
Hanna memperhatikan Leo dan Norr, dia menyilangkan tangan ke perut.
"Hey, apa yang sedang kalian fikirkan? Mau sampai berapa lama lagi memandangiku seperti itu." Ucap hanna dingin.
"Ah, maafkan aku, ini semua karena Leo, iya benar dia itu memang lah aneh." Ucap Norr dengan gugup.
Leo menatap Norr dengan pandangan tidak suka "Hey, apa maksudmu!" bentak Norr.
Hanna memperhatikan mereka yang bertingkah aneh.
"Dasar tidak jelas, kalian itu aneh." Ucap Hanna kesal.
"Tidak perlu berdebat lagi, Hanna mari ku antar kau kembali ke istana." Ucap Leo sambil membungkukkan tubuhnya.
"Hey, aku tidak sedang berdebat dengan kalian." Elak Norr sambil menatap Leo.
"Lebih baik kau tetap di sini saja, tidak perlu mengikutiku lagi." Ucap Hanna sambil menaiki punggung Leo.
"Kau tega padaku?" ucap Norr dengan terkejut.
"Sudah Hanna kita tidak perlu berbicara dengan manusia itu." Ucap Leo tidak perduli.
"Pergi dari sini Pak Leo." Ucap Hanna.
Hanna dan Leo pergi meninggalkan Norr sendirian.
"Hey, sungguh kejam." Ucap Norr sambil menatap Hanna yang semakin menjauh.
Norr menatap seluruh penduduk, tak lama dia merubah wujudnya menjadi seekor burung dan terbang mengikuti Hanna.
"Hanna, kau yakin inginku antar ke Istana?" ucap Leo.
"Hmm, iya." Ucap Hanna.
Sesampainya di Istana Yu, Hanna menuruni tubuh harimau itu, tak lama Norr mendaratkan diri di atas atap kamar Hanna, dan merubah wujud menjadi manusia.
Hanna menatap Norr yang membuka kaca jendela dan duduk di atas kayu.
"Jangan duduk di situ aku mau lewat." Ucap Hanna.
Norr menatap Hanna dari atas hingga bawah.
"Ck,ck, kau itu seorang putri tidak pantas memasuki kamar lewat jendela seperti maling saja." Ejek Norr.
"Hmm, bicara sekali lagi, jangan salah kan aku, kau pulang tidak membawa kepala." Ucap Hanna dengan serius.
"Baru tau ya? Cepat minggir." Ucap Hanna.
"Iya iya, huh sungguh sangat kasihan suamimu itu mendapatkan istri yang kejam, entah apa yang membuat nya begitu menggilaimu." Ucap Norr sambil bangun dari duduknya.
Hanna segera memasuki kamarnya, dia mendaratkan kakinya ke lantai.
"Berisik ,cepat pergi sana." Ucap Hanna sambil membalikkan tubuhnya.
"Baik, Nona." Ucap Norr sambil tersenyum.
Norr dan Leo segera pergi meninggalkan Hanna, Hanna melirik Norr dan Leo dari balik jendelanya.
Tak lama seseorang mengetuk pintu kamarnya, hanna menatap ke arah sana.
Dalam batinnya "Siapa malam-malam begini bertamu ke kamarku?"
Dia segera berjalan dan membuka pintunya, di lihatnya Amuya yang tengah berdiri di depannya.
"Kau, kufikir kau sudah kembali ke Istan Lin , ternyata kau masih berada di sini." Ucap Hanna.
Amuya yang tengah menangis itu mendorong tubuh Hanna dan mencekik lehernya.
Hanna didorong ke tembok, dan Amuya terus mencengkeram leher Hanna dengan kuat.
"Mati lah kau Hanna." Ucap Amuya dengan marah.
Hanna menatap Amuya dengan tatapan menyeramkan, kedua matanya menatap tajam wajah Amuya.
Hanna mengangkat tangannya dan di letakkan nya tepat di perut Amuya, sebuah sinar berwarna biru memenuhi tubuh gadis malang itu.
Amuya terkejut, seluruh tubuhnya merasa panas dan sakit, segera dia melepaskan tangannya, dan berjalan mundur menjauhi Hanna.
"Ah, sakit, ada apa dengan tubuhku, Hanna kau memang lah iblis." Bentak Amuya.
Hanna hanya terdiam memperhatikan tubuh Amuya yang sangat kesakitan.
"Jika kau sangat bosan hidup, maka aku akan mengabulkannya, namun aku ingin melihatmu sangat menderita sebelum menemui ajalmu, jadi nikmati saja sisa hidupmu itu." Ucap Hanna dengan tatapan membunuh.
"Hanna apa yang sudah kau berikan padaku, mengapa seluruh tubuhku sangat sakit, Hanna kau ternyata bukan lah manusia." Ucap Amuya dengan panik.
"Iya, aku memang bukan lah manusia, lantas mengapa? Jika kau ingin tetap hidup saranku jangan pernah mengangguku lagi, cepat pergi dari hadapanku." Bentak Hanna.
Amuya yang sangat ketakutan itu segera berjalan keluar dari kamar Hanna dengan tubuh yang lemas, dan terasa sakit, dia sangat bingung apa yang sudah Hanna perbuat padanya hingga tubuhnya menjadi seperti ini.