Perjalanan Sang Phoenix

Perjalanan Sang Phoenix
173


Xiao Chen memperhatikan wajah Haruka yang begitu dingin terhadapnya, kemudian dia segera menambah pembicaraan agar suasana tidak terasa semakin canggung.


"Sesuai janjiku, aku akan memberikanmu sebuah kekuatan yang dahulu pernah dikuasai oleh Zie, tetapi apakah kau bersedia untuk mempelajarinya?" tanya Xiao Chen kepada Haruka, sambil menatap wajahnya.


Haruka melirik wajah Xiao dengan tampang sinis, namun dia segera merubah ekspresi wajahnya agar Xiao tidak merasa bahwa Haruka sudah mengetahui beberapa rencana Xiao, untuk memisahkannya dengan Kichiro.


"Baiklah." Ucap, Haruka dengan tegas.


Xiao Che kemudian segera membalikkan tubuh dan berjalan keluar sambil berbicara kepada Haruka.


"Mari ikuti aku." Ucap, Xiao Chen dengan tegas.


Haruka memperhatikan Xiao Chen yang tengah membelakangi dirinya itu, dengan segera Haruka berjalan untuk mengikuti langkah Xiao Chen.


Mereka kemudian berjalan menuju halaman belakang dari sebuah Istana yang megah dan besar itu, tak lama mereka tiba disebuah taman dengan halaman yang begitu luas, Haruka memperhatikan sekeliling, dia melihat kolam air yang amat jernih, dan beberapa tumbuhan yang menghiasi halaman belakang milik Xiao Chen, yang nampak subur dan rindang.


Tak lama Xiao Chen yang tengah membelakangi Haruka segera membalikkan tubuh dan menatap wajah Haruka, segera ia berbicara dan meminta Haruka untuk berdiri ditengah halamannya.


"Kita sudah sampai, sekarang aku minta kepadamu untuk berdiri ditengah taman. Aku akan memberikanmu sebuah kekuatan yang dahulu pernah dimiliki oleh Zie." Ucap, Xiao yang menatap wajah Haruka.


Haruka hanya terdiam kemudian dia segera mengikuti perintah dari Xiao yang memintanya untuk berdiri ditengah taman. Tanpa rasa ragu dan curiga Haruka kini telah berdiri dihadapan Xiao.


Xiao Chen memperhatikan wajah Haruka, kemudian dia segera meminta kepada Haruka untuk mengendalikan angin.


Haruka terdiam sekejap kemudian dia teringat lagi, dahulu dia pernah mengendalikan angin, sampai dia mampu memiliki kekuatan pengendali angin.


"Hm, tunggu aku memiliki kekuatan itu mengapa kau memintaku untuk mengendalikannya, bukankah sudah dipastikan aku pasti mampu?!" ucap, Haruka dengan perasaan bingung.


"Iya, aku faham. Tetapi jika aku amati lagi kau ini belum mampu menguasai ilmu itu." Ucap, Xiao dengan tegas.


"Apa maksudmu?!" tanya Haruka dengan perasaan kesal.


Xiao Chen kemudian tersenyum tipis sambil menatap wajah Haruka yang tengah berdiri didepannya itu.


"Heh, jika kau mampu mungkin. Aku tidak akan mungkin membantumu pada saat itu, bukan?" ucap, Xiao dengan tegas.


Haruka kemudian terdiam saat mendengar ucapan dari Xiao Chen terhadap dirinya. Dengan segera Haruka mengangkat kedua tangannya lalu dia satukan, tak lama tangan kanannya ia angkat dengan segera jari telunjuk dan tengah dari kedua tangan bersatu membentuk sebuah tanda segitiga. Tak lama angin malam yang semula damai bergerak menjadi sedikit kencang, Xiao Chen memperhatikan wajah Haruka dengan tersenyum kepadanya.


Saat angin berhembus dengan cepat, Haruka mengambil sedikit angin yang segera membentuk lingkaran didalam kedua tangannya yang mencoba untuk mempertahankan angin itu.


Angin yang Haruka ambil dengan segera berubah warna menjadi biru, dengan diselimuti sinar dengan warna putih. Terlihat begitu jelas Haruka sudah mampu mengendalikannya, namun entah mengapa fikirannya menjadi kacau saat dia memikirkan kejadian didalam permainan yang Xiao Chen buat tentang Kichiro yang terlihat sedang disiksa oleh seseorang.


Tak lama, angin yang sudah ia dapatkan hilang dari pandangan dan membuat tubuhnya terpental dia terjatuh diatas rumput hijau sambil memuntahkan darah dari dalam mulutnya. Xiao Chen hanya terdiam menyaksikan hal itu, tampangnya begitu masam saat melihat Haruka yang tengah memikirkan hal lain saat bersama dengan dirinya.