Zizi

Zizi
107. Shane Atau Arya


Daniel membawa mobilnya memasuki komplek perumahan elite di mana Zia dan Zion tinggal.


Dua pengawal lain yang berjaga di rumah Zia tampak sigap membuka pagar rumah, begitu melihat mobil yang dikemudikan Daniel kemudian mendekat.


Mobil memasuki halaman rumah dan kemudian berhenti di depan teras persis.


Maria yang pertama tampak turun dan langsung melayang masuk ke dalam rumah, ia mencari Zia dan kemudian melihat Zia yang baru saja keluar dari kamarnya.


"Nyonya Zia."


Maria senang bukan main melihat Zia, begitupun tentu saja dengan Zia, yang langsung tersenyum lebar selebar lapangan bola di Senayan.


"Akhirnya kalian pulang..."


Zia senang bukan main rasanya, Maria melayang ke arah Zia dan mereka berpelukan seperti liliput hore.


Di mobil Shane membangunkan Zizi dengan mengelus kepalanya dari arah pintu di mana Zizi tertidur pulas.


Zizi membuka matanya perlahan, mengerjap sebentar, lalu melihat ke arah Shane.


"Sudah sampai?".


Tanya Zizi yang menyadari mobil telah berhenti.


Shane menganggukkan kepalanya, Zizi bangkit dari posisi berbaringnya dan kemudian duduk.


Tak perlu menunggu lama, dari arah pintu rumah, langsung terdengar heboh Zia memanggil anaknya.


Zizi yang kemudian melihat Mamanya keluar dari dalam rumah diikuti Maria langsung akhirnya beringsut keluar dari mobil dan langsung menghambur ke arah Mamanya.


"Ah dasar anak bandel, Mama cemas sampai makan tak enak, tidur tak nyenyak."


Zia luar biasa lega begitu akhirnya setelah hampir setengah bulan tak melihat Zizi kini bisa kembali melihat dan bahkan memeluk Zizi.


Zia lalu melepas pelukannya, dilihatnya Zizi seolah memastikan anaknya itu tak ada yang terluka, atau lecet, atau berkurang atau bertambah satupun anggota tubuhnya.


Ah...


Ya, telinga masih dua, mata masih dua, hidung satu lobangnya dua, mulut satu bibirnya dua, pipinya masih dua, tangan, kaki, ya semua masih sama seperti saat dulu pertama pergi.


Hanya baunya saja yang sedikit mirip nasi tiga hari.


Zia mengelus kepala putrinya.


"Mbak Ning dan Lesti sedang menyiapkan makanan kesukaanmu, kamu mandi dengan air hangat, berendam biar badannya enakan, setelah makan bawa istirahat."


Kata Zia.


Zizi mengangguk.


"Ya Ma."


Sahut Zizi.


Zia kemudian menoleh ke arah Shane yang tampak membungkuk memberi salam pada Zia.


Tampak Zia tersenyum ke arah Shane.


Ya, meskipun Shane Vampire, nyatanya Shane tahu betul bagaimana membawa diri, dia sangat santun, dan dia juga tidak banyak tingkah.


"Kamu juga pasti lelah Kak Shane, istirahatlah."


Kata Zia pada Shane.


Shane menganggukkan kepalanya, setelah itu ia pamit untuk permisi masuk lebih dulu.


Namun tiba-tiba Zia memanggil Shane lagi.


"Ya Nyonya."


Shane kembali menghentikan langkahnya dan menghadap Zia.


"Terimakasih sudah menjaga Zizi dengan baik, aku sangat lega kamu selalu di sisi Zizi, Kak Shane."


Kata Zia membuat Shane yang mendengarnya begitu terharu.


Shane mengangguk seraya tersenyum tipis. Tak ada reaksi berlebihan selain itu.


Shane kembali permisi untuk mendahului masuk ke dalam rumah.


Ah Shane nyatanya memang sangat cool.


Setelah Shane masuk, Zizi akhirnya juga masuk ke dalam rumah bersama sang Mama.


Maria sendiri memilih ke kamar langsung lewat balkon, yang jelas saja langsung diikuti Zanuba yang melihatnya pulang.


Zanuba sangat kepo ingin mendengar cerita lengkap perjalanan Zizi dan Maria serta Shane ke Merapi.


Dan...


Ah Zanuba celingak-celinguk mencari Mbak Pocong yang tak terlihat ikut pulang.


Ke mana dia?


Zanuba makin kepo ingin mencari tahu isi, tahu pletok, tahu aci, tahu kulit, tahu pong, dan tahu tahu yang lain.


Sampai di dalam rumah, saat melewati ruang makan di mana Zizi akan naik ke lantai dua rumahnya, tampak Lesti yang baru saja keluar dari dapur dan menuju ruang makan untuk meletakkan sepiring oseng mercon yang baru saja matang.


Zizi yang baru melihat sosok Lesti jadi bertanya pada Mamanya.


"Siapa Ma?"


Tanya Zizi.


"Lesti, saudara Mbak Ning, kan Bang Dimas beli rumah di Jakarta, jadi Mama minta Mbak Ning cari orang yang bisa gantiin dia ngurus rumah."


Ujar Zia.


Zizi mantuk-mantuk.


Lesti tampak memandang ke arah Zizi lalu membungkuk memberi salam.


Zizi mengangguk saja sambil tersenyum manis.


"Usianya tidak terlalu jauh dari kamu, paling beda dua tahun."


Kata Zia.


Kata Zizi.


Zia pun mengiyakan.


Zizi berjalan cepat naik ke lantai dua rumah menuju kamarnya.


Saat akan masuk ia melihat kamar Kak Arya di sebelah kamarnya.


Ah iya benar, kak Arya, apa kabar dia? Bagaimana kasus terakhir yang ia tangani?


Hantu anak sekolah itu bagaimana? perempuan yang meninggal sambil mangku boneka juga bagaimana?


Zizi jadi penasaran.


Zizi yang masih melihat pintu kamar Arya yang menutup rapat, tiba-tiba dikagetkan kepala Zanuba yang melongok menembus pintu kamar Zizi tepat di depan Zizi.


"Hah!!"


Zanuba mengagetkan Zizi yang langsung reflek menabok kepala Zanuba dengan keras.


"Aduuh Zizi sakiit banget Ziii..."


Zanuba mengaduh kesakitan kepalanya kena tabok.


Zizi masuk ke dalam kamar.


Maria terlihat terlentang di atas kasur dengan merdekanya.


Zanuba yang masih memegangi kepalanya melayang ke dekat Maria lalu duduk di sana.


Haiish... Zizi mendesis.


"Mandi sana, baumu sudah tercium sampai masa lalu."


Kata Maria.


Zanuba tergelak.


"Mau aku tabok lagi ketawa terus saja."


Kata Zizi yang sedang sibuk melepas sepatu dan kaos kaki akhirnya melemparkan kaos kakinya ke arah Zanuba yang otomatis langsung kabur, begitu juga Maria.


Zizi nyengir melihat kedua mahluk itu kocar-kacir karena takut kaos kaki yang setengah bulan tak dicuci.


Sementara itu, di kamar Shane baru menyadari ransel milik Zizi terbawa olehnya.


Shane akhirnya kembali keluar dari kamar.


Shane akan mengembalikan ransel milik Nona mudanya sekaligus kekasihnya itu ke kamarnya, saat kemudian ia melewati ruang makan, ia berpapasan dengan Lesti.


Tampak Lesti seperti terkejut melihat pemuda asing yang wajahnya begitu tampan.


Beberapa hari ini, Lesti juga bertemu Kak Arya yang ganteng, tapi menurut Lesti Shane jauh di atasnya.


Lesti sejenak seperti terpikau manakala melihat Shane yang hanya mengangguk santun saja pada Lesti tanpa menyunggingkan senyum sama sekali.


Shane berjalan dengan tenang menuju anak tangga untuk ke lantai dua.


Hingga sampai di ujung anak tangga, Shane berpapasan dengan Zia yang sepertinya baru dari kamar dan akan turun lagi ke lantai satu.


"Kak Shane? Ada apa?"


Tanya Zia.


"Ransel Nona Zizi, saya lupa membawakannya ke kamar."


Kata Shane.


"Ooh ya..."


Zia mantuk-mantuk, lalu membuka jalan untuk Shane lewat.


Shane kemudian melanjutkan langkahnya menuju kamar Zizi.


Di ruang makan Lesti masih terbengong-bengong melihat Shane yang sudah menjauh.


"Ealah ni bocah, di suruh siapin piring malah bengong lihatin tangga."


Tiba-tiba Mbak Ning muncul dari dapur membawa satu toples kerupuk udang.


Lesti yang mendapati Mbak Ning kini berdiri sambil geleng-geleng menatapnya jadi cengar-cengir.


"Barusan ada cowok tampan sekali lewat."


Kata Lesti pada Mbak Ning.


"Siapa? Kak Arya?"


Tanya Mbak Ning.


Lesti menggeleng.


"Bukan. Cowok bule."


Sahut Lesti.


Haiiish... Mbak Ning mendesis.


"Kak Shane? Haduuh jangan, dia milik Nona Zizi."


Kata Mbak Ning langsung menabok lengan Lesti yang melongo.


Hoo... Bukannya Nona Zizi calon istri Kak Arya?


Sepertinya Kak Arya bicara begitu pada temannya Lesti sempat dengar. Batin Lesti.


**-------------**


Hihihi... Crazy Up lagi deeeh Othor jadinya