Zizi

Zizi
106. Aku Pulang Ma


Shane melepaskan ciumannya perlahan, keduanya kemudian tersenyum malu-malu, dan begitu melihat burung yang bertengger di atas kepala Shane, Zizi dan Shane akhirnya tertawa.


Entah apa yang harus dijelaskan oleh seluruh pepohonan di Gunung Salak yang menjadi saksi bisul eh maksudnya saksi bisu hubungan kedua insan beda jenis dan merk itu.


Angin pagi berhembus sepoi-sepoi, matahari mengintip dari celah-celah daun pohon yang banyak tumbuh di hutan Gunung Salak.


Shane meraih tangan Zizi, lalu menggandengnya dengan erat. Mereka berjalan beriringan tanpa saling bicara. Cukup hati keduanya yang saling berkomunikasi.


Ya komunikasi dari hati ke hati, lebih irit tak perlu pakai kuota maupun pulsa.


Ah entahlah entah, tak bisa digambarkan bagaimana perasaan Shane saat ini, begitu pula juga perasaan Zizi saat ini.


Yang jelas keduanya kini senyumnya sama-sama merekah seperti rengginang yang digoreng setelah dijemur lama.


Wajah keduanya juga terlihat berseri-seri hingga nyaris menyaingi seri A liga Italy yang selalu bertabur bintang.


"Kenapa tuh dua bocah, cengar-cengir saingan sama kebo di sawah."


Gumam Maria melihat Shane dan Zizi yang akhirnya turun dari Gunung.


Hari telah benar-benar terang, mobil Zizi sudah dibawa pulang pengawal keluarganya.


Zizi lupa belum memberi kabar orang-orang rumah.


Zizi pun segera menelfon Mamanya.


Di rumah Zia sedang menonton TV acara bincang-bincang pagi. Zion baru saja pamit berangkat, dan akan mampir hotel nanti sore karena salah satu resepsionis mereka katanya sudah empat hari tak masuk dan tak kunjung ada kabar.


"Nyonya mau dibuatkan jus kah?"


Tanya Mbak Ning.


"Nanti saja Mbak, perutku lagi begah sekali dari pagi."


Kata Zia.


Bersamaan dengan itu, terdengar hp Zia bercuit-cuit memberitahu jika ada yang menelfonnya.


Zia segera meraih hp nya yang rebahan di atas sofa.


Tampak nama si Bandel di layar hp, Zia pun sumringah menjawab.


"Ya sayang, kamu di mana?"


Tanya Zia.


"Mama, Zizi sudah turun Gunung Ma, semua sudah selesai."


Kata Zizi.


"Oh ya? Sungguh?"


Zia saking senangnya langsung berdiri.


Mbak Ning yang tadinya mau ke belakang jadi mengurungkan niatnya dan berjalan kembali ke ruang TV untuk kepo.


"Zizi pulang."


Kata Zia pada Mbak Ning.


"Waaah, Non Zizi pulang..."


Mbak Ning juga tampak senang.


Meski Zizi bandel dan sudah macam trouble maker sejati, tapi nyatanya seisi rumah sangat menyayanginya.


"Mau dijemput?"


"Ya.. oke... Baiklah, Mama akan kirim dua pengawal jemput."


"Lho kenapa? Dua sekalian lah."


"Ooh ya ya... baiklah."


"Ah kamu mau dimasakkan apa sama Mbak Ning?"


Tanya Zia sebelum Zizi mematikan sambungan telfonnya.


"Iga sama oseng mercon? Baiklah, nanti Mama bilang sama Mbak Ning."


Kata Zia.


Setelah itu, tak lama kemudian obrolan mereka pun terputus.


Zia mematikan HP nya, lalu menyampaikan pesan pada Mbak Ning.


"Zizi minta Iga bakar yang dibanyakin kecapnya Mbak, sama bikin oseng mercon. Masih ada tidak Mbak, Iga dan daging untuk bikin oseng mercon?"


Tanya Zia.


"Wah, sebentar Nya, saya tengok dulu kulkasnya."


"Kalau tidak ada, langsung belanja saja Mbak, sekalian belikan buah Naga merah untuk saya, sepertinya kita habis persediaan buah Naga merahnya."


Ujar Zia.


Mbak Ning mengangguk.


Mbak Ning segera menuju ke dapur untuk melihat persediaan daging dan iga bakar di dalam kulkas.


"Ah Les, tolong rendam ini Iga nya sama dagingnya."


Kata Mbak Ning sambil mengeluarkan daging dan iga dari freezer.


Lesti menerima daging serta iga dari tangan Mbak Ning, lalu mulai menyiapkan wadah.


Mbak Ning sendiri kembali menemui Zia untuk laporan kalau daging dan iga untuk masak makanan yang dipesan Zizi sudah siap.


"Aku mau kasih tahu Papanya Zizi, tapi sepertinya ia sudah mulai sibuk, nanti tolong Mbak Ning bilang ke Bang Dimas saja."


Kata Zia yang kemudian terlihat bergegas keluar rumah untuk meminta salah satu pengawalnya menjemput Zizi.


"Siapa yang jemput?"


Tanya Maria pada Zizi begitu Zizi mengakhiri panggilannya pada Mamanya.


"Mungkin Om Daniel."


Kata Zizi.


"Ah ya, pasti dia, karena dia seumuran dengan Shane."


Sahut Maria.


Zizi mantuk-mantuk.


Zizi dan Shane kemudian memilih menunggu jemputan tak jauh dari pos pendakian pertama.


Tampak ada satu rombongan mahasiswa pecinta alam yang baru akan berangkat. Entah rombongan dari mana, tapi Zizi tahu salah satu dari mereka ada yang bukan manusia.


Sosok itu berpakaian seperti pendaki juga, wajahnya pucat, seolah tahu Zizi menatapnya, sosok itu menoleh pada Zizi lalu mendekatkan satu jarinya ke arah bibirnya seolah memberikan isyarat pada Zizi agar Zizi diam saja.


Zizi mengepalkan tinjunya dan mengacungkannya pada si hantu.


"Awas kalau bikin celaka."


Kata Zizi.


Hantu itu menyeringai sambil membuang muka.


Zizi jelas jadi emosi. Zizi baru akan bangkit dan memberi hantu itu pelajaran, saat Shane segera menangkap tangan Zizi dan menariknya agar duduk saja di sampingnya.


"Tapi Kak Seng..."


Shane menggeleng pelan.


"Sudah cukup Nona, anda tidak bisa terus melibatkan diri dalam masalah hantu dan manusia. Jika mereka bisa menjaga diri, maka tak akan ada yang terjadi, percayalah.


Kata Shane.


Maria kali ini setuju dengan pendapat Shane.


Lebih baik Zizi memang sekarang fokus pulang saja, agar bisa istirahat total setelah cukup lama berpetualang di alam lelembut.


Zizi pun akhirnya mengalah, dan untungnya tak berapa lama setelah itu Daniel menghubungi Shane jika ia telah sampai.


Shane segera memberitahu Zizi dan Maria, merekapun bergegas beranjak dari sana.


Zizi melompat masuk ke dalam mobil dengan semangat.


Duduk di kursi belakang lalu merebahkan diri dengan santainya.


Shane duduk di depan bersama Daniel, sedangkan Maria memilih duduk di atas mobil..


Akhirnya mereka pulang.


Tak disangka, perjalanan menemui Eyang Sapujagad untuk membersihkan Jayapada dan juga misi menyelamatkan Raja Dalu dan Ratu Bunga Petak akhirnya telah berakhir.


Maria merengtangkan kedua tangannya seolah akan terbang.


Lega...


Sungguh Maria merasa lega sekarang.


Maria merebahkan diri di atas mobil, menatap awan yang berarak di atas sana, merasakan sinar matahari yang mulai menghangat dan berkilau keemasan.


Angin menerpa tubuh Maria yang terbaring di atas mobil. Gaun putih berendanya yang sobek di beberapa tempat terlihat meriap-riap.


"Kak Seng, Zizi ngantuk, nanti kalau sudah sampai Zizi dibangunkan ya."


Pinta Zizi sambil memejamkan mata.


Shane menoleh sejenak pada Nona sekaligus kekasihnya.


"Baik Nona."


Sahut Shane.


Jangankan membangunkan, aku gendong sampai kamar pun tak mengapa. Batin Shane.


Wuuuuuuzzz...


Othor lewat pake UFO.


**--------------**