
"Hmmm!" Eram Haruka.
Haruka menggerakkan tangannya, dan sedikit membuka mata. Saat dia terbangun tanpa disadari olehnya orang pertama yang dia sebut adalah Suaminya.
"Kichiro!" ucap Haruka dengan cukup keras.
Haruka yang tengah terduduk dikasur, menatap sekeliling. Penglihatannya kembali lagi, namun sangat disayangkan pertemuan itu hanyalah mimpi, Haruka mengepalkan tangannya yang dia letakkan di samping kasur.
Kemudian, Haruka menatap sebuah jendela dengan kaca yang besar berada sampamping Haruka. Haruka dengan cepat berjalan kearah jendela itu.
"Tinggi sekali, seandainya aku masih memiliki kekuatan. Pastilah sangat mudah untuk keluar dari sini, pasti ada cara lain." Ucap Haruka dengan yakin.
Tak lama Haruka mendengar langkah kaki seseorang yang sepertinya mengarah ke dalam kamar yang ia tempati. Dengan cepat Haruka berlari ke arah kasur dan duduk diatasnya.
Benar saja dugaannya, seorang pelayan dengan mengenakan pakaian berwarna hitam membuka pintu kamar dan segera memasukinya, Haruka sedikit melirikkan matanya kearah kiri. Pelayan itu tengah membawa beberapa makanan.
"Nona, Tuan kami meminta anda untuk segera memakan makanan ini, karena anda tidak bisa untuk melihat maka saya akan menyuapi anda." Ucap Pelayan itu yang berada di samping Haruka.
Haruka menyipitkan kedua matanya, untuk melirik Pelayan itu.
"Aku bisa melakukannya sendiri, kau boleh pergi!" ucap Haruka dengan pandangan dingin.
"Baik." Ucap Pelayan itu dengan segera dia berjalan untuk meninggalkan Haruka.
Haruka melirik Pelayan itu yang pergi menjauh dari kamar yang tengah di tempati oleh Haruka.
Kemudian dia menatap makanan yang berada di hadapannya.
"Apa dia yang telah mengembalikan penglihatanku?! Hmm, itu tidak penting sekarang yang terpenting adalah aku harus bisa keluar dari tempat ini, namun sebelum itu aku harus mengambil kembali semua kekuatanku yang telah dia curi dariku!" ucap Haruka dengan tegas.
Setibanya di depan pintu kamar, Haruka menatap sekeliling.
"Aneh, mengapa sangat sunyi sekali, hmm?" ucap Haruka dengan curiga.
Haruka berjalan keluar dari dalam kamar dan dia segera mencari dimana ruangan dari Pangeran Iblis itu berada.
Dengan berhati-hati Haruka menyusuri setiap ruangan. Saat disalah satu tempat dia melihat beberapa orang yang berjalan kearahnya.
Haruka yang terkejut segera dia melirik kanan, dan kiri untuk mencari tempat bersembunyi. Kemudian Haruka tak sengaja melihat sebuah lemari persegi dengan ukuran yang tidak terlalu besar disampingnya.
Tak....
Tak....
Suara langkah kaki itu semakin mendekat, tak lama datanglah tiga orang pria dengan pawakan besar tinggi berjalan kearah Haruka.
Haruka yang bersembunyi didalam lemari persegi itu segera menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Ternyata orang itu berhenti disamping lemari persegi yang tengah menjadi tempat persembunyian Haruka.
Haruka sangat bersyukur memiliki tubuh mungil, sehingga dia dapat bersembunyi didalam lemari persegi itu. Orang-orang itu ternyata belum pergi juga dari tempatnya, hampir setengah jam Haruka bersembunyi didalam lemari kecil itu. Dia merasa kakinya sangat sakit dan juga kesulitan untuk bernafas ditempat sesempit itu.
Namun tak lama orang-orang itu segera pergi dari tempat itu, Haruka mendengar suara langkah kaki yang berjalan menjauh dan segera menghilang.
"Apa mereka sudah pergi?" dalam benaknya.
Dengan perlahan Haruka mendorong pintu lemari itu dan segera keluar dari dalam sana. Dengan terhuyung Haruka segera berdiri, kakinya mati rasa telapak tangannya dia letakkan di belakang tembok untuk dapat menjaga keseimbangannya agar tidak terjatuh.
"Fiuhh." Haruka sangat merasa lega.