Zizi

Zizi
216. Cerita Lama


Di saat Alex berdiri bersama Nadia di balkon apartemen, tanpa mereka sadari Zizi juga berdiri di balik kaca kamar hotel yang ia tempati.


Jarak yang tak seberapa jauh karena apartemen dan hotel hanya dipisahkan jalan raya dua arah membuat masing-masing dari mereka bisa saling mengawasi satu sama lain meskipun tak jelas secara wajah.


Zizi berdiri bersebelahan dengan Maria, mengamati Alex dan Nadia yang seperti Jack and Rose di film Titanic.


Nenek Bandapati sendiri sudah pergi, begitupun dengan hantu Mbak gendut yang dibawa Nenek entah ke mana.


"Apartemen itu kini penuh energi jahat, penghuni di sana lama-lama akan banyak yang jatuh sakit, bangkrut, bercerai dan semua kesulitan lain."


Kata Maria.


Zizi menghela nafas.


"Perempuan itu, calon Ibu dari para penerus ular, siapa dia?"


Gumam Zizi.


"Apa perlu aku ke sana?"


Tanya Maria.


Zizi menggeleng cepat.


"Aunty mau mati? Tadi Nenek sudah bilang jika apartemen itu kini dijaga ratusan siluman ular. Tak ada hantu yang akan bisa menembus ke sana."


Ujar Zizi.


"Apalagi Aunty senjatanya hanya ulekan dan centong."


Kata Zizi lagi sambil ngeloyor ke arah tempat tidur dan duduk untuk melepas sepatunya.


"Lalu kamu mau diam saja? Menunggu anak-anak ular itu lahir?"


Tanya Maria.


Zizi mengedikkan bahunya.


"Entah, nanti saja dipikirkan lagi, yang penting kata Nenek, kita bersihkan semua penyusup dulu."


Maria melayang menyusul Zizi ke atas tempat tidur dan kemudian rebahan di sana.


"Padahal aku yakin tadi Ronald adalah penyusup, kenapa dia tak ada tatto ular. Ah jangan-jangan di tempat yang tersembunyi Zi."


Gumam Maria.


Zizi terdiam.


Lalu...


"Bisa jadi bukan hanya tatto ular identitas mereka. Nenek pura-pura memiliki tatto ular untuk tahu siapa saja yang menjadi bagian dari mereka, tapi nyatanya Nenek juga tak mendapatkan siapapun."


"Mereka sangat rapi."


Kata Maria.


Zizi mengangguk setuju.


"Aah aku lapar Zi."


Tiba-tiba Maria mengeluh lapar.


"Iya, Zizi juga, telfon Chef Rasya lah."


"Kamu sih tadi tidak jadi pesan."


"Ya habisnya terlalu banyak urusan di rumah Uyut."


Zizi membela diri.


Zizi lantas meraih hp nya dari saku jaket, lantas ia menelfon sohib kentalnya.


Chef muda yang menjadi kepala chef di dapur Zombie hotel.


"Yupz Nona, ada yang perlu saya masakkan?"


Tanya Chef Rasya yang langsung tahu, jika Zizi menelfonnya pasti tak akan jauh dari ingin dimasakkan sesuatu.


Zizi cekikikan.


"Zizi ingin makan steak."


Kata Zizi.


"Iga bakar madu dong Zi."


Ujar Maria.


Zizi mengangguk.


"Sama Iga bakar madu chef."


Tambah Zizi.


"Siap Nona. Layanan antar? Atau Nona akan ke resto?"


Tanya Chef.


Zizi menoleh pada Maria yang memberikan isyarat kalau sebaiknya Zizi makan di resto saja, sekalian sidak.


Zizi pun langsung setuju.


Bukankah Zizi juga ingin sekalian memeriksa hantu apa saja yang pindah dari Andromeda Apartement?


Sekalian juga Zizi ingin memastikan pelayan yang bekerja di rumah Uyut dan kini sedang berada di hotel salah satunya bukan penyusup.


"Baiklah, kita ke resto saja Aunty."


Ujar Zizi.


"Asiaaaap lah."


Sahut Maria.


**---------------**


Zion baru selesai mandi di kamar yang memang disediakan untuk Zion oleh para pelayan di rumah dekat Bandara, saat kemudian Paman Salim mengetuk pintu kamar yang ditempati Zion dan meminta Tuan mudanya untuk keluar karena Kakeknya ingin bicara.


Zion pun segera memakai kaos oblong putih dan keluar dari kamar tanpa sempat menyisir rambut yang masih sedikit basah.


Beberapa pelayan perempuan terlihat heboh di dapur karena ada Zion di sana.


Ini memang kali pertama Zion berada di rumah itu.


Hanya sesekali saja Dimas atau Joni dan Dave yang diperintahkan oleh Zion memeriksa, termasuk juga rumah-rumah lain yang tersebar hampir di setiap kota di Negara ini.


Zion mengetuk pintu kamar sang Kakek, begitu kemudian mendengar suara kakeknya menyuruhnya masuk, barulah Zion membuka pintu kamar Kakek dan iapun masuk ke dalam.


Tuan Ardi Subrata, sang Bos Besar utama perusahaan raksasa Alpha Centauri itu kini terlihat duduk bersandar di tempat tidurnya.


Ia menyunggingkan senyumannya yang khas, dengan tatapan yang teduh kepada cucu kesayangannya.


Zion mendekat, membungkuk sejenak, lalu duduk di tepi tempat tidur di mana Kakeknya berada.


"Kakek baik-baik saja?"


Tanya Zion.


Tuan Ardi Subrata mengangguk.


"Jangan khawatir, cicitku sangat sigap menyelamatkan aku."


Kata Kakek menyanjung Zizi yang jelas-jelas memerintah Dimas untuk langsung membawa keluar uyutnya dari rumah Kemang.


Zion tersenyum sambil mengangguk.


"Zizi sangat bandel tapi kita tak bisa memungkiri jika semua hal bisa diselesaikan dia dengan baik, ya kan Kek?"


Zion ke arah Kakeknya yang terkekeh sambil mantuk-mantuk.


"Ziyan belum sampai?"


Tanya Kakek kemudian.


"Belum Kek, kemungkinan menjelang subuh nanti baru Kak Ziyan sampai."


Tuan Ardi Subrata mantuk-mantuk lagi.


"Zion."


Panggil Tuan Ardi Subrata.


Zion mengangguk.


"Ya Kakek."


Sahut Zion halus.


"Zia sehat bukan?"


Tanya Kakek.


"Ya Kek, dia sehat, dia baru pulang dari London untuk mengurus rencana pernikahan Zizi dan Shane."


Kata Zion.


"Ya aku sudah mendengarnya dari Dimas dan Dave."


"Iya Kek."


"Anak Nancy itu, dia sangat cerdas dan aura pemimpin pada dirinya sangat bagus, angkat dia jadi CEO untuk Mall Alpha Centauri nanti."


Kata Kakek.


Zion mengangguk.


"Setelah ia bisa mengurus mall dengan baik, baru berikan dia jabatan di perusahaan untuk mengelola banyak bisnis kita."


Zion mengangguk lagi.


Tuan Ardi Subrata tampak menghela nafas, lalu...


"Zion."


"Ya Kek."


"Rumah Kemang itu..."


Zion memandang sang kakek.


"Ada apa dengan rumah Kemang Kek?"


Tanya Zion.


"Dulu saat Kakek baru pindah ke rumah itu, Kakek pernah melihat ada ular di sudut rumah yang sekarang menjadi gazebo dekat kolam renang."


Zion mengerutkan kening.


"Ularnya sebesar paha orang dewasa, Kakek melihatnya tak sengaja saat dulu sedang duduk sendiri di teras belakang setelah Nenekmu meninggal."


"Lalu, Kakek apakan ular itu?"


Tanya Zion.


Tuan Ardi Subrata menggeleng.


"Ular itu aneh."


"Aneh kenapa Kek?"


Tuan Ardi Subrata memandang Zion, ekspresi wajahnya sulit digambarkan Zion.


Lalu...


"Ular itu memiliki sisik berwarna keemasan, berkilauan begitu indah."


"Sisik keemasan?"


Zion bergumam.


"Selama ini Kakek ingin sekali menceritakan padamu atau pada Zia, tapi Kakek merasa ini mungkin harusnya adalah aib, atau entahlah."


"Kenapa Kakek merasa jika mungkin hal itu adalah aib kek? Melihat ular dengan sisik seindah itu, tentu bukan aib."


"Zion ini bukan masalah ularnya indah atau tidak, tapi..."


Kakek menghentikan kalimatnya lagi, lalu...


Zion menunggu kelanjutan kalimat sang kakek dengan hati berdebar-debar.


"Dia, ular itu..."


**---------------**