunty."


"Kamu memakainya lagi "


Lirih Maria.


Zizi tersenyum.


"Tak apa, tak masalah, Zizi didampingi Nenek Retnoasih."


Kata Zizi.


"Oh ya? syukurlah."


Maria terlihat lega.


Zizi mengangguk.


"Ia menekan energi jahat dari Jayapada yang berusaha keluar untuk mengendalikan Zizi."


Tutur Zizi pula.


Maria mengangguk-anggukkan kepalanya tanda paham.


"Aunty dan Kak Seng jangan khawatir, semua pasti akan baik-baik saja, Zizi akan menangani semuanya. Kita bisa bertemu Eyang Sapujagad, kita bisa selamatkan Raja Dalu dan Ratu Bunga Petak, dan kembali ke rumah dengan selamat."


Ujar Zizi optimis.


Yah tentu saja kita harus pulang dengan selamat Nona, karena aku ingin dengar jawabanmu. Batin Shane.


**-------------**