
Di satu tempat yang ada di lereng gunung Merapi, tampak sebuah perkampungan yang cukup luas dengan jumlah penduduk yang tak seberapa.
Di sisi paling luar kampung, terlihat banyak laki-laki bekerja membangun semacam benteng dari batu-batu besar yang disusun sedemikian rupa.
Salah satu pekerja di antara laki-laki itu terlihat adalah seorang laki-laki yang meski tubuhnya telah kering, namun ia tetap bekerja tanpa istirahat sama sekali.
Aku ingin segera bebas, benteng ini harus segera selesai. Batin sang laki-laki.
Sayangnya, saat benteng itu sudah nyaris selesai, goncangan gempa yang terjadi dari kawah Merapi membuat benteng itu kembali gugur.
Sedih dan nyaris putus asa menderanya saat ini yang melihat semua hasil kerja kerasnya harus diulang dari awal lagi.
"Apa kau tau jika gempa kemarin karena Eyang Sapujagad sedang membersihkan Jayapada?"
Tanya salah satu pekerja pada laki-laki itu.
Sang laki-laki yang memakai gelang dengan bentuk bunga yang bertemu di tengah di lengannya tampak terkesiap.
"Jayapada? Benarkah?"
Tanya laki-laki tersebut.
Teman pekerjanya mengangguk.
Laki-laki yang tak lain adalah Raja Dalu itu kemudian menatap jalanan yang jauh di sana.
Mungkinkah apa yang dikatakan isterinya benar? Bahwa akan ada seorang gadis keturunan Naga tertua pewaris Jayapada yang datang menyelamatkan mereka?
Raja Dalu terdiam.
"Cepatlah kerja lagi, apa kau ingin kembali dihukum oleh Grandong karena bermalas-malasan?"
"Mungkin sebentar lagi kita akan bebas."
Kata Raja Dalu pada pekerja tadi.
Pekerja itu dulunya adalah seorang lurah pada masa pemerintahan Belanda.
Ia melakukan perjanjian dengan Grandong untuk menghadapi seorang sakti murid Sunan Kalijaga yang berusaha melawan Belanda dan antek-anteknya, termasuk lurah itu.
Sang lurah tetap kalah, dan akhirnya berakhir menjadi budak pekerja di tempat Grandong.
"Kenapa kau bicara seolah itu pasti? Siapa yang akan membebaskan kita dari sini? Kau tahu jika perkampungan ini bahkan tersembunyi dari sesama lelembut."
Raja Dalu menggeleng.
"Gempa itu adalah jawabannya. Pemilik Jayapada adalah keturunan Naga Bandapati yang akan menyematkan ku, dan pasti kalian semua."
Kata Raja Dalu.
Lurah itu tertawa.
"Kau pasti sudah gila. Tak ada yang bisa mengalahkan Grandong semudah itu."
"Aku akan buktikan ucapanku benar. Aku akan bersiap menyambut penolongku, setelah ini aku akan menjemput isteriku dan kembali ke Tanah Dalu, terserah kau akan percaya atau tidak."
Ujar Raja Dalu dengan wajah yang kini mulai tak semuram sebelumnya.
Ada harapan... Ada harapan. Aku hanya perlu bersabar sebentar lagi. Batin Raja Dalu.
Sementara itu, sang penolong yang diharapkan Raja Dalu baru saja pamit pada sepasang nenek dan kakek ular.
Mereka akan melanjutkan perjalanan ke lereng Merapi untuk menemukan perkampungan di bawah kekuasaan Grandong.
Zizi, sang penolong itu sudah siap dengan Jayapada yang telah berisi energi Eyang dan Neneknya.
"Baiklah, yuk kita kemon."
Kata Zizi berjalan dengan semangat. Ia sudah ingin menyelesaikan semua misinya, dan bisa segera pulang.
Ia akan minta chef Rasya sahabatnya untuk memasak semua makanan yang ingin ia makan, dan juga akan minta berlibur ke Kuala Lumpur ke tempat Paman Ziyan.
Zizi sudah ingin tahu kabar Ali sejak pulang dari Jepang dan masuk dunia peri. Zizi juga penasaran dengan kasus pembunuhan Kuntilania dan juga perempuan yang memangku boneka.
Mampukah Kak Arya mengungkap siapa penjahatnya?
Zizi juga harus memastikan nasih anak-anak jalanan di sekitar Mall Centauri yang sempat dijadikan target oleh salah satu Direktur di perusahaan Papa itu.
Zizi terus berjalan dengan semangat, lama tak pulang ia juga merindukan Mama dan Papanya, juga kakek buyutnya.
Lama juga Zizi tak menjenguk Kakek buyutnya di Kemang, pulang nanti Zizi akan menginap di sana.
Perjalanan menuju lereng Merapi memakan waktu cukup lama, beberapa kali Zizi istirahat duduk dan minum air serta makan keripik, lalu baru melanjutkan lagi.
"Yakin tak akan makan?"
Tanya Maria yang melayang mengikuti Zizi.
Zizi menggeleng.
"Ngga apa, kemarin kan Nenek ular sudah ambilkan makanan dari alam manusia, tapi itu apa ya, rasanya manis-manis pedes gurih, enak sih."
Kata Zizi.
"Gudeg, itu gudeg."
Sahut Mintul.
"Kok kamu tahu Tul?"
Tanya Zizi.
"Ya tahulah, dulu kan itu makanan yang dibuat waktu babat alas untuk membuat perkampungan Mangir."
Kata Mintul.
Kata Zizi.
"Iyalah, otakmu ngga cukup."
Ujar Maria.
"Huuu dasar generasi bolot."
Kesal Mintul.
"Eh aku tebas lehermu ngatain Zizi bolot."
Kata Zizi mengancam, namun akhirnya tertawa.
Haiiish... Mintul mendesis.
"Generasi muda itu harus tahu sejarah bangsanya, biar jangan asal percaya dengan warga asing, apalagi dengan bangsa yang dulunya sebagai penjajah."
Mintul melirik Shane dan Maria yang satu berdarah Inggris dan yang satu berdarah Belanda.
Zizi terpingkal.
"Itu kan masa lalu, jangan melihat orang dari masa lalunya, apalagi yang melakukan kejahatan di masa lalu adalah moyang mereka."
Kata Zizi setelah acara terpingkalnya selesai.
Maria dan Shane mantuk-mantuk.
"Tapi None Belanda ini pasti ikut menjajah, dia mati di sini sama Nippon, hahahhaha..."
Plak!!
Maria kesal jadi langsung menabok kepala Mintul.
"Sudah, ganti bicara Biologi saja, atau Fisika, Kimia, Matematika."
"Ah Matematika Zizi paling suka."
Ujar Zizi
"Mana ada, nilaimu di bawah lima terus."
Kata Maria.
"Ish Aunty, Zizi paling jago matematika kalau ngitung uang, hahhahaha..."
Zizi tertawa lagi.
"Dasar Naga bolot."
Kata Mintul, yang membuat Zizi melompat dan menarik rambutnya.
Tak lama setelah kesemruwengan yang terjadi di antara tim Zizi, akhirnya mereka sampai di sebuah tempat yang dikelilingi seperti kabut tebal hitam.
"Ini benar tempatnya Tul?"
Tanya Zizi pada Mintul.
Tampak Mintul mengangguk.
Zizi menghela nafas.
"Grandong memagari wilayah kekuasaannya."
Kata Zizi menatap kabut tebal berwarna hitam pekat di hadapannya.
"Ya, sejak serangan dari ceremai yang tiba-tiba, sepertinya ia memperketat penjagaan. Di dalam padahal juga sedang banyak pekerja membangun benteng."
"Tahu dari mana?"
Tanya Zizi.
"Haiish... Dasar bolot, aku kan cerita, kalau aku ikut Bunga Petak sejak ada di dalam penjara Grandong hingga akhirnya ia dibawa penguasa Ceremai untuk tawanan melawan Grandong."
Ujar Mintul.
Zizi kemudian menoleh ke arah Maria.
"Aku rasa kekuatanmu saat ini sudah sempurna Zi, coba saja tanganmu yang membuka pagar itu."
Ujar Maria.
Zizi akhirnya mengangguk.
"Baiklah."
Kata Zizi.
Zizi kemudian mengulurkan tangannya ke arah kabut tebal berwarna hitam tersebut, dan tiba-tiba di tanah kekuasaan Grandong terjadi guncangan yang sangat dahsyat.
Para pekerja yang sedang membangun benteng berlarian tak tentu arah.
Kabut tebal berwarna hitam itu pelahan memudar, seiring dengan guncangan tanah di sana semakin besar.
Raja Dalu menatap kegelapan yang menyelimuti tempat itu kini seperti dimasuki sinar secuil...
Ah...
Mungkinkah?
**--------------**