Zizi

Zizi
175. Cuma Kamu


Zia dan Zizi menikmati santap petang mereka ditemani Maria yang babak belur kena tabokan Zizi karena tetap bersikeras tak mau mengulangi ceritanya soal Shane yang bertemu dengan Katerina.


Ah yah, tentu saja, Maria sendiri mendengar kisah itu setelah Marthinus tanpa sengaja menceritakan sosok gadis vampire tersebut, lalu Maria menanyakannya iseng-iseng berhadiah pada Shane yang akhirnya mengakuinya.


"Dia cantik dan baik, mungkin jika aku belum bertemu Zizi, aku akan senang bertemu dengannya."


Kata Shane jujur pada Maria saat Maria menanyakan perihal Katerina padanya.


Shane...


Vampire itu memang tak pandai berbohong, jelas ia berbeda dengan hey kamu buaya buntung tung...


Yang terbiasa bersilat lidah, berkarate kata-kata, berkungfu rayuan gombal, dan juga berwushu alasan-alasan.


Shane selalu apa adanya, jika ia enggan membahas dan menghindari masalah maka ia lebih memilih diam saja.


Zizi di kursinya duduk tampak menekuk wajahnya karena tak berhasil mendapatkan apa yang ia inginkan.


Ia terus melirik kesal pada Maria yang duduk di sebelah Zia sambil mengulum senyum melihat Zizi yang seperti nyaris keluar asap ubun-ubunnya.


Zia yang menghabiskan satu porsi makanannya tampak menatap Zizi yang terlihat cemberut sambil bolak-balik melirik ke arah Maria.


"Kenapa sih?"


Tanya Zia pada keduanya.


Maria tergugu.


"Tidak ada apa-apa Nyonya, biasa Zizi mah ngambekan."


Ujar Maria.


Zia menghela nafas.


"Zizi, apa tadi yang Mama katakan, kamu harus belajar lebih anggun, lebih dewasa, lebih kalem, sebentar lagi kamu menikah lho."


Ujar Zia.


Zizi memakan potongan kecil daging panggangnya langsung dari ujung pisau.


"Zizi."


Zia benar-benar tak habis pikir dengan kelakuan anaknya.


Maria lantas berbisik pada Zia.


Ia ada hal penting yang ingin disampaikan, tapi Zizi yang salah paham malah jadi tambah emosi.


"Tuh kan, memang Aunty sama Mama sekarang selalu bersetongkol."


Kata Zizi sambil berdiri.


Tampak ia benar-benar kesal.


Zizi jelas dengar vampire cantik, tapi ia ingin memastikan apa yang ia dengar itu tak seperti yang ia bayangkan.


Shane dan vampir cantik.


Ada apa dengan mereka?


Zizi tidak rela jika Kak Seng nya sampai terlibat hubungan kilat dengan sesama vampire.


Zia dan Maria sama-sama mendengus mendengar Zizi bicara dengan suara lantang tapi salah.


"Kenapa jadi bawa-bawa tongkol."


Maria geleng-geleng kepala.


Zizi baru akan beranjak sambil menekuk wajahnya, manakala terdengar suara Marthinus datang.


Tak usah menunggu lama, laki-laki bertubuh tinggi, tegap dan macho itu pun muncul.


Di belakangnya Shane berjalan dengan beberapa tas belanja dengan merk ternama.


"Ah, Zizi akan tanya Kak Seng langsung saja."


Sungut Zizi yang begitu melihat Shane seperti Ipin melihat ayam goreng.


Maria seketika langsung tepuk jidat, sementara Shane yang tak tahu apa-apa tentu saja bingung saat Zizi menghampirinya dengan wajah masam lalu cepat menarik tangannya.


"Zizi, itu Shane baru pulang, kamu mau ke manaaa?"


Zia sampai harus mengeraskan suaranya melihat kelakuan anaknya.


Tapi Zizi yang akan kebul-kebul terus menarik tangan Shane.


Zizi menariknya naik ke lantai atas, lalu membawa Shane masuk ke ruang perpustakaan sekaligus ruang belajar Papanya saat masih kuliah.


"Ada apa Nona?"


Tanya Shane begitu keduanya sampai di perpustakaan, dan Zizi menutup pintunya lalu menguncinya.


Kesal Zizi menarik kunci itu dan melemparkannya sembarangan.


"Vampire itu, siapa vampire cantik itu?"


Tanya Zizi tiba-tiba.


Shane celingak-celinguk.


"Vampire apa Nona?"


Tanya Shane heran.


"Vampire yang bersama Kak Seng, vampire yang kata Aunty cantik."


Kata Zizi pula.


Suaranya sampai tergetar saking kesalnya.


Begitu mendengar Zizi mengatakan Vampir cantik yang kata Aunty Maria, barulah Shane mulai paham siapa yang Zizi maksud.


Dan...


Ah Aunty, kenapa hal itu dibicarakan dengan Zizi?


Zizi menatap Shane dengan curiga.


"Kenapa Kak Seng diam saja? Kak Seng ada hubungan apa sama vampir itu? Zizi tidak mau tahu, pokonya Kak Seng harus cerita semuanya!!!!!!!!!!"


Zizi bersungut-sungut.


Shane meletakkan tas-tas berisi jam tangan, sepatu dan kemeja-kemeja yang baru saja ia beli di atas meja belajar di perpustakaan itu.


Lalu mengajak Zizi duduk di satu sofa yang ada di sana.


Zizi menghela nafas, dadanya sudah bergemuruh saja dan darahnya seolah menggelegak panas.


Shane yang paham dan hafal sekali tabiat Zizi terlihat tersenyum sabar.


"Katerina, namanya Katerina."


Akhirnya Shane bercerita.


Mengapa Shane menyebutkan nama Katerina rasanya Zizi ingin merobohkan semua rak buku di dalam ruangan itu jika saja tak ingat nanti Papanya akan pingsan tujuh hari tujuh malam.


"Dia vampire yang juga senasib denganku, yang berubah menjadi setengah monster, dia menolongku saat diserang para Lycan di Bradley Woods Lincolnshire, hanya itu Nona Zizi."


Shane mencoba menjelaskannya dengan hati-hati dan sabar.


Zizi menatap Shane, nyatanya darah Naga di dalam tubuh Zizi milik Bandapati membuatnya sangat mudah panas.


"Percayalah."


Lirih Shane lembut.


"Ini salah Kak Seng!"


Kesal Zizi kemudian.


Shane mengerutkan kening.


Salah bagian mananya? Batin Shane.


"Coba waktu itu Kak Seng pergi tidak diam-diam, bilang dulu pada Zizi, kan Zizi bisa ikut, para Lycan itu pasti Zizi yang hadapi, Kak Seng tak perlu kenalan dengan gadis vampir kek, nenek vampir kek, janda vampir kek."


Kata Zizi.


Janda vampir? Shane bahkan tak pernah tahu ada janda di komunitas vampir.


Ah tidak... Tidak...


Kenal satu gadis saja sudah harus sidang begini, apalagi kenal janda pula, yang ada Shane harus menjalani interogasi lebih parah dari sekarang.


"Ya Nona, bukankah saya sudah minta maaf? Berapa puluh kali lagi saya harus minta maaf untuk itu sekarang?"


Tanya Shane sabar sekali meladeni Zizi yang ngambekan macam nenek moyangnya.


Zizi akhirnya menghela nafas.


"Tapi Kak Seng tidak ada apa-apa kan sama vampir itu?"


Tanya Zizi lagi, memastikan, harus jelas.


Shane mengangguk sambil menahan senyum.


"Yakin?"


Tanya Zizi lagi.


"Yakin."


Jawab Shane dengan tatapan yang dalam ke arah wajah Zizi.


Ditatap begitu saat kemudian menyadari mereka terkurung berdua saja di dalam perpustakaan membuat Zizi tiba-tiba jadi belingsatan sendiri.


"Ngg... Baiklah kalau begitu."


Zizi tiba-tiba berdiri dari duduknya.


Shane tergugu melihat kelakuan Zizi.


"Sudah cukup penjelasannya Kak Seng, ngg... Zizi mau makan lagi."


Kata Zizi yang segera menuju pintu, tapi...


Aduh!


Zizi tepuk jidat.


Pintunya tak bisa dibuka.


Ia ingat tadi ia menguncinya lalu kunci itu ia lempar karena kesal.


Sekarang...


Zizi celingak-celinguk mencari kunci.


Shane mengulum senyum sambil berdiri dari duduknya dan berjalan menghampiri Zizi.


"Kenapa?"


Tanya Shane pura-pura tak mengerti.


Zizi jongkok mencari-cari kunci, lalu dengan cepat merangkak menghindari Shane.


Zizi persis seperti kucing kecil yang berusaha sembunyi.


Shane benar-benar tak bisa menahan tawanya melihat kelakuan gadis itu.


Ah Zizi...


Dia memang begitu, tak banyak berubah sejak lahir, polos dan apa adanya.


Dan itu yang membuat Shane tak ingin melepaskannya.


**---------------**