Perjalanan Sang Phoenix

Perjalanan Sang Phoenix
142


Pangeran Iblis tersenyum licik memandang wajah Haruka yang nampak sangat serius, sorotan mata Haruka terlihat sangat mengerikan, bulu mata lenting nan panjang, bola mata biru yang begitu menawan, sungguh tidak pantas menunjukkan ekspresi membenci seperti itu.


Tak lama Norr yang berada diatas langit bersama dengan Kirana memperhatikan sebuah halaman yang terlihat sangat ramai dan ricuh, muncul rasa penasaran dalam batin mereka, dengan segera Norr berteriak dengan suara beratnya, kepada Leo agar segera menghampiri tempat itu terlebih dahulu.


"Leo, cepatlah kesana." Ucap Norr tegas.


Leo yang mendengarnya segera memahami maksud dari Norr, kemudian dia bergegas untuk pergi menghampiri halaman itu.


Kirana yang melihatnya nampak kagum dengan kedua teman Haruka, mereka terlihat sangatlah setia terhadap majikannya.


"Kau begitu setia terhadap tuanmu, Norr." Ucap Kirana dengan tersenyum tipis.


Norr yang mendengar hal itu sedikit memiringkan kepalanya kearah samping kiri.


"Dia bukan tuanku, melainkan dia sudah kuanggap sebagai keluargaku sendiri Kirana." Sahut Norr dengan sedikit tersenyum padanya.


Kirana yang melihat ekspresi Norr nampak sangat bangga pada Haruka, dia agak terkejut melihat senyuman itu, tak lama Kirana membalasnya dan memandang kearah awan yang berkabut.


Di Halaman terlihat Haruka tengah bersiap untuk menebas leher Pangeran Iblis dengan Pedangnya. Namun, semakin dia menggerakkan tubuhnya maka semakin sakit tubuhnya, darah dari dalam tubuh Harukapun terus-menerus keluar dari dalam mulutnya. Tubuhnya terasa tertusuk oleh suatu benda tajam, semakian dia bergerak seakan benda tajam itu semakin merasuk kedalam tubuhnya, mematikan setiap organ tubuh yang sangatlah penting bagi tubuhnya.


Haruka lantas tak goyah begitu saja, dia sudah diberikan kehidupan untuk kedua kalinya, dan dia tidak akan pernah menyia-nyiakan hal itu, selama ini Haruka adalah gadis modern yang tidak pernah terkalahkan, dia kuat dan berani jadi hari ini Haruka akan tunjukkan bahwa dia tidak akan bisa dikalahkan lagi oleh siapapun.


"Apa yang sudah kau lakukan terhadap diriku!" ucap Haruka dengan tegas sambil menahan tubuh agar tetap seimbang.


Pangeran Iblis tersenyum licik pada Haruka, kemudian dia membisik lirih tepat di telinga kanan Haruka.


"Aku hanya ingin bermain-main denganmu saja, sebelum kau pergi untuk selamanya." Ucap Pangeran Iblis dengan wajah liciknya.


Haruka tersenyum licik, sambil menyentuh jantungnya yang terasa amat sesak, tak lama Haruka memejamkan kedua matanya sambil mencengkram tubuh yang terasa amat sakit.


"Tidak akan ada yang bisa membantumu, saat ini kau tengah berada dibawah pengaruhku, sekuat apapun engkau, tetap saja jika kau terus mencoba untuk melukaiku maka rasa sakit itu akan terasa sangat dalam." Ucap Pangeran Iblis dengan wajah dinginnya.


Haruka yang mendengarnya kemudian menyeringai licik dengan sorotan mata yang lagi-lagi sangat dibenci oleh Pangeran Iblis.


"Cih." Ucap Pangeran Iblis dengan wajah geramnya, sambil menggertakkan gigi dan pandangan mata yang begitu tajam terhadap Haruka.


Haruka yang terlihat begitu santai menghadapi Pangeran Iblis membuat pria itu merasa semakin kesal, Haruka nampak tak perduli dengan apa yang akan terjadi pada dirinya dan hidupnya nanti.


"Menyerahlah." Ucap Pangeran Iblis dengan wajah marah.